Kesehatan

Bertopeng lemak untuk sembunyikan luka perasaan

8.7K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:50
26 APR 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hardiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Sejumlah orang mengira bahwa timbunan lemak yang bergelayut di tubuh adalah tanda kemakmuran dan kebahagiaan. Orang mengira jika nafsu makan yang tinggi diiringi dengan kenaikan angka-angka dalam timbangan membuktikan bahwa diri terbebas dari siksa batin.

Padahal, sebaliknya, orang yang overdosis lemak karena nafsu makan yang tak terkontrol adalah bukti bahwa jiwanya sedang terluka. Jiwanya tidak hadir di dalam tubuhnya, sehingga dia memasukkan asupan makan bukan karena kebutuhannya, atau karena lapar, tapi karena keinginan.

Orang yang tidak bisa mengendalikan keinginannya hanya membuktikan bahwa dia tidak mampu merasakan apa yang dibutuhkan oleh tubuhnya. Gejala semacam ini terjadi pada para pecandu lain, seperti pecandu seks (dia melakukan aktivitas seksual bukan karena sedang horny tetapi karena ingin sekadar memuaskan keinginan), atau pecandu gadget (dia hiperaktif di media sosial atau game bukan karena kebutuhan, tetapi karena terikat pada fantasi-fantasi).

Kegemukan jelas terjadi karena tidak berimbangnya aktivitas fisik dan asupan makanan, sebagai hasil dari kepribadian timpang—pribadi yang fungsional akan hidup secara seimbang. Anak-anak yang terabaiakan cenderung mencari kompensasi dengan makan; sebaliknya, orang tua yang tidak terlalu peduli pada anak akan memberikan makanan untuk membuatnya tenang, sehingga dia tidak perlu repot-repot mengajak bermain dan sebagainya—merawat piyik tentu lebih mudah daripada merawat bayi, karena anak ayam hanya cukup diberikan makan dan perlu berbagi perasaan.

Orang yang depresi, baik karena putus cinta atau kehilangan keintiman dengan pasangan dan lan sebagainya cenderung mudah melampiaskannya dengan makanan dengan harapan mengalihkan deraan luka yang diderita.

Cara seperti di atas adalah bagian dari objektivikasi terhadap tubuh. Tubuhnya diperalat untuk membuatnya senang. Objektivikasi mulut dan perut, secara esensial, sama dengan objektivikasi terhadap kelamin (dengan masturbasi atau seks); yang membedakan hanya konsekswensi hukumnya. Objektivikasi ketubuhan terjadi ketika seseorang tidak merasa memiliki atau bersama dengan tubuhnya. Demikian yang terjadi pada para pekerja seks dan juga pelanggannya.

Oleh karena itu, mengukur kebahagiaan dengan menumpuknya timbunan lemak di tubuh tentu merupakan cacat cara pandang. Hidup sehat dengan berat tubuh seimbang adalah bukti bahwa seseorang telah normal menjadi manusia. Bedakan antara ayam kampung dengan ayam potong, mana di antara jenis ayam ini yang normal?

Obesitas bagian dari masalah

Organisasi kesehatan Amerika Centers for Disease Control (CDC) menyebut 1 dari 10 orang di negara itu menderita depresi setiap tahun, sekaligus mengkonfirmasi bahwa 70 juta warga AS mengalami obesitas.

Dalam artikel berjudul “Depression and Obesity”, yang dimuat di laman Everydayhealth.com, Dennis Thompson, Jr mengatakan bahwa para peneliti satu suara bahwa depresi dan obesitas adalah dua hal yang saling terkait: depresi memicu kegemukan, dan kegemukan mencuatkan depresi, dengan keterkaitan yang destruktif terhadap kepribadian seseorang.

Riset menyimpulkan bahwa orang dengan obesitas mengalami cacat suasana hati (mood disorder) 25% lebih besar ketimbang mereka yang memiliki berat normal. Penelitian di Cincinnati, AS, menemukan bahwa remaja dengan gejala depresi akan menggemuk di tahun berikutnya. Hal yang sama juga terjadi pada anak-anak.

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
23 Mei 2017 | 11:35
Makan sahur jangan berlebihan