Kabar baik budaya literasi dari Sleman

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Kabar baik budaya literasi dari Sleman ilustrasi

Budaya literasi kini sudah mulai menggema di hampir seluruh wilayah nusantara, terutama di sekolah-sekolah. Salah satunya budaya membaca 15 menit. Kegiatan ini sudah hampir dilaksanakan oleh semua sekolah. Gerakan tersebut seakan sudah menjadi budaya wajib yang mulai menjiwai di hati para siswa dan guru. Demikian juga di Sekolah Dasar (SD) Model Sleman.

Bagi sekolah yang satu ini, budaya membaca selama 20 menit sudah dilaksanakan sejak awal sekolah ini berdiri pada tahun 2008.  Kegiatan membaca sudah menyatu dengan proses belajar siswa setiap harinya. Pelaksanaannya serentak dari kelas I sampai kelas VI. Selain aktivitas membaca, kegiatan-kegiatan lain berupa lomba mewarnai, bercerita baik Bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia, mendongeng, membaca puisi, pemilihan ratu buku dan raja buku juga secara rutin digelar.

Kepala Sekolah SD Model Sleman, Yuliati Indarsih, mengatakan kegiatan literasi di sekolahnya dikembangkan melalui kerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman. "Salah satu kegiatannya adalah mengikuti program kunjungan perpustakaan. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Selasa dan Jumat. Pada pukul 08.00 siswa dijemput bus milik Perpusda untuk membaca buku sampai pukul 12.00 WIB, kemudian siswa diantar kembali ke sekolah," kata Yuliati, Senin (19/3/2018).

Selain itu, kegiatan lain yang dilakukan yaitu program wisata pustaka. Pada kegiatan ini siswa dijemput bus, diajak berkeliling mengunjungi Griya Pustaka Provinsi untuk melihat film 6 dimensi, dan juga mengunjungi museum baca. "Dengan kegiatan ini diharapkan dapat menambah wawasan siswa tentang berbagai ilmu pengetahuan," tambah Yuliati.

Di sisi lain, untuk lebih mendorong budaya menulis, SD Model Sleman mengadakan program menulis buku antologi. Kegiatan menulis ini dimulai dari kelas I sampai kelas VI beserta guru-gurunya. Siswa kelas I didorong membuat cerita bergambar. Kelas II dan kelas III menulis puisi. Hal ini disesuaikan dengan salah satu tema materi pelajaran.

Sementara itu, siswa kelas IV dan kelas V membuat cerita anak sederhana, sedangkan untuk siswa kelas 6 juga membuat cerita anak dua sampai dengan lima halaman.

"Proses pembuatan buku antologi siswa ini dilaksanakan bekerja sama dengan orang tua siswa," ujar Yuliati menambahkan.

Untuk para guru, naskah yang ditulis berupa tulisan artikel. Isinya tentang empat kompetensi yang harus dimiliki guru profesional, yaitu kompetensi profesional, kepribadian, sosial, dan pedagogi. 

Proses akhir hasil karya siswa dan guru tersebut akan diserahkan ke tim penerima naskah yang terdiri dari tenaga perpustakaan. Proses penyusunan tata letak dan kelengkapan isi buku yang akan dikirim ke penerbit menjadi tanggung jawab bersama-sama.

"Harapan kita tahap pertama ini bisa sukses menerbitkan banyak buku. Nantinya akan menjadi salah satu media bacaan bagi siswa, guru, dan bahkan orang tua. Selain itu, karya hasil literasi ini juga akan menambah koleksi bacaan di perpustakaan milik sekolah," pungkas Yuliati.

Langkah Kemendag amankan harga sembako saat puasa dan lebaran
TKA diistimewakan, TKI kurang terlindungi
Buktikan tak antikritik, DPR gelar lomba
TNI evakuasi guru korban perkosaan gerombolan separatis Papua
Usia minimal perkawinan dalam UU sudah tak relevan dengan zaman
Fetching news ...