Jebakan "cocktail entrepreneur"

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Jebakan \ “Seorang entrepreneur berusaha agar sebanyak mungkin faktor-faktor yang dapat mempengaruhi usahanya menjadi faktor yang dapat dia kontrol." - Agus Finardi

Saat ini pemerintah tengah giat mendorong generasi muda untuk beriwirausaha atau menjadi entrepreneur. Pasalnya, angka entrepreneur di Indonesia hanya sebesar 3.01 persen, jauh jika dibandingkan dengan negara-negara maju yang berada di atas 14 persen.

Konsultan manajemen ritel, Agus Finardi mengatakan minimnya gairah orang Indonesia untuk berwirausaha disebabkan sejumlah jebakan, salah satunya adalah apa yang disebutnya sebagai “cocktail entrepreneur”.

“Saya menemukan istilah ‘cocktail entrepreneur’, yaitu orang orang yang gemarnya membicarakan kehebatan orang lain menjadi entrepreneur, seolah-olah dirinya pun adalah seorang entrepreneur,” katanya saat ditemui Rimanews di Jakarta, Jumat (06/04/2018).

Menurutnya, kita cukup mempelajari kesuksesan entrepreneur-entrepreneur yang ada dan langsung mempraktikkan hal tersebut tanpa perlu berlama-lama.

“Masalah kedua yang sering membuat orang urung menjadi Entrepreneur adalah faktor risiko.  Takut mengambil resiko adalah yang umum terjadi jika kita ingin melangkah ke dunia entrepreneurship,” ujarnya.

Agus menegaskan bahwa risiko ada di semua tempat, tak terkecuali ketika bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan.

“Siapa bilang menjadi karyawan tidak ada risiko?! Banyak: risiko perusahaan bangkrut, memiliki bos tidak menyenangkan, persaingan untuk meniti karir, teman kerja yang menyebalkan dan banyak lagi,” bebernya.

Pria yang juga seorang dosen pascasarjana di IPMI International School ini menjelaskan bahwa lebih banyak orang memilih menjadi karyawan daripada menjadi entrepreneur karena dua hal. Pertama, ada karyawan yang dapat meminimalkan berbagai risiko tersebut dengan kerja keras, menambah ilmu dan bersikap positif sehingga karir mereka bagus dan terus menanjak.

“Kedua, ada karyawan yang merasa berada di zona aman dan hanya menjalankan tugasnya di dalam perusahaan. Saya dapat mengatakan menjadi karyawan masih memiliki dua pilihan: menjadi pilot bagi dirinya dalam berkarir atau menjadi penumpang di perusahaan. Silakan cek, Anda pilot ataukah penumpang?” ujarnya.

Menurut Agus, risiko kewirausahaan dapat diminimalkan dengan antara lain: kecintaan (passion), kemampuan (skills), pengetahuan (knowledge), reputasi (reputation) dan jejaring (network).

“Seorang entrepreneur berusaha agar sebanyak mungkin faktor-faktor yang dapat mempengaruhi usahanya menjadi faktor yang dapat dia kontrol,” katanya.

Poin penting menjadi entrepreneur, dikatakan Agus, adalah kita hanya mempunyai satu peran, yaitu menjadi pilot dari usaha kita, bukan penumpang.

“Jika ingin menjadi pilot, Anda bisa bekerja baik sebagai karyawan ataupun entrepreneur. Namun, jika anda merasa cukup cakap untuk menjadi pilot dalam kapasitas sebagai entrepreneur, janganlah takut akan risiko. Atasi itu dengan kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan integritas. Setop menjadi ‘cocktail entrepreneur” karena itu hanya membuang waktu Anda saja,” pungkasnya.

Langkah Kemendag amankan harga sembako saat puasa dan lebaran
TKA diistimewakan, TKI kurang terlindungi
Buktikan tak antikritik, DPR gelar lomba
TNI evakuasi guru korban perkosaan gerombolan separatis Papua
Usia minimal perkawinan dalam UU sudah tak relevan dengan zaman
Fetching news ...