Kesehatan

Mengenal Empat Jenis Narkoba di Indonesia dan Bahaya untuk Tubuh

3.7K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
17:00
19 DES 2016
Reporter
Sumber
Rimanews

Rimanews - BNN mengungkapkan, narkoba (narkotika dan obat-obatan terlarang) adalah bahan/zat yang dapat memengaruhi kondisi kejiwaan/psikologi (pikiran, perasaan dan perilaku) seseorang, serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologi.

Narkoba terbagi terhadap empat kelompok yaitu kelompok Cannabis, Amphetamine Type Stimulants (ATS), Opiad dan Tranquilizer.

Berikut, beberapa jenis narkoba yang paling sering dikonsumsi di Indonesia menurut survei BNN, Hello Sehat:

1. Ganja

Marijuana  adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan bunga, batang, biji dan daun kering dari tanaman ganja, Cannabis sativa, tanaman yang mengandung zat pengubah akal sehat delta-9 tetrahydrocannabiol (THC) dan senyawa lain yang terkait. Marijuana adalah obat terlarang yang paling umum digunakan di seluruh dunia termasuk Indonesia. Hasil survey oleh BNN memperlihatkan marijuana dengan konsumen tertinggi yaitu, pekerja sebanyak 956.002 orang, pelajar sebanyak 565.598 orang dan rumah tangga sebanyak 460.039 orang.
Orang-orang menggunakan ganja kering/marijuana dengan memasukannya ke dalam lintingan rokok atau ke dalam pipa (bong). Mereka juga terkadang mengosongkan tembakau pada rokok dan diisi dengan marijuana. Untuk menghindari asap yang dihasilkan, banyak orang yang menggunakan alat penguap (vaporizer) yang juga sering disebut bong. Alat 

dapat menarik zat-zat aktif, termasuk THC dari ganja dan mengumpulkan uap mereka di unit penyimpanan. Kemudian seseorang akan menghirup uap tersebut, bukan menghirup asap.

Efek Ganja

Perubahan indera, perubahan kesadaran terhadap waktu, perubahan mood, gerakan tubuh terganggu, kesulitan berpikir dan memecahkan masalah dan memori terganggu.

Selain itu, marijuana juga memengaruhi perkembangan otak. Ketika seorang remaja menggunakan ganja, maka ia akan merasakan penurunan daya pikir, memori, dan fungsi belajar serta mempengaruhi kinerja otak. Selain itu, ganja juga dapat menyebabkan efek fisik dan mental seperti gangguan pernapasan, meningkatkan denyut jantung, masalah perkembangan anak saat dan setelah kehamilan dan halusinasi.

2. Shabu

Methamphetamine atau yang biasa kita kenal sebagai shabu adalah stimultan obat yang sangat adiktif, yang secara kimiawi mirip dengan amfetamine. Bentuknya putih, tidak berbau, pahit dan seperti kristal. Hasil survey BNN memperlihatkan shabu sebagai narkoba peringkat 2 yang paling sering dikonsumsi oleh masyarakat, yaitu 419.448 orang pekerja, 151.548 orang pelajar dan 189.799 orang rumah tangga.

Shabu dapat dikonsumsi dengan cara dimakan, dimasukan ke dalam rokok, dihisap dan dilarutkan dengan air atau alkohol, lalu disuntikan ke tubuh. Merokok atau menyuntikan shabu dapat memberikan efek yang sangat cepat pada otak dan akan menghasilkan euforia yang intens. Karena euforia tersebut dapat memudar dengan cepat, maka pengguna sering memakainya berulang kali.

Efek Shabu

Insomnia, hilangnya nafsu makan, euphoria dan sikap terburu-buru, peningkatan respirasi, denyut jantung jantung tidak teratur dan hipertermia. Penyalahgunaan shabu dalam jangka panjang dapat menyebabkan banyak efek negatif seperti kecanduan kronis dan disertai dengan perubahan fungsional dan molekul di dalam otak. Toleransi efek kegembiraan pada shabu akan berkembang ketika digunakan berulang kali.

