Kesehatan

Pahami pola konsumsi makanan & minuman cegah penyakit tidak menular

2.6K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
12:35
16 MAR 2017
Reporter
Chaerunnisa
Sumber
Rimanews

Rimanews – Tubuh membutuhkan asupan kalori dari berbagai sumber makanan dan minuman untuk beraktivitas. Ketersediaan bahan pangan dan berbagai jenis pilihan makanan yang ada tidak hanya memberikan dampak positif terhadap status gizi, namun pemilihan makanan tidak tepat juga memberikan efek buruk bagi kesehatan.

Pengetahuan masyarakat dalam memilih makanan menjadi makanan yang memiliki kandungan gizi tinggi masih kurang memadai.

Konsumsi makanan tinggi garam, lemak dan gula cukup tinggi pada masyarakat Indonesia. Pola konsumsi seperti ini, diikuti dengan gaya hidup tidak aktif, berkaitan erat dengan peningkatan risiko Penyakit Tidak Menular seperti obesitas, diabetes, dan penyakit kardiovaskular.

Melihat pola konsumsi makanan dan minuman masyarakat di Indonesia, Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) DKI Jakarta merasa perlu mulai menfasilitasi diskusi-diskusi berkaitan dengan informasi seputar kalori mengenai pola konsumsi makanan dan minuman masyarakat di wilayah perkotaan Indonesia dan hubungannya terhadap Penyakit Tidak Menular seperti pada hari ini dengan mengundang narasumber Ir. Helda Khusun, MSc, PhD, salah seorang peneliti di SEAMEO-REFCON.

"Indonesia saat ini mengalami masalah gizi ganda (double malnutrition), yaitu masalah gizi kurang (stunting/pendek, kurus), dan gizi lebih yang meningkatkan risiko penyebab terjadinya PTM yang semakin meningkat yaitu sekitar 57 persen (data
Kemenkes 2015)," kata Dr. Elvina Karyadi, MSc, PhD, SpGK, Ketua PDGMI DKI Jakarta. 

Kita perlu memahami bahwa kita semua butuh asupan zat gizi yang seimbang. Setiap individu memiliki kebutuhan kalori yang beragam dari kisaran
1500-2000 kalori per hari. Banyak penduduk Indonesia yang mengonsumsi kalori melebihi kebutuhan per hari nya dan memiliki gaya hidup tidak aktif sehingga mengakibatkan kalori yang masuk ke dalam tubuh tidak seimbang dengan yang terbakar aktivitas atau gerak tubuh dan dapat menyebabkan penyakit tidak menular seperti obesitas, hipertensi dan diabetes.

Merujuk pada Calorie Intake and Physical Study berdasarkan hasil studi Ir. Helda Khusun, MSc, PhD dengan menggunakan 864 sampel di Indonesia, berusia 18-45 tahun di Jakarta Timur, Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan, asupan kalori orang dewasa di Indonesia 51.4 persen disumbang oleh karbohidrat, 14.5 persen oleh protein dan yang cukup mengkhawatirkan adalah 34,2 persen asupan kalori berasal dari lemak.

Kontribusi lemak terhadap asupan kalori harian rata-rata sudah mencapai batas atas rekomendasi. Selain itu, sepertiga dari sampel mengonsumsi gula tambahan lebih dari 25 gram per hari. Jika dilihat dari kelompok makanan, kontributor utama asupan kalori rata-rata orang dewasa di wilayah perkotaan Indonesia masih didominasi oleh makanan berbahan dasar nasi, yang secara rata-rata menyumbang 32,9 persen asupan kalori per hari, diikuti oleh daging 10,6 persen. 

Kelompok makanan lain, yaitu mie, ikan dan minuman berperisa manis menyumbang kurang dari 10 persen asupan kalori rata-rata per hari, sementara kelompok makanan lainnya menyumbang kurang dari lima persen.

Di pihak lain, survei menunjukkan rendahnya tingkat aktivitas fisik orang dewasa di perkotaan, yaitu hanya 28 persen yang melakukan kegiatan fisik yang aktif. Sebanyak 59,4 persen dikategorikan memiliki aktivitas sedentari yang tinggi (aktivitas sedentari adalah kegiatan yang tidak berpindah tempat, dalam survei diindikasikan dengan menonton TV atau menggunakan komputer lebih dari = enam jam/hari).

Faktor risiko obesitas meliputi berbagai faktor termasuk usia, jenis kelamin, status perkawinan, dll yang kesemuanya bermuara pada faktor gaya hidup yaitu asupan makanan dan aktifitas fisik. Jadi kesimpulan yang menyatakan bahwa faktor risiko obesitas disebabkan oleh satu faktor tunggal tidak tepat. Pencegahan obesitas dan penyakit tidak menular harus mempertimbangkan perubahan gaya hidup secara seimbang.

Asupan makanan, khususnya makanan berkalori tinggi seperti berbagai makanan olahan mie, keripik, teh manis dan minuman lain yang mengandung gula berhubungan dengan risiko obesitas.

Minuman yang mengandung gula menyumbang 6,5 persen terhadap asupan kalori rata-rata populasi orang di Indonesia yang sebagian besar sumbernya berasal dari gula yang ditambahkan pada teh dan kopi. Faktor risiko lain pada masyarakat perkotaan adalah aktifitas fisik yang rendah yang ditunjukkan dengan aktifitas sedentari dan kurangnya kegiatan olahraga. Survei ini menunjukkan aktifitas fisik berhubungan secara bermakna dengan risiko obesitas.

Orang dewasa laki-laki yang menonton TV atau bekerja dengan komputer lebih dari enam jam per hari berisiko 1,5 kali lebih besar untuk menjadi gemuk (obesitas) dibandingkan dengan yang kurang dari itu. Pada wanita, kurangnya aktifitas fisik yang ditandai dengan tidak pernah melakukan aktifitas fisik yang tinggi (misalnya dengan olahraga) berisiko 2,7-tiga kali lebih besar untuk menjadi gemuk (obesitas) dibandingkan yang sering berolahraga.

"Merujuk dari kajian studi narasumber kami dalam diskusi ini yaitu Ir. Helda Khusun, MSc, PhD, kita dapat menarik kesimpulan bahwa untuk mencegah obesitas kami menyarankan pentingnya memonitor keseimbangan asupan dan keluaran kalori dengan menurunkan konsumsi makanan tinggi lemak dan tinggi gula serta dengan perubahan perilaku yang lebih aktif, seperti mengurangi kegiatan diam di tempat dan menambah kegiatan bergerak seperti olahraga untuk meningkatkan pembakaran kalori," tutup Dr. Elvina Karyadi, MSc, PhD, SpGK.

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
26 Maret 2017 | 11:53
UGM bagikan 1.000 handphone
22 Maret 2017 | 20:01
Jangan lakukan ini setelah makan!
19 Maret 2017 | 03:00
Gejala awal depresi
16 Maret 2017 | 22:00
Kena influenza? Istirahatlah!
10 Maret 2017 | 21:00
Alasan garuk-garuk jadi menular
10 Maret 2017 | 17:11
Jangan spelekan pegal-pegal
Kesehatan