Kerjasama industri tingkatkan daya saing SMK

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Kerjasama industri tingkatkan daya saing SMK "Paradigma pembelajaran SMK harus sesuai dengan karakter generasi muda pada satu-dua dekade mendatang." - Waras Kamdi

Tantangan terbesar SMK ke depan adalah menghadapi revolusi industri 4.0 yang kini semakin terasa goncangannya. Akan tetapi, tantangan itu tidak perlu ditakuti atau dihindari dan berpaling dari kenyataan yang paling pahit sekali pun.  

Kesiapan mental dan kecerdasan-emosional diikuti dengan kemampuan menyiapkan strategi baru untuk merespons perubahan adalah sikap ksatria yang perlu dimiliki dalam menumbuhkan optimisme masa depan, sehingga SMK bisa keluar dari berbagai tekanan, dan mampu menjadi pelaku perubahan. 

Ketua tim Revitalisasi SMK Kemendikbud, Prof. Waras Kamdi mengatakan, arus besar perubahan dalam tatanan kemajuan terknologi dengan perangkat industri 4.0 jangan dilihat sebagai ancaman, tapi menjadi peluang untuk mendorong kemajuan SMK dengan “wajah yang baru”  

Kecanggihan teknologi memang lebih menarik dan seringkali lebih baik, tapi manusia punya kreativitas dan inovasi yang tidak tergantikan oleh teknologi apapun. Jadi, peluang untuk maju dan sukses selalu terbuka lebih besar dari yang diperkirakan, bagi mereka yang memiliki daya kreativitas tinggi. 

Dengan cara pandang seperti ini, SMK akan punya energi besar untuk membangun kepercayaan diri dengan meningkatkan kualitas. Sehingga, SMK memiliki posisi yang kuat dalam main-stream  perubahan zaman. 

“Untuk merespons arus perubahan tersebut kita perlu menggunakan “paradigma baru” dalam me-revitalisasi pendidikan vokasi SMK, sehingga penataan kelembagaan maupun restrukturisasi terhadap kompetensi-keahlian SMK, tidak dilakukan secara parsial dan temporal,” kata Prof Waras, pada pembukaan Rapat Koordinasi Revitalisasi SMK, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan kepala sekolah SMK se Indonesia, yang dilaksanakan pada 4-6 Desember 2017 di Jakarta.

Prof. Waras menjelaskan bahwa “strategi pembelajaran inovatif” untuk  mewujudkan wajah baru SMK menjadi keharusan. “Paradigma pembelajaran SMK harus sesuai dengan karakter generasi muda pada satu-dua dekade mendatang. Dengan strategi pembelajaran inovatif, SMK akan menghasilkan job creator,” kata Guru Besar Universitas Negeri Malang itu.

Rapat Koordinasi revitalisasi SMK dengan kepala  sekolah SMK se-Indonesia dimaksudkan untuk melakukan Evaluasi  dan Penyusunan  Rencana Pengembangan Kerjasama SMK – Industri 2018. Rakor dihadiri 450 peserta terdiri dari utusan kepala sekolah SMK program revitaliasi 219 SMK “model” terdiri dari 125 SMK prioritas dan 94 SMK pendukung, unsur perguruan tinggi, dan  Direktorat Pembinaan SMK Kemendikbud. 

Hadir sebagai narasumber dalam Rapat Koordinasi Revitalisasi SMK, Prof. Dr. Waras Kamdi, (Ketua Tim Revitalisasi), Ananto Kusuma Seta, Ph.D (Staf Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing), Yulius Ibnoe, Ph.D (Asisten Deputi Ketenagakerjaan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian), Dr. Ruly  Mariyati (GiZ), dan Witdono (INTEL Indonesia) mewakili industri.

Ananto Kusuma Seta, Ph.D Staf Ahli  Bidang  Inovasi dan Daya Saing Kemendikbud, mengatakan program revitalisasi SMK pilihan diharapkan menjadi “mercusuar” selain sebagai rujukan bagi pengembangan SMK ke depan. Dengan demikian, akan merubah WAJAH pendidikan vokasi Indonesia. “Kami medorong agar SMK mampu melahirkan 1000 siswa-siswi inovator,”kata Ananto dalam pembukaan Rapat Koordinasi Revitalisasi SMK. 

Kemendikbud dalam program Revitalisasi 2017 menunjuk 219 SMK percontohan, terdiri dari 125 SMK bidang prioritas: kelautan, pariwisata, pertanian, dan industri kreatif. Ke-empat sektor unggulan nasional tersebut diproyeksikan dapat memperkuat daya saing bangsa, dan sektor ini diprediksi dapat menyerap sejumlah besar tenaga kerja.