Para pengguna akan selalu mengambil dosis yang lebih tinggi untuk mendapatkan efek yang diinginkan, sehingga hidup mereka akan terikat dengan obat tersebut. Ketika tidak mengonsumsi shabu, mereka akan mendapatkan gejala depresi, cemas, lelah, dan keinginan kuat untuk mengonsumsi obat.

3. Ekstasi

Ekstasi adalah nama umum untuk 3,4-methylenedioxymethamphetamine (MDMA). Ekstasi adalah bahan kimia sintetis dengan efek kompleks yang meniru stimultan shabu dan senyawa halusinogen. Pada awalnya ekstasi dipatenkan oleh perusahaan farmasi Jerman, Merck, pada tahun 1910 dan digunakan sebagai obat untuk meningkatkan mood dan diet.

Namun, pada tahun 1985, AS Drug Enforcement (DEA) melarang penggunaan obat ini karena potensinya sebagai agen perusak otak. Menurut BNN, shabu merupakan jenis Narkoba peringkat 3 yang paling sering dikonsumsi dengan jumlah pengguna sebanyak 302.444 orang pekerja, 140.614 orang rumah tangga dan 106.704 orang pelajar.

Efek Ekstasi

Efek dari ekstasi ini sendiri adalah menurunnya nafsu makan, insomnia, pusing, demam, keram otot, tremor, berkeringat dingin, dan peningkatan pada tekanan darah. Para peneliti percaya bahwa ekstasi dapat menyebabkan kebocoran serotonin di otak selama penggunaannya.

Tanpa berfungsinya neurotransmitter, kondisi seperti depresi, kecemasan, insomnia dan kehilangan memori akan lebih mungkin terjadi. Kondisi ini akan dapat muncul dalam waktu yang lama, bahkan setelah penggunaan telah berakhir. 

4. Heroin

Heroin atau putau adalah narkoba sangat adiktif yang diproses dari morfin, yaitu zat alami yang dari ekstrak benih biji tanaman poppy varietas tertentu. Heroin biasa dijual dengan berbentuk serbuk putih atau kecoklatan yang telah dicampur dengan gula, pati, susu bubuk atau kina.

Heroin yang murni berbentuk serbuk putih yang sangat pahit dan biasanya berasal dari Amerika Selatan. Ada juga black tar heroin yang bentuknya lengket dan keras, biasanya diproduksi di Meksiko dan dijual di Amerika di bagian barat sungai Mississippi 3.

Warna gelap berasal dari hasil campuran antara heroin dan tar hitam sisa dari metode pengolahan minyak mentah. Menurut hasil survey BNN, Heroin merupakan jenis narkoba peringkat ke-4 yang paling banyak dikonsumsi, dengan jumlah pengguna sebanyak 33.358 orang rumah tangga, 32.782 orang pekerja dan 29.838 orang pelajar.

Heroin biasanya digunakan dengan dihisap, dimasukkan ke dalam rokok atau dicairkan dengan memanaskannya di atas sendok lalu disuntikkan ke pembuluh darah, otot, atau di bawah kulit.

Efek Heroin

Setelah heroin masuk ke dalam otak, ia akan berubah menjadi morfin dan mengikat dengan cepat ke reseptor opiad. Pengguna biasanya merasakan sensasi kegembiraan secara terburu-buru. Intensitas kegembiraan tergantung dari banyaknya jumlah obat yang dikonsumsi.

Penggunaan heroin dapat merubah struktur fisik dan fisiologi otak yang dapat menciptakan ketidakseimbangan jangka panjang dalam sistem saraf dan hormon. Peneliti menunjukkan beberapa kerusakan otak putih akibat heroin, yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan, pengaturan perilaku dan tanggapan pada situasi stres. 

KATA KUNCI : , ,