Feminin

Membuat genogram sebelum menikah

4.9K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
07:01
14 JUL 2017
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Ketika memutuskan menikah, pasangan suami-istri akan mengandaikan ikatan yang dijalin bakal selalu berliput kebahagiaan dan saling setia. Sayangnya, ketenangan batin dalam pernikahan seperti itu tidak pernah datang secara otomatis.

Apa yang menjadi cita-cita setiap orang selalu membutuhkan perencanaan terukur dan usaha serius, asas “bejo” atau keberuntungan tak bisa dijadikan andalan. Dalam pernikahan pun demikian, keberhasilannya harus didisain sebelumnya.

Salah satu disain kongkret untuk membuat pernikahan Anda fungsional guna menciptakan keluarga yang harmonis adalah dengan membuat genogram, baik milik Anda sendiri atau calon pasangan (jika sudah menikah, Anda tetap membutuhkannya sebagai bahan refleksi).

Genogram, dikenal juga dengan diagram atau peta keluarga, secara sederhana dapat kita katakan sebagai gambaran tentang hubungan kekerabatan yang dapat kita pakai untuk melihat faktor keturunan dan psikologis yang kemungkinan bakal mempengaruhi perilaku kita. Genogram sering dipakai di dunia medis untuk melacak riwayat kesehatan, termasuk juga dipakai dalam psikologi klinis. Mengingat pentingnya pernikahan dan keluarga, baik bagi kita untuk memanfaatkan genogram ini guna melihat potensi-potensi yang bakal terjadi selama menjalani proses perkawinan.

Buatlah genogram sampai 5 turunan ke atas (ayah, kakek, buyut, canggah, wareng dan juga dari pihak perempuan, ibu, nenek dst). Jika sampai lima turunan sulit ditelusur, setidaknya sampai 3 turunan. Lengkapi genogram dengan sejumlah info detil yang dapat mempengauhi kondisi keluarga  yang bakal Anda bina.

Info minimal yang harus ada dalam genogram seputar:

1) Isu pernikahan: cerai, poligami, selingkuh, kabur, hidup melajang, KDRT, hidup menjanda/menduda, anak dititipkan ke keluarga yangg lain, menikah tapi tinggal terpisah, LGBT, kecanduan, dan suami yang tak menafkahi;

2) Kesehatan: mati muda, keguguran, kanker, bipolar, autis, skizofrenia, imbisil, mandul, impotensi/frigid, talasemia, hemofilia, albino, buta warna, polidaktili, dan sebagainya;

3) Hukum: ada yang berbuat kriminal, dipenjara, bunuh diri, dsb;

4) Isu lain: seperti etnis, kematian mendadak dan isu lain yang anda kira bakal dapat mempengaruhi pernikahan Anda.

Mengapa penting mengetahui genogram?

Setiap orang pernah menjadi anak-anak; setiap anak adalah peniru ulung. Apa yang terjadi pada keluarganya pasti akan ditiru, entah itu yang baik atau pun yang buruk. Karena menjadi kebiasaan, sampai dewasa pun peniruan dari keluarga bakal sulit dihapus. Pikiran dan perasaan kita tidak seperti papan tulis yang mudah dibersihkan setelah dipakai.

Seorang ibu, Julia (32) berteriak-teriak memarahi anaknya. Tangannya tak lupa dipakai untuk memukul, menampar dan mencubit balita yang tak kebal dengan rasa sakit itu. Ketiga anaknya menjadi korban KDRT olehnya. Adalah fakta bahwa Julia dibesarkan dengan kekerasan, ibu Julia pun demikian, dan ibu serta bapak dari ibu Julia (kakeknya).

Seorang pria waktu muda gemar berzinah, ternyata salah satu dari anak perempuanya hamil di luar nikah, lalu beberapa cucunya juga ada yang hamil di luar nikah pula. Ini pun fakta.

Seorang pria (45) berkawin dengan beberapa perempuan (poligami). Ternyata ayahnya dulu meninggalkan sang istri untuk menikahi wanita lain dan lahirlah dia. Kakeknya dari pihak ibu pun menghimpun dua istri dalam satu waktu. Dia tampak tak dapat lari dari situasi tersebut meskipun secara akademik dia berpendidikan sangat tinggi.

Seorang anak sulung perempuan memiliki ayah yang tidak dapat diandalkan untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Dia lalu banting tulang sendiri untuk mencukupi kebutuhan sekolahnya, termasuk untuk keluarga. Ketika menikah, dia ternyata mendapatkan suami yang ternyata juga membutuhkan bantuan ekonomi seperti sang ayah.

