Feminin

Mengapa suami selalu ingin mencari yang lain?

8.4K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
07:06
11 JUL 2017
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Setiap orang mendamba pasangan yang setia, yang bakal bersama dalam keadaan apa pun sampai maut memisahkan. Namun, di tengah perjalanan pernikahan, tak jarang orang mengeluh bahwa pasangannya kerap melirik orang lain.

Melirik orang lain saat masih berstatus menikah tak hanya monopoli kaum pria semata. Meskipun judul pada tulisan ini untuk suami, tetapi pesannya umum, untuk semua pasangan yang selalu condong untuk mengundang orang lain dalam rumah tangganya.

Wati (33) bukan nama sebenarnya, misalnya, menceritakan bahwa suaminya mempunyai hubungan spesial dengan perempuan lain karena tak tahan godaan. Di media sosial dan di tempat lain, dia beberapa kali meluapkan perasaan, hingga ancaman, dengan mengatakan bahwa sesama perempuan seharusnya tahu diri dengan tidak mengganggu pria yang sudah beristri.

Dari pernikahannya, Wati sudah dikaruniai anak dan dia ingin sekuat tenaga mempertahankan mahligai pernikahan yang sudah dibina bersama suaminya selama lebih dari tujuh tahun. Dalam banyak kesempatan, Wati kerap fokus pada perempuan pesaing yang dicap sebagai wanita penggoda, hingga membuat kadar cinta suami kepadanya memudar bak mentari tertutup awan.

Wati tak sendiri, ada lagi Setya (29) yang dari pernikahannya sudah mendapat dua putra dan satu putri. Suaminya menikah lagi dengan seorang janda. Si suami menikahi janda satu anak tersebut dengan alasan ingin membantunya. Dia merasa kasihan terhadap si janda yang sebelumnya harus menjadi TKW di Arab. Perlu diketahui bahwa ekonomi keluarga Setya juga tidak tergolong mapan.

Bersama tiga anak dan suaminya, Setya tinggal di Jakarta di rumah kontrakan. Kini, kontrakan yang cukup sempit itu harus bertambah penghuni karena madu pengganggu rumahtangga Setya juga tinggal satu atap dengannya. Bahkan, si benalu kini tengah hamil.

Mengapa suami tak puas dengan satu istri?

Suami yang masih melirik perempuan lain ketika masih dalam status perkawinan bukan semata-mata karena istri kurang cantik dan menarik. Pada kasus pertama, Wati adalah perempuan yang cantik. Bahkan, menurut pengakuannya, teman-teman yang mengetahui pacar gelap suaminya menilai dia tidak lebih cantik daripada Wati.

Pria yang lirak-lirik perempuan lain juga bukan karena istri kurang taat atau baik. Setya sangat setia, baik dan taat. Bahkan, ketika suaminya bilang ingin kawin lagi, dia hanya bisa mengiyakan karena takut dianggap durhaka jika menentang keputusan suami. Sebelum menikah, yang mengejar-ngejar adalah suaminya, sampai membuat Setya luluh. Bak pemburu, begitu menikah, suaminya mengejar kijang lain untuk diburu.

Masalah utama suami melerok (saking meliriknya) perempuan lain bukan terletak pada kekurangan istri. Istri adalah manusia tempat salah dan lupa. Jika dicari-cari kelemahannya, pasti ada sederet kecacatan lazimnya manusia yang lain (termasuk pria). Masalahnya adalah pada pria itu sendiri.

Jika kita kelompokkan, ada 3 spesies orang yang berpotensi akan nyambet orang lain meskipun dia sudah mengikat janji berumahtangga:

1. Gen/turunan

Seorang pria dengan riwayat keluarga poligami atau pernah selingkuh kemungkinan besar akan berbuat serupa. Sebelum memutuskan menikah dengan seorang pria, ketahui dulu genogramnya.

Lacak sampai 5 turunan ke atas (ayah, kakek, buyut, canggah, wareng dan juga dari pihak perempuan, ibu, nenek dst). Jika sampai lima turunan sulit ditelusur, setidaknya sampai 3 turunan. Seorang anak, di belahan dunia mana pun, akan besar bersama mistifikasi yang dibangun oleh keluarganya. Selain ke atas, melacak turunan ke samping (saudara ayah, ibu, kakek, nenek dst) juga penting.

Orang dengan riwayat keluarga berpoligami/selingkuh, akan berpotensi melakukan hal serupa. Anak adalah peniru terbaik (mirrorring law), dan daftar orang yang paling mudah ditiru adalah anggota keluarganya.

Ketika melihat ayahnya kawin dua dan tampak hidup baik-baik saja, dia akan menirunya. Meniru di sini bisa karena memang setuju dan suka dengan konsep tersebut, atau justru berangkat dari kebencian terhadap ulah ayahnya. Ketika membenci kelakuan anggota keluarga, orang lebih cenderung akan melakukannya.

Apabila tak siap dengan poligami, sebaiknya urungkan niat menikah dengan calon yang ayahnya dan kakeknya  pandai mengkoleksi istri. Jika tak ingin diselingkuhi, pastikan calon suami/istri tak berangkat dari keluarga yang di dalamnya banyak anggota yang doyan selingkuh.

Bagaimana jika sudah telanjur?

Manusia bukan batu, bukan pula apel yang otomatis akan berbuah apel, tak mungkin berbuah durian. Manusia adalah makhluk paling dinamis: ayah-ibu bodoh bisa saja melahirkan seorang anak jenius. Gen beracun seperti itu tentu saja bisa diputus, terutama dengan penerimaan dan kesadaran.

