4 horor melahirkan di tangan dukun

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

4 horor melahirkan di tangan dukun

Di antara keberuntungan hidup di alam modern adalah banyak hal dapat dilakukan dengan lebih mudah dan nyaman, seperti melahirkan.

Saat ini, angka kematian ibu melahirkan dapat ditekan secara drastis apabila para ibu rajin memeriksakan diri ke dokter. Dokter pun bisa memprediksi, apakah persalinan dapat dilakukan secara normal atau harus operasi. Dalam kemajuan teknologi seperti saat ini, rasa sakit akibat melahirkan pun dapat dikurangi dan proses penyembuhan setelah persalinan lebih cepat.

Sayangnya, kecanggihan ilmu pengetahuan belum dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Akibatnya, sebagian ibu masih merasakan penderitaan yang dahsyat akibat keinginan memiliki buah hati.

Di antara penderitaan yang ibu harus alami saat dan setelah persalinan adalah:

1. Diet super ketat

Orang zaman dulu sangat banyak pantangan untuk ibu hamil hingga melahirkan, termasuk dalam hal makanan. Di banyak wilayah di pulau Jawa, dukun menganjurkan supaya ibu menyusui hanya makan nasi dan kunyit.

Mereka tidak makan ikan atau daging karena dianggap membuat ASI terasa anyir. Dalam ilmu kesehatan modern, diet seperti ini sangat ditentang karena ibu dan bayi rawan kurang nutrisi.

Semua jenis makanan yang sehat sangat dianjurkan untuk dikonsumsi ibu pascapersalinan. Selain mempercepat penyembuhan, makanan sehat juga membuat produksi ASI lebih berkualitas dan melimpah.

2. Penggunaan spiritus

Untuk menggurangi infeksi pada vagina pascapersalinan, dukun beranak di sejumlah kampung tempo dulu menggunakan spiritus atau metanol, atau  metil alkohol, atau wood alcohol, senyawa kimia dengan rumus kimia CH3OH. Metanol biasanya digunakan sebagai bahan pendingin anti beku, pelarut, bahan bakar dan sebagai bahan additif bagi etanol industri.

Anda bisa bayangkan betapa perihnya luka yang terkena spiritus, apalagi ini bagian peranakan yang mengalami robekan dan pembengkakan. Dengan teknik melahirkan yang minim, luka yang ditumbulkan selama persalinan bisa jauh lebih mengerikan daripada persalinan yang dipandu petugas medis profesional.

Supaya pasien lebih tenang, dukun biasanya mengikat kaki pasien dan meminta bantuan keluarga untuk memegangi kaki dan tangannya supaya tidak berontak.

Penggunaan spiritus oleh dukun beranak ini terjadi di banyak lokasi. Beruntungnya, sekarang ada aturan bahwa melahirkan harus di bidan, sehingga peran dukun sebagai penolong utama persalinan jauh berkurang.

3. Dipopok jahe parut

Jahe parut yang dioleskan di perut untuk proses pelangsingan tubuh saja terasa panas menusuk. Bagaimana jika parutan jahe dipopokkan pada vagina yang terluka?

“Saya hanya bisa membatin dan meneteskan air mata,” kata Teteh (37) menceritakan proses persalinan anaknya yang pertama.

Dia tak berani menolak atau berteriak karena melahirkan di rumah mertua. Mertuanya memegangi kakinya yang telah diikat oleh dukun. Dia tak mengetahui ada berapa robekan pada jalur lahir bayinya yang besar, dengan berat 47kg.

Proses kelahiran anaknya pada 1998 itu dia klaim sebagai salah satu penderitaan terberat dalam hidupnya. Pada kelahiran anak keduanya tahun 2006, dia tak berani lagi lahiran di kampung, di salah satu daerah di Jawa Barat. "Trauma saya," kenangnya.

4. Dipanggang asap

Di NTT ada tradisi ibu dan bayi yang baru dilahirkan dimasukkan dalam ruangan yang dipenuhi asap dari kayu bakar atau disebut “Panggang Api”.

Ritual pengasapan yang menurut tradisi lokal untuk menghangatkan itu dilakukan selama 42 hari (nifas) setelah mandi. Akibatnya, setelah ritual itu banyak ibu yang anemia, sakit mata dan bayinya mengalami gangguan pernapasan.

Tradisi ini sudah begitu melekat dan dianggap hal yang wajib, meskipun berdampak negatif bagi kesehatan ibu dan bayi.

Ritual Panggang Api ini menjadi tantangan bagi para petugas kesehatan, seperti bidan desa dan penyuluh kesehatan, untuk ditinggalkan karena merugikan kesehatan ibu dan bayi.

Dua amalan utama di bulan Muharam
Menjadikan Indonesia kiblat maritim dunia
4 golongan yang dicintai Allah
Menyatukan Soksi Golkar dengan Munas
Sektor ini raup Rp1.500 triliun per tahun, Anda tertarik?
Fetching news ...