Jika masih kekurangan contoh, amati perilaku orang yang bercerai, di antara keluarga dekatnya (ayah-ibu, nenek-kakek dll) pasti ada yang bercerai. Seorang artis mengomentari rencana perceraian anak perempuannya di media dengan mengatakan bahwa perceraian itu hal biasa. Dia mengatakan demikian, disadari atau tidak, tentu saja dengan melihat dirinya sendiri yang tiga kali berstatus janda.

Berbagai isu yang Anda alami di keluarga cenderung akan terulang di keluarga baru yang bakal Anda bina. Ada ungkapan kuno “darah itu lebih kental daripada air”. Keluarga selalu memiliki ikatan lebih kuat dari ikatan apa pun untuk mempengaruhi kita.

Sulitnya keluar dari spiral pendidikan keluarga adalah jika menyukai, kita otomatis akan menirunya; jika membenci, kita berpotensi untuk mencontohnya. Jadi, baik menyukai atau membenci kelakuan salah satu anggota keluarga, seseorang tetap berpotensi mengulangi siklus yang sudah terjadi.

Di sinilah pentingnya genogram. Akan tetapi, dalam sejumlah terapi, tak sedikit orang yang menolak untuk membuat peta keluarga dengan alasan tidak ingin membongkar aib atau luka-luka. Yang lain mengatakan keluarganya baik-baik saja. Dari mana tahu baik jika tidak dibuat dulu genogramnya?

Tujuan membuat genogram tentu bukan untuk hal negatif seperti itu, tetapi sebagai pengetahuan jangan-jangan kita membawa gen beracun. Yang baik di keluarga biasanya otomatis diturunkan, demikian pula yang buruk. Maka, yang buruk ini diungkap secara sadar untuk menjadi bahan refleksi.

Apabila sudah membuat genogram dan ternyata pada keluarga Anda penuh gen yang sekiranya dapat meracuni kehidupan rumah tangga Anda dengan pasangan, yang dapat Anda lakukan adalah dua cara: membatalkan pernikahan (jika belum menikah) atau menyembuhkan/memutus gen beracun tersebut.

Cara pertama cukup ekstrem, apalagi jika telanjur saling cinta. Maka, kita fokus saja membahas pilihan kedua. Setelah genogram dibuat, yang Anda butuhkan pertama kali adalah pengakuan jujur tentang apa yang terjadi. Kemudian, Anda harus melakukan penerimaan.

Ketika membuat genogram, gali informasi sedetil mungkin: misalnya, kondisi ekonomi keluarga ketika Anda dilahirkan; kelahiran Anda diharapkan atau tidak dst. Demikian juga pertanyaan-pertanyaan detil lain, yang bisa jadi sebelumnya terasa tabu untuk ditanyakan.

Dengan serius bertanya kepada keluarga, dalam proses pembuatan genogram, Anda biasanya akan menemukan fakta-fakta yang selama ini belum diceritakan. Pada tahap ini, Anda mungkin merasa geram, menolak, sedih, marah, benci dan sebagainya. Kendalikan perasaan Anda dan fokus pada tujuan awal, yakni ingin memutus “gen buruk” dari keluarga.

Akui dan terimalah apa yang sudah terjadi, sama seperti Anda menerima dan bersyukur dengan kulit dan wajah sendiri. Apabila tidak menerima warna kulit, misalnya, Anda justru akan dicekam ketidakberterimaan tersebut, dan ini akan mempengaruhi penilaian terhadap diri dan lingkungan. Demikian pula dengan gaya hidup atau laku buruk keluarga yang sudah terjadi, terima dan maafkan mereka. Dengan cara seperti itu, Anda akan lega, terbebas dari beban dan dapat fokus kepada membina masa depan yang lebih baik.

Demikian pula, terimalah informasi apa pun yang ada pada genogram pasangan Anda. Diskusikan dengan baik langkah-langkah apa yang akan Anda ambil untuk membuat pernikahan Anda nanti berbunga-bunga.

Untuk membuat pernikahan indah, orang harus belajar, sebagaimana Anda ingin membuat karir Anda di tempat kerja cemerlang. Tidak ada ceritanya menikah lantas otomatis bahagia, kecuali dalam dongeng. Hubungan pernikahan jelas lebih dalam dan kompleks ketimbang hubungan pertemanan atau pun relasi kerja. Maka, menikah seharusnya membutuhkan proses belajar yang lebih. Apabila tak bisa belajar secara mandiri, belajarlah dengan mentor, guru, teman, atau siapa saja yang Anda percaya dapat memberikan solusi.

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
14 Juli 2017 | 07:01
Membuat genogram sebelum menikah
Feminin