Tiongkok sebut Nusantara sebagai tetangga emas

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Tiongkok sebut Nusantara sebagai tetangga emas

Untuk memahami masa lalu bumi pertiwi, terutama terkait kejayaan, jati diri, toleransi dan kearifan, kita dapat mempelajarinya dari catatan Yi Jing, seorang biksu Tiongkok yang pernah belajar di Sriwijaya.

Hal tersebut diungkapkan oleh Shinta Lee pada simposium dalam ajang The 7th Borobudur Writers&Cultural Festival, yang diselenggarakan 22-25 November 2018.

Cendekiawan Yi Jing (abad ke-7) pernah tiga kali mengunjungi Muaro Jambi sebelum menetap di Tiongkok. Kunjungan pertamanya selama 6 bulan untuk belajar bahasa sanskerta, kedua selama 4 tahun (685-689) dan kembali lagi ke Shili Foshi (nama untuk Muaro Jambi) selama 5 tahun (689-695) untuk belajar sutra.

Dalam kajian terhadap tulisan-tulisan Yi Jing, Shinta menemukan bahwa dia mendeskripsikan sejumlah hal menarik dalam buku Nanhai, terutama tentang kemakmuran Sriwijaya. Masyarakat biasanya mempersembahkan bunga teratai dari emas. Mereka juga menggunakan kendi-kendi dari emas.

Saat menggambarkan kunjungan Sriwijaya ke Tiongkok, Yi Ling menyebutkan “Tetangga Emas” mengirim utusan ke istana. Sumatera juga disebutnya sebagai Pulau Emas (jin zhou), seraya menjelaskan bahwa emas bermotif teratai adalah hadiah yang sangat lumrah kala itu. Sebutan ini tak hanya berkonotasi positif sebagai bahasa persahabatan dua bangsa tetapi juga isyarat kekayaan material dan tingginya keadaban Nusantara kala itu.

Di Muaro Jambi, yang berdiri universitas selama 400 tahun, para sarjana belajar berbagai disiplin ilmu, mulai dari sastra,  filsafat,  etika,  hingga ajaran Budha itu sendiri.

Dalam kesempatan yang sama, Nurni W Wuryandari, mengatakan singgungan antara Tiongkok atau Cina dan Jawa didahului oleh orang-orang dari Jawa terlebih dulu.  Hal ini karena masyarakat Jawa kala itu adalah pelaut-pelaut ulung. Hanya saja, bukti-bukti tertulis ada pada naskah-naskah Cina karena mereka sudah memiliki tradisi menulis yang kuat, jauh sebelum abad pertama Masehi. Sementara itu, yang ada pada kita adalah tradisi tuturan lisan.

Cina memiliki tradisi mencatat yang sudah sangat tua. Peristiwa penting, tokoh, kaisar, perang, sejarah, politik dan ajaran moral tercatat dengan apik. Bangsa Cina tidak hanya menerbitkan buku, tetapi mencetak ulang dan menghimpun buku untuk diterbitkan dalam satu serial.

Sejarah hubungan baik Nusantra-Cina sudah terjalin sejak 131 Masehi. Catatan utusan-utusan dari Jawa dapat ditelusur dari para sejarahwan Dinasti Han (206SM-220M), terutama dalam buku Hou Han Shu. Setelah kedatangan orang Jawa, catatan tentang Jawa nyaris selalu hadir dalam dokumen-dokumen resmi sejarah Cina.

Bahkan saat Cina mencapai puncak kekuatan dan kemakmuran, dengan GDP terbesar di dunia kala itu, pada zaman Dinasti Ming, kaisar mengirim ekspedisi yang dipimpin Laksamana Cheng Ho ke Jawa dengan misi perdamaian dan kerjasama pada 1405. Padahal, tidak akan ada halangan bagi Cheng Ho untuk melakukan misi penaklukan dengan besarnya armada yang dia bawa.

Cheng Ho melakukan tujuh kali pelayaran (6 kali atas perintah Kaisar Zu Di pada 1405-1422 dan terakhir atas perintah Kaisar Xuan De pada 1431-1433). Cheng Ho membawa 27.800 anak buah dengan kapal besar sebanyak 260 dan melewati 33 negara.

Kubu Jokowi klaim paling sedikit langgar aturan kampanye
Siapa pelanggar kampanye terbanyak? Ini kata Bawaslu
Bukan hanya barang, Cina juga bikin Kota Paris versi KW
3 bulan kampanye Pemilu, Bawaslu catat 192 ribu pelanggaran
\
Palestina jadi isu penting agenda diplomasi Parlemen
Penyebab korupsi menurut ahli filsafat Islam
Tanggapi #Sandiwara Uno, PAN: TKN sebaiknya fokus pada kebijakan dan program
Fahri Hamzah setuju pembentukan Pansus KTP elektronik
PDI: BPN pindah ke Jateng justru membangunkan banteng tidur
Sandi dituding playing victim, BPN: Jangan langsung tuduh
Fitnah Jokowi PKI, BPN minta La Nyalla diproses polisi
Momen kampanye, pengamat ragu DPR segera revisi UU perkawinan
PDIP minta Anies siaga hadapi bencana
Aktivis tunggu Prabowo minta maaf ke umat Islam
Fetching news ...