Kerjasama industri

Secara umum kerjasama industri pada 2017 terjadi peningkatan, intensitas dan mobilitas kerjasama terjadi secara nasional maupun di daerah-daerah. Semangat membangun kualitas tinggi SMK menemukan momentum yang tepat. Hal ini terlihat dari antusisme peserta Rapat Koordinasi Revitalisasi SMK Kemendikbud.

Sebut misalnya, SMK 4 Malang (Seni dan Industri Kreatif), SMK 7 Semarang (Teknologi dan Rekayasa), SMK 8 Makassar (Pariwisata), SMK PP Aceh (Agribisnis dan Agroteknologi), dan SMK 1 Mundu Cirebon (Kemaritiman) adalah SMK-SMK yang relatif maju dan berkembangan dinamis, memiliki kerjasama Industri dengan baik dan produktif.

Kendati masih ada SMK yang belum beruntung dalam membangun kerjasama industri. Hal ini terlihat misalnya dari aspirasi yang disampaikan kepala sekolah pada Rapat Koordinasi Revitalisasi SMK - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di Jakarta.

Selain faktor komunikasi yang perlu ditingkatkan, faktor non teknis seperti mindset kerjasama industri perlu diperbaiki. Kerjasama industri belum berdasarkan kebutuhan dan agenda bersama, masih bersifat sepihak terutama dari kepentingan SMK. Sementara itu, pemerintah daerah yang semestinya berperan aktif mendorong kerjasama industri - SMK, tetapi  faktanya tidak terlihat aktif.

Dr. Ruly Mariyana, tenaga ahli pendampingan kerjasama industri, tidak menyangkal adanya kerjasama industri belum maksimal karena belum dirasakan sebagai agenda bersama kedua pihak. “Seringkali kerjasama industri sebatas melepas kewajiban dari tanggungjawab sosial perusahaan, ketimbang untuk tujuan-kemajuan bersama,” ujar Ruly menaggapi peserta Rakor yang mempertanyakan kendala kerjasama industri-SMK.  

Ruly menjelaskan,  kerjasama itu terjadi bila ada kondisi yang salin memahami dan menghormati posisi masing-masing, dengan segala latar belakang dan karakter yang melekat padanya. Tanpa itu, sulit terbangun kerjasama. “Belum ada bahasa yang sama antara SMK-industri sehingga kerjasama industri tidak terjadi,” ujarnya.  

Masih terkait dengan sikap Industri yang belum terpanggil-aktif untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia. Yulius Ibnoe Asisten Deputi Ketenagakerjaan Kemenko Perekonomian berharap hal itu ke depan tidak terjadi. Sementara ini, menurutnya, baru pemerintah yang mendorong peningkatan kualitas SMK. ”Berbeda dengan Jerman, KADIN nya proaktif, kita belum seperti itu,“ ujar Yulius Ibnoe yang tampil sebagai pembicara menanggapi  pertanyaan kepala sekolah SMK, terkait kerjasama industri–SMK yang belum terjalin kuat.

DUDI dan SMK adalah dua entitas yang berbeda, latar belakang maupun kultur manusia di dalamnya. Tetapi kedua entitas itu bisa salin sinergi untuk tujuan membangun potensi ekonomi daerah maupun nasional.

Kerjasama industri mudah terjalin bila ada trust-building yang kuat dari Industri kepada SMK. Disinilah pentingnya SMK membangun trust, yaitu dengan meningkatkan kualitas kepemimpinan dan tatakelola SMK secara profesional. Inilah modal sosial bagi SMK  untuk membangun kerjasama industri. ”Dengan kerjasama industri yang kuat, akan meningkatkan daya saing  SMK,” ujar Zaenul Ula, Tim komunikasi  Ditjen P SMK.

Racun kemesraan dalam pernikahan
Demokrat upayakan Jokowi tak lawan kotak kosong
PKS minta kader belajar dari kemenangan Erdogan
Usir jerawat dengan kulit semangka
Gerindra daftarkan mantan koruptor di Pileg 2019
Ngabalin jadi komisaris Angkasa Pura, Fadli: BUMN amburadul
Bumi Manusia bukan sekadar cinta Minke dan Annelies
Politisi berbondong-bondong ke NasDem, ada apa?
Politisi terima uang transfer untuk pindah partai harus lapor KPK
Riza Chalid penampakan di acara NasDem, sudah aman?
Golkar ngotot daftarkan caleg mantan napi korupsi
Nikmati empat hari Festival Bunaken
Film ’22 Menit’ hadir di Anugrah Jurnalistik Polri 2018
Etika politik dan pindah partai
Dukung pilkada damai, Polri gelar Anugrah Jurnalistik 2018
Fetching news ...