Kesehatan

Iklan 'Ngerokok Cuma Bakar Uang' mejeng di bus Transjakarta

5.4K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
13:37
06 JUN 2017
Reporter
Muhammad Adam Isnan
Sumber
Rimanews

Rimanews - Mulai hari ini, iklan layanan masyarakat (ILM) "Ngerokok Cuma Bakar Uang" mejeng di belasan bus Transjakarta. Iklan ini diharapkan dapat semakin menyadarkan masyarakat akan bahaya merokok, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi.

"Dengan mengharap ridho dari Allah SWT, dan dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, iklan layanan masyarakat pada Bus Transjakarta dengan tema 'Ngerokok Cuma Bakar Uang' secara resmi saya luncurkan," kata Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Saefullah saat acara peluncuran di Pendopo Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (06/06/2017).

"Saya rasa ini efeknya akan sangat besar dan luas, karena seluruh masyarakat yang melihat Bus Transjakarta ini akan membacanya," tambah Saefullah. "Pesan-pesannya juga cukup efektif, karena di semua sisi ada, di kiri, kanan, belakang. Dompetnya jadi kosong kalau merokok, jadi itu pesan utamanya. Merokok sama dengan membakar uang sehingga dompetnya jadi kosong."

Dia meminta masyarakat lebih bijak dalam menggunakan uang. Daripada dihabiskan untuk membeli rokok, lebih baik digunakan untuk membiayai pendidikan anak atau meningkatkan kualitas asupan gizi keluarga. Jika pendidikan anak tinggi, dan tubuh sehat, maka suatu saat mereka mungkin dapat meningkatkan kondisi sosial ekonomi keluarga, jelas Saefullah.

Dalam kesempatan itu, dia juga mengucapkan terima kasih kepada pegiat antirokok dan antitembakau Indonesia, khususnya di DKI, dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Transjakarta.

"Jadi saya harap hal semacam ini untuk bisa diteruskan, karena ini merupakan upaya yang sangat baik, dan masyarakat harus mencermati dan belajar dari hasil sosialisasi iklan layanan masyarakat tersebut," tuturnya.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Indonesia masih mencapai 11,13 persen atau sekitar 28,5 juta (September 2015). Pada waktu yang sama, rokok kretek filter menjadi komoditi nomor dua tertinggi yang memberi pengaruh besar terhadap garis kemiskinan setelah beras, yaitu masing-masing sekitar 8 persen, baik di perkotaan maupun pedesaan.

Sementara Badan Layanan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menyatakan bahwa beban biaya pelayanan kesehatan penyakit tidak menular (PTM) terbesar 2015 adalah penyakit​ utama penyebab kematian, seperti jantung, gagal ginjal kronik, kanker, dan stroke yang mencapai 23,9 persen dari total biaya pelayanan kesehatan atau sekitar 13,6 triliun rupiah. Sedangkan konsumsi rokok merupakan faktor utama risiko penyakit penyebab kematian tersebut. 

Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LDUI) juga mengungkapkan hasil riset yang menyatakan bahwa konsumsi rokok pada keluarga miskin sangat besar, mencapai 14 kali biaya konsumsi daging, 11 kali biaya kesehatan, dan tujuh kali biaya pendidikan. Hal tersebut menyebabkan konsumsi rokok dapat menjadi beban yang sangat besar dalam ekonomi, baik secara makro maupun mikro terutama pada penduduk miskin.

Bekerja sama dengan PT Transjakarta, Komnas Pengendalian Tembakau menciptakan ILM dengan jargon "Ngerokok Cuma Bakar Uang" yang digambarkan dengan dompet kosong di badan Bus TransJakarta. Selain itu, ILM bertema ekonomi ini juga disematkan di kaca belakang pada 10 bus reguler lain dengan harapan dapat menginspirasi masyarakat untuk berhenti mengonsumsi rokok.

Ketua Komnas Pengendalian Tembakau Prijo Sidipratomo menegaskan, rokok bukan hanya merugikan kesehatan, tapi juga merugikan dari sisi ekonomi.

"Iklan layanan masyarakat yang kami buat ini untuk mengingatkan masyarakat bahwa merokok itu sangat sia-sia. Masyarakat Indonesia harus pandai memilih prioritas dalam hidupnya, sehingga bukannya memilih membelanjakan uang untuk rokok, tapi untuk hal-hal yang jauh lebih bermanfaat, seperti perbaikan gizi keluarga, memilih pendidikan yang bagus untuk anaknya, dan sebagainya," kata Prijo.

Senada, Direktur PT Transjakarta Budi Kaliwono juga mendukung penuh ILM soal bahaya rokok tersebut.

"Kami sangat setuju dengan kampanye semacam ini. Masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jakarta, harus bisa mentas dari garis kemiskinan. Kalau konsumsi rokok cuma membuat kita bertambah miskin, kenapa harus merokok ?" kata Budi.

Budi menambahkan, sudah ada 21 bus yang memiliki ILM seperti ini.

"Jadi kita punya 21 bus, satu yang bus panjang di koridor sembilan, dan kita juga punya 10 yang bus pink khusus wanita, bahkan dengan sangat kreatif, stikernya itu kartun, 10 lagi kita nanti menyebar ke seluruh koridor, jadi total 21. Dan kalau untuk penambahan, nanti lah, kita lihat efektifitasnya​, karena ini pesan masyarakat, ya kita nanti akan lihat, tapi kami positif lah," ujar Budi.

KATA KUNCI : , , , ,
Kesehatan