Menyikapi patung dewa perang

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Menyikapi patung dewa perang

Patung Dewa Khong Co di Tuban menuai kontroversi. Sebagian orang memprotes patung tersebut dan minta untuk dihancurkan; padahal, menurut sebagian yang lain, patung tersebut semustinya menjadi simbol toleransi di Indonesia.

Patung dewa perang yang ukurannya memecahkan rekor Muri tersebut saat ini ditutup kain putih, atas masukan bupati, guna meredakan situasi. Kisruh ini bermula dari perizinan IMB (izin mendirikan bangunan) yang belum dimiliki oleh pihak Kelenteng Kwan Sing Bio sebagai pemilik.

Kelenteng sudah mengajukan izin pada April 2017. Akan tetapi, Pemerintah Kabupaten Tuban, Jawa Timur, belum mengeluarkan IMB karena kepengurusan kelenteng tempat berdirinya patung sedang dalam sengketa, terkait keabsahan antara pengurus kelenteng yang lama dan baru. Pengurus kelenteng lama masih mengajukan kasasi terkait kasus gugatan perdata di pengadilan.

Pihak kelenteng membangun patung setinggi 30,2 meter itu hanya berbekal persetujuan warga sekitar, dengan bukti tanda tangan 300 warga. Warga Tuban sendiri relatif tenang. Demonstrasi lebih banyak dilakukan di tempat lain, seperti Surabaya dan terutama di media sosial. Bahkan, pihak penolak mengajukan petisi di media sosial lewat laman change.org, yang ditujukan ke DPRD Jawa Timur, bupati dan DPRD Tuban, Kemendagri dan Presiden.

Bagaimana menyikapinya?

Atas viralnya kabar tersebut, sejumlah tokoh ikut memberikan reaksi di akun Facebook mereka masing-masing. Aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) Saidiman Ahmad menilai patung yang dibuat oleh pemeluk agama lain seharusnya tidak akan membuat iman sendiri luntur. Oleh karena itu, patung tersebut tidak perlu dipermasalahkan.

“Jadi ceritanya iman lo bakalan rusak kalo di halaman orang lain ada patung? Kalopun iman lo benar-benar rusak dan hancur lebur berkeping-keping bahkan jadi abu yang tertiup angin karena melihat patung itu, ya itu masalah lo sendiri, itu derita lo sendiri, napa punya orang mo lo timpuk? Kata anak gua, lo tuh BIKEZ, bikin kezel,” katanya.

Tokoh JIL yang lain, Abdul Moqsith Ghazali, menekankan supaya para penolak lebih introspektif terhadap diri sendiri ketimbang terlalu mengurusi keimanan orang lain.

“Patung nun jauh di Tuban tampak, sementara ‘patung’ di dalam diri sendiri tak tampak,” katanya.

Sementara itu, direktur eksekutif ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace), Mohammad Monib mengaku ikut malu dengan tindakan sebagian umat Islam yang menolak patung tersebut. Tidak seharusnya umat Muslim terganggu.

“Benar, kalian memang memalukan & mempermalukan saya sebagai muslim. Patung indah begini kok kalian terganggu. Cemen sekali agama & imanmu,” katanya.

Tokoh Muslim lainnya, Muhsin Labib mengingatkan supaya semua pihak berhati-hati terhadap properti orang lain: jangan sampai ada perusakan hak milik orang lain.

“Tak boleh melakukan apapun terhadap properti orang lain, termasuk membungkus patung yang bukan miliknya kecuali diizinkan atau berwenang. Merobohkan dan menghancurkan patung atau benda apapun milik orang lain atau milik negara adalah haram dan wajib diganti,” ingatnya.

Strategi jitu penjualan hewan kurban jelang Idul Adha
DPR batalkan pembangunan apartemen, gedung miring?
Utang luar negeri makin mengkhawatirkan
Ekonomi Indonesia bergantung pada Cina, berbahaya!
Bu Susi belum maksimal jalankan amanat UU Perlindungan Nelayan
Fetching news ...