Pastikan dulu bahwa calon/suami/istri memaafkan dan menerima anggota keluarganya yang dirasa telah berbuat tak patut. Selanjutnya, dia harus melakukan penyadaran dengan melakukan refleksi bahwa dirinya membawa gen beracun. Gen tak akan bisa dibuang, tapi bisa dikendalikan. Hasrat melirik dan mengoleksi pasangan adalah godaan yang harus dia putus.

Kesadaran bahwa godaan hidupnya adalah kesetiaan akan memberikannya perhatian tentang isu apa yang harus dia atasi. Pengetahuan tentang kelemahan diri dan musuh akan membuat seorang ksatria mudah memenangkan pertarungan.

2. Pecandu cinta dan seks

Menikah tak bisa dilepaskan dari hubungan seks. Oleh karena itu, seks akan selalu menjadi salah satu bahasan pokok dalam pernikahan.

Kecanduan seks lebih mudah dirasakan, terutama oleh pengidap. Jika bujang, Anda sudah termasuk kecanduan seks apabila melakukan masturbasi setiap hari (bahkan ada yang mengaku 3-5 kali sehari). Masturbasi yang normal adalah 1-2 kali seminggu. Sesuatu sudah menjadi candu ketika mood atau perasaannya dikendalikan objek candu tersebut.

Seorang pria (24) bercerita kepada penulis bahwa dia mengurungkan niat menjalin hubungan lebih serius ketika pacarnya mengaku kecanduan seks. Si pacar yang setahun lebih tua memintanya untuk menerima jika suatu saat dia butuh pria lain untuk memuaskan hasrat seksualnya. Keputusan pria tersebut adalah tepat: hindari pernikahan dengan pecandu apa pun.

Pecandu tidak pernah hadir di dalam dirinya. Raganya kosong, diisi dan dikendalikan oleh objek candu, bukan jiwanya. Akibatnya, perilakunya bakal liar dan sulit ditebak. Sebelum seseorang sembuh dari kecanduannya, sebaiknya tunda/urungkan menikah. Pecandu di sini tentu saja bisa pria maupun wanita.

Sementara itu, kecanduan cinta adalah kehausan untuk dicintai dan mencintai. Dia tidak bisa tenang jika tidak menemukan orang yang memperhatikannya atau orang yang akan dia berikan kasih sayang. Cari-cari perhatian dan sok memperhatikan orang lain adalah gejala kecanduan cinta.

Kecanduan cinta ini dalam beberapa kasus tampak baik, tetapi dalam pernikahan dapat merongrong. Orang yang kecanduan cinta biasanya tak mudah puas dengan satu cinta. Lazimnya pecandu, dia selalu membutuhkan dosis lebih. Baik pecandu seks maupun cinta sulit merasa puas dengan hanya satu pasangan.

3. Pengidap CPD dan NPD

Berhati-hatilah jika mempunyai pasangan pengidap gejala Caretaker Personality Disorder (CPD). Orang ini dari luar tampak sangat baik, kepada semua orang. Orang ini kecanduan untuk menyenangkan orang lain, meskipun dirinya (termasuk orang yang sudah dianggap bagian dari dirinya) dalam kesusahan.

Karena kepribadiannya yang ingin menyenangkan semua orang, dia tidak segan pula menghibur janda tetangga yang kesepian. Akibatnya, dia dapat memberikan pundaknya untuk memikul beban hidup si janda dengan menikahinya atau berselingkuh.

Pengidap cacat kepribadian pengemban, yakni memikul sesuatu yang tidak seharusnya menjadi bebannya, sering kacau memaknai tanggung jawab. Pengidap CPD tidak akan pernah berhenti untuk merasa kasihan dan bakal rela mengorbankan kepentingan diri dan (bila perlu) keluarga intinya karena sudah dianggap sebagai kepanjagan diri (extension of self). Orang tipe ini selalu berpeluang meninggalkan satu tanggung jawab guna mengemban tanggung jawab lainnya, secara serampangan.

Pengidap CPD yang telanjur dicap sebagai “orang baik” ini akan selalu membutuhkan orang lain untuk dikasihani, dan sikap ini akan memicu konflik dengan pasangan yang tidak siap melakukan hal serupa.

Yang lebih berbahaya dari cacat kepribadian tersebut adalah Narcissistic Personality Disorder (NPD), yang dalam bahasa sehari-hari disebut narsis saja. Tanda paling jelas dari pengidap NPD adalah muluk-muluk, kurang empatik, dan butuh perhatian lebih. Orang narsis akan sangat mementingkan dirinya, manipulatif dan banyak menuntut. Semua ciri pada pada orang narsis ini tak baik bagi pernikahan.

Orang narsis selalu yakin bahwa dirinya harus mendapat perlakuan spesial. Apabila dia merasa pasangan tidak memperlakukan demikian, dia akan mencari “kenyamanan” di tempat lain. Orang narsis, kepalanya selalu penuh dengan fantasi, tentang kehebatan diri dan kemungkinan diri akan selalu mendapatkan yang terbaik, termasuk pasangan lain jika putus hubungan dengan yang pertama.

Baik penderita CPD maupun NPD sulit disembuhkan karena mereka jarang merasa. Mereka sangat difensif dengan mengatakan bahwa dirinya normal dan baik-baik saja. Anda sendiri yang harus mampu mengenali gejala dua cacat kepribadian ini, dan lalu mencari penyembuhan. 

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
14 Juli 2017 | 07:01
Membuat genogram sebelum menikah