Kendalikan hama dan penyakit secara alami dengan Tumpang Sari

REPORTED BY: Siti Dzakiyyah

Kendalikan hama dan penyakit secara alami dengan Tumpang Sari

Penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang berlebih tanpa kita sadari menjadi bom waktu bagi usaha budidaya pertanian kita sendiri. Pasalnya, hal ini membawa dampak yang buruk bagi kelestarian lingkungan.

Selain itu, dengan penggunaan pestisida kimia secara terus menerus menyebabkan terjadinya resistensi dan resurgensi hama penyakit, sehingga terjadi ledakan hama yang menjadi masalah serius bagi petani. 

Berbagai cara telah dilakukan untuk mengurangi dampak dari kerusakan akibat pupuk dan pestisida kimia, salah satunya dengan penggunaan pupuk dan pestisida organik juga penerapan Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu (PHPT). Prinsip dari Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu yaitu melakukan pencegahan dan meminimalisir serangan hama dan penyakit yang menyerang pada areal pertanaman, penanggulangan secara intensif hanya dilakukan apabila kerusakan telah melampaui Ambang Batas Ekonomi. Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu merupakan suatu sistem kompleks, yang terdiri dari beberapa kegiatan dimulai pra tanam hingga pasca panen sehingga diperoleh hasil yang optimal dengan memperhatikan aspek lingkungan. Salah satu metode Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu yaitu pola penanaman tumpang sari.

Tumpangsari merupakan suatu pola pertanaman dengan menanam lebih dari satu jenis tanaman pada suatu hamparan lahan dalam periode waktu tanam yang sama. Pada awalnya, tumpang sari merupakan pola tanam yang banyak digunakan oleh petani-petani yang melakukan usaha tani guna mencukupi kebutuhan sendiri dan keluarga (subsisten). Resiko kegagalan yang tinggi dalam usaha pertanian membuat petani menanam lebih dari satu jenis tanaman sehingga ketika terjadi kegagalan panen satu kamoditas masih dapat memanen komoditas yang lain.

Tumpangsari pada awalnya juga lebih dilakukan untuk tanah marginal modal petani yang kecil.

Dalam perkembangan yang lebih lanjut, tumpangsari bukan hanya milik petani subsisten yang hanya melakukan usaha tani pada lahan yang dapat dikatakan marginal dengan modal yang seadanya. Tumpangsari sudah banyak diterapkan petani baik semi-komersial maupun komersial dan juga diterpakan pada lahan-lahan yang subur yang memang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan berbagai macam tanaman. Sistem tumpang sari dapat meningkatkan produktivitas lahan pertanian jika jenis-jenis yang dikombinasikan dalam sistem ini membentuk interaksi yang menguntungkan. Keuntungan penerapan sistem tumpangsari dapat dilihat dari Nisbah Kesetaraan Lahan (NKL). Nilai kesetaraan lahan lebih dari 1, menunjukkan keuntungan.

 

Tumpang Sari dapat Mengurangi Serangan Hama dan Penyakit Tanaman?

Pola tanam monokultur telah mengingkari sistem ekologi. Penanaman hanya satu jenis tanaman talah mengurangi keberagaman makhluk hidup penyusun ekosistemnya sehingga seringkali terjadi ledakan populasi hama dan patogen penyebab penyakit tanaman.

Pola tanam dengan sistem tumpangsari sama dengan memodifikasi ekosisitem yang dalam kaitannya dengan pengendalian OPT memberikan keuntungan, diantaranya:

(1) Penjagaan fase musuh alami yang tidak aktif

(2) Penjagaan keanekaragaman komunitas

(3) Penyediaan inang alternatif

(4) Penyediaan makanan alami

(5) Pembuatan tempat berlindung musuh alami, dan

(6) Penggunaan insektisida yang selektif.

Ketika suatu lahan pertanian ditanami dengan lebih dari satu jenis tanaman, maka pasti akan terjadi interaksi antara tanaman yang ditanam. Interkasi yang terjadi dapat saling menguntungkan (cooperation) dapat juga berlangsung saling menghambat (competition).

Dengan demikian, kultur teknis yang harus diperhatikan pada pola tanam tumpang sari adalah jarak tanam, populasi tanaman, umur tiap tanaman, dan arsitektur tanaman. Morfologi dan fisiologi tanaman juga harus diperhatikan. Kesemuanya berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil untuk masing-masing tanaman yang akan ditumpangsarikan. Dalam pola tanam tumpangsari, diusahakan untuk menanam jenis tanaman yang tidak satu famili. Hal ini dimaksudkan untuk memutus mata rantai pertumbuhan dan ledakan populasi hama dan patogen karena untuk jenis tanaman yang satu famili memiliki kecenderungan untuk diserang oleh hama dan patogen yang sama.

Pada prinsipnya, pemilihan jenis tanaman dan kultur teknis yang dilakukan harus menunjukkan usaha untuk memaksimalkan kerjasama dan meminimalkan kompetisi pada tanaman-tanaman yang dibudidayakan.

 

Hal yang Harus Diperhatikan dalam Pola Penanaman Tumpang Sari?

Kesalahan dalam menentukan jenis tanaman yang akan ditumpangsarikan dapat membuat yang sebenarnya menjadi kelebihan pola tanam tumpangsari menjadi kelemahan tumpang sari. Kompetisi antar tanaman yang terlalu tinggi membuat hasil untuk tiap tanaman menjadi sangat kecil yang berakibat pada nilai kesetaraan lahan yang kurang dari 1. Selain itu, dapat juga terjadi kesulitan pengendalian hama dan patogen karena tanaman yang ditumpangsarikan memungkinkan hama dan patogen menjadi inang untuk keduanya. Tidak jarang, biaya untuk perawatan tanaman tumpang sari juga lebih mahal karena harus merawat lebih dari satu jenis tanaman.

 

Fadli Zon nilai menteri ikut kampanye munculkan konflik kepentingan
IHSG anjlok mengikuti pelemahan saham global
Fadli Zon: Jokowi halusinasi
Kemunculan bendera Golkar di kampanye Prabowo adalah masalah pidana
Rizal Ramli sebut Prabowo-Sandi mampu tingkatkan daya beli masyarakat
TKN klaim hubungan luar negeri sebagai keunggulan pemerintahan Jokowi
Jangan lakukan ini sebelum bercinta dengan pasangan
Fahri Hamzah curiga tarif MRT akan mahal
Jerman nilai Rusia dibutuhkan dalam penyelesaian konflik Suriah
Fahri: Curhatan Jokowi persempit dukungan masyarakat
Mahathir Mohamad: Israel seperti perampok
IHSG akan terkoreksi wajar hari ini
Krakatau Steel siap kooperatif dengan KPK
Pemburuan liar semakin marak, Walhi desak pemerintah segera selamatkan Orang Utan
GARBI: Jangan golput, pilih saja figur yang berpengalaman
Fetching news ...