Maaf yang tak perlu

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Maaf yang tak perlu

Sebagian masyarakat kita kerap menyatakan permintaan maaf pada konteks yang tidak semustinya: mengawali pembicaraan, membuka dan menutup pesan singkat, hingga mengingatkan orang yang telah menginjak kakinya. Mereka sama sekali tidak berada pada posisi yang salah.

”Mohon maaf apabila mengganggu waktunya. Saya mau tanya pak,” kutipan pengantar pesan singkat seorang mahasiswa kepada dosennya. Pesan itu pun kembali ditutup dengan permohonan ampun, “Mohon maaf jikalau saya mengganggu waktu bapak.” Sepertinya, berdoa kepada Tuhan sekali pun tidak sampai seperti itu.

Apa salahnya seorang mahasiswa melayangkan SMS kepada dosennya? Jika mahasiswa sudah tahu bakal mengganggu, mengapa pula dia nekad SMS?

Permintaan maaf seharusnya hanya diucapkan ketika ada kesalahan. Meminta maaf berarti ada yang salah pada diri. Pada kasus di atas, secara tidak sadar mahasiswa tersebut menganggap dirinya bersalah karena mengirim pesan singkat ke dosennya. Jika tak ada larangan berkirim pesan ke dosen, di mana salahnya?

Ada saja institusi pendidikan, memang, yang mengajarkan siswanya untuk mengawali pesan kepada pengajarnya dengan permintaan maaf. Dengan demikian, secara terselubung, lembaga pendidikan ini mengajarkan anak didiknya untuk merasa bersalah ketika berhadapan dengan pengajarnya.

Rasa bersalah bukan sesuatu yang sepele. Rasa bersalah yang tertaman dalam diri seseorang akan menjadi beban, yang dapat berakibat kepada penghukuman atas diri. Misalnya, orang yang merasa bersalah kepada Tuhan, akan membebani dirinya dengan perbuatan-perbuatan yang dianggapnya baik untuk menebus kesalahannya. Semakin besar kesalahan, dia akan melakukan “perbuatan baik” tersebut secara ekstrem—hingga pada titik menyakiti diri—dengan harapan kesalahannya lekas tertebus.

Apabila seorang karyawan merasa bersalah dengan atasannya, sikapnya malah akan serbah salah secara otomatis. Seorang suami yang merasa bersalah kepada istrinya tiba-tiba akan merasa kikuk saat bertemu usai melakukan kesalahan tersebut. Singkatnya, menyimpan rasa bersalah adalah racun, sama seperti memendam dendam.

Sayangnya, sebagian orang justru mengafirmasi perasaan bersalah seperti itu dengan mengobral pernyataan maaf tidak pada tempatnya. Anehnya, ada lembaga pendidikan yang menanamkan rasa bersalah kepada siswanya seperti disebut semula.

Alihfungsi maaf sebagai prinsip kesantunan

Membahas hal ini, kita harus bertolak dari dua sisi. Pertama dari mereka yang sengaja mengajarkan alih fungsi tersebut; kedua, dari sisi orang yang secara sadar/tidak telah melakukannya.

Apabila ingin membuat orang lain tersudut seperti posisi terdakwa yang tak dapat berkutik, strategi yang akan merasuk ke alam bawah sadar ini dapat digunakan. Permintaan maaf sebagai strategi kesantunan tingkat tinggi ini tentunya sangat efektif untuk merampas beberapa hal: kepercayaan diri, kemampuan untuk menyampaikan gagasan dengan lugas, dan kemampuan untuk berpikir kritis.

Permintaan maaf yang sering diuarkan sebagai kesantunan seperti ini selalu melibatkan kuasa dan jarak. Dalam hal ini, orang yang harus melakukan strategi kesantuan adalah mereka yang statusnya di bawah. Selanjutnya, kesantunan yang tinggi hanya terjadi ketika satu orang dan lainnya ada jarak sosial. Oleh karena itu, institusi pendidikan yang mengajarkan permintaan maaf tidak pada tempatnya sebagai pengganti prinsip kesantunan tersebut tengah unjuk kekuasaan dan ingin menjaga jarak dengan anak didiknya. Tentu saja, medudukkan anak didik pada posisi inferior bukan tujuan utama pendidikan.

Memaafkan dan menikmati permintaan maaf orang adalah dua hal berbeda. Memaafkan berarti membuang beban, sedangkan yang kedua adalah menikmati beban yang dipikul orang lain.

Tidak sepatutnya pendidik menikmati perasaan inferior anak murid melalui permintaan maaf yang tidak pada tempatnya seperti itu.
Selanjutnya, Anda yang terbiasa menyatakan permintaan maaf tidak pada tempatnya, silakan merenung. Kepada siapa Anda menyatakannya dan bagaimana perasaan Anda ketika mengungkapkan hal itu.

Anda pasti meminta maaf kepada orang yang posisinya di atas atau tidak dikenal. Kemudian, ketika menyatakannya, Anda pasti merasa tidak enak dan canggung, tidak lega dalam berkomunikasi. Lantas, buat apa memelihara situasi ini?!

Apabila Anda ingin mengutarakan sesuatu kepada orang lain yang Anda kenal, sampaikan saja apa pesan Anda tanpa perlu terlalu banyak bertele-tele yang justru meracuni diri sendiri, tentu saja dengan tetap memperhatikan kaedah tata krama yang lazim.

Meminta maaf adalah bagian dari harga diri yang harus dijaga. Jika diobral, itu artinya kita menilai murah harga diri kita. Jangan pernah membuat diri Anda bersalah tanpa dasar.

Fahri Hamzah harap Prabowo lebih agresif tanyakan janji Jokowi
Heboh, pendukung saling adu yel-yel menjelang debat
Demokrat: SBY tak lagi berpolitik
Sandiaga tak datang ke debat capres, ini penjelasan kubu Prabowo
Ganjar Pranowo datang di debat capres sebagai tokoh masyarakat
KPU tambah kuota tamu undangan untuk debat capres
Mantan bintang porno ini jadi caleg
JARI 98 jadi saksi dukungan warga Tangerang Selatan kepada Jokowi
Rizal Ramli sebut mobil Esemka alat politik Jokowi
Rizal Ramli: Jokowi impor pangan ugal-ugalan
Pidato Prabowo disebut klise, BPN samakan Prabowo dengan Bung Karno
Amerika Serikat rugi Rp38 triliun
Sempat ditolak, Prabowo akhirnya shalat Jumat
Kedengkian terhadap mantan picu impotensi
TKN: Jokowi sudah persiapkan jurus hadapi debat kedua
Fetching news ...