Tak pernah jatuh cinta, normalkah?

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Tak pernah jatuh cinta, normalkah?

Seorang perempuan di usianya yang ke-24 mengaku belum pernah jatuh cinta. Perempuan yang lain, menikah di usia 32 tahun dan mempunyai dua anak tetapi juga mengaku belum pernah merasakan apa yang orang lain alami ketika jatuh cinta (termasuk kepada suaminya) di usianya yang menginjak 50 tahun.

Kedua perempuan di atas cukup cemerlang secara akademik, kuliah di kampus ternama dan berprofesi pengajar. Sejumlah teman urun komentar bahwa apa yang dialami dua perempuan tadi tidak normal, karena di luar kebiasaan. Orang umumnya akan merasakan jatuh cinta ketika masa pubertas, yang ditandai dengan berbunga-bunganya perasaan kepada lawan jenis.

Benarkah tak normal?

Pakar psikologi klinis AS Margareth Paul menyebut bahwa jatuh cinta sebetulnya sekadar keterpesonaan terhadap figur di luar diri. Karena diri tak lengkap, maka dia mencari sosok lain untuk membuatnya utuh.

Seorang yang tengah giat-giatnya belajar, dia akan mudah jatuh cinta kepada temannya yang pintar atau gurunya. Seorang perempuan yang merasa tidak aman secara finansial dan sosial akan jatuh cinta kepada pria tajir. Singkatnya, figur yang kepadanya orang jatuh cinta dapat dipetakan berdasarkan kebutuhan si pecinta.

Psikolog ternama lain, John Bradshaw (1933– 2016) dalam On The Family menyebutkan bahwa jatuh cinta selalu melibatkan erotisme. Orang yang jatuh cinta akan jatuh ke dalam samudera erotis (errotic ocean). Dengan kata lain, jatuh cinta sebenarnya tak bisa dilepaskan dari membuncahnya hasrat seksual. Ketika jatuh cinta, yang orang lebih banyak pikirkan adalah bagaimana bertemu dan berhubungan seksual, sebentuk kuasa hormon terhadap diri seseorang.

Pria yang buku-bukunya tentang keluarga menjadi salah satu acuan utama di AS itu menjelaskan bahwa jatuh cinta bisa menjadi tanda seseorang menjadi korban dari disfungsi keluarga. Semakin sering seseorang jatuh cinta, semakin besar pula kemungkinan kepribadiannya disfungsi akibat dari pola asuh yang tidak tepat di keluarga. Orang ini kecanduan jatuh cinta yang diekspresikan dengan berganti-ganti pasangan/kawin-cerai berulang-ulang. Semua pecandu selalu berangkat dari disfungsi keluarga, demikian tesis Bradshaw.

Yang fungsional adalah bina cinta (building love). “Jatuh” tentu ketidaksengajaan yang didorong dari luar kesadaran. Maka, orang menyebut jika (jatuh) cinta itu buta, karena tidak dilandasi oleh kesadaran yang digerakkan oleh nalar yang sehat. Jatuh cinta mengalir begitu saja, sebagai akibat jiwa tak mampu melakukan kontrol. Ketidakmampuan mengontrol diri adalah kecacatan.

Penjelasan tentang sistem jatuh cinta penting dikemukakan kepada setiap orang. Pasalnya, bagi para remaja, atas nama jatuh cinta, mereka kerap melakukan perbuatan tercela seperti perzinahan dan hamil di luar nikah yang dapat memburamkan masa depan. Bagi pasangan menikah, karena alasan jatuh cinta lagi, pernikahan dan keluarga menjadi berantakan. Jika tak dikontrol, jatuh cinta akan merusak struktur keluarga, lalu masyarakat dan negara.

Jatuh cinta itu obsesif dan cenderung posesif. Perasaan ini harus dikendalikan. Banyak orang yang tadinya menggebu-gebu bahwa calon pasanganya adalah pria/wanita idaman, sang pujaan hati. Enam bulan menikah, hubungan terasa hampa; perasaan jatuh cinta tiba-tiba lenyap. Mengapa ini terjadi?

Sekali lagi, karena jatuh cinta tidak pernah didorong oleh sebuah kesadaran. Karena liar, cinta seperti ini akan memantul sesukanya, mengena objek-objek tanpa kendali. Hari ini menyasar satu target, semester depan, ada target lain yang disasar, tak pernah berujung dan ajeg.

Manusia dengan kepribadian fungsional akan mengendalikan apa pun yang ada pada dirinya, termasuk cinta. Dia akan membina dan mengendalikan cinta bersama orang yang dia putuskan untuk dia cintai, bukan dikuasai hasrat seksual atas nama cinta. Pengendalian atas cinta hanya bisa terjadi ketika orang merasa lengkap dan bertanggung jawab terhadap kebutuhan dan kebahagiaan dirinya sendiri, tak perlu menggantungkan orang lain untuk membuatnya berterima sebagai manusia.

Orang yang tak pernah jatuh cinta bukan berarti tak memiliki cinta, bukan pula otomatis dia akan pandai membina cintanya (dalam pernikahan/rumah tangga). Baik orang yang pernah/merasakan jatuh cinta atau tidak/belum sama-sama harus belajar tentang bagaimana membangun cinta menambah kebahagiaan bersama.

Pernyataan Gatot soal pencatutan Jokowi untuk impor 5 ribu senjata ilegal membingungkan publik
Membangun kampung siaga bencana
Pemerintah harus tindak Partai Ponsel
Dua amalan utama di bulan Muharam
Menjadikan Indonesia kiblat maritim dunia
Fetching news ...