Kesehatan

5 Klaim dan Fakta Seputar Kondom, HIV dan Seks Bebas

24.5K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
14:00
04 DES 2016
Editor
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

Rimanews – Setiap 1 Desember, warga dunia merayakan hari AIDS, yang di dalamnya hampir selalu disisipi kampanye penggunaan kondom. Kampanye seperti ini di banyak kota kerap diwarnai aksi bagi-bagi kondom secara gratis kepada masyarakat umum.

Kampanye penggunaan kondom tak selalu berterima di benak masyarakat: ada yang mendukung, ada pula yang menentang dengan alasan hanya akan mempromosikan seks bebas dan tak efektif mencegah penularan virus.

Menurut yang menentang, kampanye yang benar adalah tidak melakukan seks dengan selain pasangan resmi. Namun, apakah klaim seperti ini selalu menemukan kebenarannya? Kita akan lihat lima klaim dan fakta seputar kondom, dan seks AIDS berdasarkan pada riset di AS.

Sejak tahun 1998, pemerintah AS menggelontorkan dana lebih dari 1,5 miliar dolar (+-Rp19,5 triliun) untuk proyek pendidikan seks dengan mengkampanyekan kehidupan tanpa seks hingga menikah. Program ini menafikan pendidikan seks yang lebih komprehensif, seperti menggajarkan penggunaan kondom. Maka, seperti dikutip dari laman advocatesforyouth.org, hasilnya seperti ini:

1. Klaim: Riset menunjukkan bahwa pendidikan dengan melarang berhubungan seks akan menunda orang melakukannya dan mengurangi kehamilan remaja.

Fakta: Program pendidikan dengan melarang seks ternyata tidak efektif menunda orang melakukan aktivitas seksual atau mengurangi kehamilan remaja

2. Klaim: Program pendidikan tanpa seks sebelum nikah berperan penting dalam penurunan jumlah remaja hamil di luar nikah.

Fakta: Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggunaan alat kontrasepsi menurunkan 86 persen kehamilan perempuan dewasa antara tahun 1995-2002.

Kehamilan remaja di luar nikah pada 2005 turun menjadi 40,4 kelahiran per 1000 wanita yang berusia 15-19 tahun, terendah dalam 65 tahun. Namun, angka ini adalah yang tertinggi di antara negara-negara maju. Hampir 750 ribu remaja AS hamil di luar nikah tiap tahun, atau hampir 3 dari 10 remaja putri. Angka ini dua kali lipat lebih tinggi dibanding Kanada.

3. Klaim: sumpah keperawanan (yang diungkapkan secara publik), salah satu komponen program pendidikan tanpa seks pranikah, menunda aktivitas seksual remaja dan mencegah mereka dari penyakit menular seksual (PMS).

Fakta: Riset menunjukkan bahwa, dalam kondisi sangat terbatas, sumpah keperawanan mungkin membantu beberapa remaja untuk menunda hubungan seksual. Namun, satu penelitian mengungkapkan bahwa sumpah seperti itu hanya menunda selama 18 bulan; , penelitian juga mengungkap fakta bahwa 1/3 dari mereka melakukan hubungan seks tanpa kondom, dibandingkan mereka yang tidak melakukan sumpah keperawanan. Tingkat penyebaran PMS di antara yang melakukan sumpah dan tidak bersumpah ternyata tidak berbeda, karena mereka cenderung tidak menggunakan kondom.

4. Klaim: Kondom memiliki tingkat resiko kegagalan yang tinggi terhadap kehamilan yang tidak dikehendaki.

Fakta: Ketika pasangan melakukan hubungan seks menggunakan kondom secara benar, resiko kehamilan kurang dari 3%. Dalam satu tahun pasangan yang tidak menggunakan kondom, kemungkinan hamilnya 85%.

5. Klaim: Kondom tidak efektif mencegah penularan HIV dan PMS lainnya

Fakta: Kondom adalah alat kesehatan umum yang sangat efektif mencegah penularan infeksi HIV. Sebuah studi tentang HIV di Eropa menemukan fakta bahwa tidak ada penularan HIV kepada pasangan yang sebelumnya tidak terinfeksi; studi ini dilakukan terhada 124 pasangan yang menggunakan kondom setiap berhubungan seks. Namun, pasangan yang tidak menggunakan kondom, resiko penularannya 12 persen.

KATA KUNCI : , , , ,
Terbaru
23 Mei 2017 | 11:35
Makan sahur jangan berlebihan
23 Mei 2017 | 11:35
Makan sahur jangan berlebihan