Kesehatan

Cegah kanker serviks dengan vaksin HPV

2.1K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
10:01
10 JAN 2017
Reporter
Chaerunnisa
Sumber
Rimanews

Rimanews - Kanker serviks merupakan keganasan yang terjadi di bagian leher rahim wanita, atau daerah di antara vagina dan kantong rahim. Untuk mencegah mengidap salah satu penyakit mematikan ini, Anda dapat melakukannya dengan vaksin Human Papilloma Virus  (HPV). 

Data dari Departemen Kesehatan menunjukkan, kasus kanker serviks merupakan keganasan tertinggi kedua pada wanita di Indonesia setelah kanker payudara. Kanker serviks disebabkan oleh virus HPV yang memiliki lebih dari 100 strain virus. Virus HPV yang menjadi penyebab terbanyak kanker serviks adalah virus HPV strain 16 dan 18. Saat ini salah satu pencegahan kanker serviks adalah dengan menggunakan vaksin HPV.

Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai vaksin HPV seperti disarikan Hello Sehat:

Anak-anak perlu mendapat vaksin HPV sejak usia 11 tahun

Para ahli mengatakan bahwa semakin muda seseorang mendapatkan vaksin ini, tingkat efektivitas kerja vaksin ini akan semakin tinggi. Anak perempuan disarankan mendapatkan vaksin ini mulai usia 11 tahun. Pada laki-laki, vaksin ini bisa diberikan mulai usia 11 tahun hingga 26 tahun.

Dengan mendapatkan vaksin ini, selain melindungi diri dari strain virus HPV yang menyebabkan penyakit kutil kelamin, laki-laki juga dapat menurunkan risiko penularan strain virus HPV penyebab kanker serviks pada pasangan seksualnya di kemudian hari.

Vaksin HPV harus didapat sebelum mulai aktif secara seksual

Vaksin HPV paling ideal diberikan pada mereka yang belum aktif secara seksual karena penularan virus ini terjadi melalui kontak seksual. Semua orang dewasa yang aktif secara seksual yang belum pernah mendapatkan vaksin HPV sebaiknya divaksinasi.

Wanita yang sudah aktif secara seksual harus melakukan paptest terlebih dahulu sebelum menggunakan vaksin HPV. Pap test adalah pemeriksaan sel lapisan leher rahim. Dari pemeriksaan ini bisa diketahui apakah kondisi leher rahim Anda masih normal atau sudah terjadi perubahan sel yang mengindikasikan proses keganasan.

Jika hasil pap test normal, Anda boleh langsung menggunakan vaksin HPV. Jika hasilnya tidak normal, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan (biopsi/ pemeriksaan invasif lain) untuk memastikan terjadi tidaknya proses keganasan.

Bagaimana prosedur pemberian vaksin HPV?

Vaksin HPV yang tersedia di Indonesia adalah Gardasil dan Cervarix. Gardasil melindungi tubuh dari infeksi virus HPV strain 6, 11, 16, dan 18. Virus HPV strain 6 dan 11 adalah penyebab utama penyakit kutil kelamin. Cervarix melindungi tubuh dari infeksi virus HPV strain 16 dan 18. Vaksin ini diberikan dengan suntikan di lengan atas.

Vaksin HPV perlu diberikan tiga kali dalam jangka waktu 6 bulan. Vaksin HPV kedua diberikan satu sampai dua bulan setelah vaksin HPV pertama. Vaksin HPV ketiga diberikan enam bulan setelah vaksin HPV pertama.

Sebagai contoh, jika Anda mendapatkan vaksin HPV pertama pada 1 Juni, jadwal pemberian vaksin HPV kedua adalah minimal pada 1 Juli atau 1 Agustus, dan jadwal pemberian vaksin HPV ketiga adalah minimal pada 1 Desember. Saat ini masih dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai apakah perlu ada pengulangan pemberian vaksin ini setelah beberapa tahun.

Efek samping yang mungkin terjadi setelah mendapat vaksin HPV

Efek samping yang terjadi setelah pemberian vaksin ini pada umumnya ringan, berupa nyeri dan kemerahan pada daerah bekas suntikan. Efek samping yang berat yang tidak umum tapi bisa terjadi yaitu pingsan dan pembekuan darah balik.

Untuk menghindari pingsan, duduklah selama minimal 15 menit setelah pemberian vaksin. Pembekuan darah balik biasanya terjadi pada pasien yang mengonsumsi obat kontrasepsi oral.
 

Berita Terkait