Mematok standar tinggi untuk calon pasangan

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Mematok standar tinggi untuk calon pasangan

OPINI – Tidak sedikit orang yang berpendapat jika menetapkan standar tinggi untuk calon pasangan hanya akan membuat seseorang telat menikah. Standar yang dimaksud dini sini bukan standar besaran uang panai, seserahan, atau sumbangan untuk pesta pernikahan, akan tetapi standar moral. Standar material yang sudah disebutkan tersebut tentu bukan hal esensial dalam pernikahan Anda, kecuali jika memang dipersoalkan.

Apabila hendak menikah, standar yang tinggi harus Anda letakkan di depan. Lebih baik Anda repot memilih calon pasangan ketimbang sulit menjalani pernikahan. Pasalnya, pernikahan yang rumit hanya akan menghasilkan keluarga yang pincang. Keluarga yang timpang akan menghasilkan kepribadian-kepribadian (terutama anak) yang cacat, dan seterusnya hingga mempengaruhi sebuah negara dan kondisi dunia.

Pasangan yang bahagia adalah mereka yang satu sama lain memiliki standar tinggi sejak awal, karena hal ini meminimalkan Anda mendapatkan pasangan dengan kualitas KW3.

Pakar keluarga John Mordecai Gottman mengatakan bahwa yang biasanya sukses dalam pernikahan adalah mereka yang tidak menerima perilaku buruk calon pasangan. Semakin rendah toleransi terhadap sikap buruk di awal sebuah hubungan, kebahagiaan pasangan akan semakin menurun.

Gottman yang sejak 1973 fokus mempelajari tentang “bencana dan kecakapan” dalam pernikahan mengklaim bahwa dia mampu memprediksi pasangan mana yang bakal bahagia atau tidak dengan akurasi 90 persen. Meskipun klaim Gottman bukan tanpa kritik, tetap ada baiknya kita jadikan pendapatnya sebagai acuan, yang menyebut mematok standar tinggi dalam pernikahan sebagai salah satu cara membuat hubungan Anda lebih bahagia.

Standar tinggi dalam hal ini adalah tidak mentolelir sejumlah sikap bawaan yang kelak berpotensi mengubur dalam-dalam harapan Anda dalam pernikahan. Jangan menunggu calon pasangan melakukan tindakan kriminal dan horor untuk memutuskan hubungan.

Kenali sikap-sikap orang yang bakal menjadi racun dalam pernikahan. Di antara kondisi calon pasangan yang dapat menjadi pertimbangan untuk Anda singkirkan adalah:

1. Pecandu; kecanduan apa pun sangat merugikan sebuah hubungan, terutama pernikahan, baik itu pecandu alkohol, narkoba, judi, bahkan pecandu kebenaran sekali pun. Para pecandu, jiwanya tak pernah hadir di raganya. Bagi pecandu, semua hal tidak ada artinya, termasuk Anda, kecuali objek candu yang kepadanya jiwanya terikat.

2. Masalah seksual; apabila calon terkonfirmasi memiliki masalah di ranjang, sebaiknya jangan berandai-andai Anda bisa hidup berumahtangga tanpa seks. Bagaimanapun, seks adalah salah satu kunci keharmonisan pernikahan dan keluarga. Jika keintiman di ranjang bermasalah, keharmonisan Anda dengan pasangan pasti tertumbuk juga.

3. Gaya komunikasi yang buruk; mendominasi pembicaraan dengan menutup rapat-rapat kesempatan orang lain untuk mengutarakan ide adalah partner yang sangat menyebalkan. Yang seperti ini biasanya pengidap cacat kepribadian narsisistik. Sebaliknya, orang yang tidak bisa diajak berkomunikasi karena terlampau pendiam atau gemar melakukan kekerasan verbal juga berbahaya. Gaya komunikasi yang buruk sering menjadi ancaman serius dalam pernikahan. Jadi, pertimbangkan masak-masak apakah Anda akan membina pernikahan jika calon ternyata tak bisa menjalin komunikasi dengan baik.

4. Tak melek keuangan; buta masalah keuangan di sini setidaknya terkait tiga hal, yakni calon tak tahu bagaimana mengelola keuangan, tak mengerti cara mencari uang, dan dia tak ingin orang lain tahu tentang uang yang dimilikinya. Kesehatan finansial adalah gizi dalam rumah tangga. Tak sedikit keluarga yang bubar karena masalah ini. Jadi, sebelum menikah, pastikan bagaimana Anda dan pasangan sudah sepakat dengan segala urusan menyangkut finansial.

5. Suka bohong; kemauan atau niat orang yang suka bohong tak bisa dilacak, apakah dia menikah dengan Anda karena tulus atau hanya ingin mencari sandaran hidup. Kebohongan juga kerap menjadi pintu masuk aneka kejahatan yang dapat merusak pernikahan, korupsi, selingkuh dan laku buruk lainnya. Orang yang suka bohong juga sering berubah menjadi pemarah untuk memanipulasi kebohongannya.

Apabila calon mengidap masalah di atas, dia berarti di bawah ukuran baku calon pasangan yang fungsional untuk sebuah pernikahan yang menentramkan, penuh cinta dan kasih, yang menjadi landasan sebuah mahligai rumah tangga. Sampai dia melakukan pertobatan, Anda tak perlu ragu untuk mengeliminasinya dalam daftar calon orang yang bakal mendampingi dalam pernikahan.

Dua amalan utama di bulan Muharam
Menjadikan Indonesia kiblat maritim dunia
4 golongan yang dicintai Allah
Menyatukan Soksi Golkar dengan Munas
Sektor ini raup Rp1.500 triliun per tahun, Anda tertarik?
Fetching news ...