Ideas Law

Inilah rekam jejak Dirdik KPK Aris Budiman

REPORTED BY: Fathor Rasi

Inilah rekam jejak Dirdik KPK Aris Budiman Direktur Penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (Dirdik KPK) Aris Budiman saat dilantik

Publik terkejut ketika Direktur Penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (Dirdik KPK) Aris Budiman justru ikut menghadiri sidang panita khusus hak angket di DPR pada Selasa malam, 29 Agustus. Sebab, pimpinan lembaga anti rasuah itu sudah satu suara tidak akan pernah hadir jika dipanggil anggota pansus. Sejak awal KPK sudah mempertanyakan keabsahan pembentukan pansus.

Perintah yang sama juga sebenarnya disampaikan kepada Aris. Namun, di hadapan anggota pansus, penyidik dari unsur kepolisian itu mengaku membangkang perintah atasannya.

“Sepanjang karier saya, baru pertama kali ini saya membantah perintah pimpinan,” ujar Aris di hadapan anggota pansus pada Selasa malam kemarin.

Ia mengaku membangkang perintah pimpinannya demi menjelaskan bahwa ia dan timnya tidak pernah menerima uang Rp 2 miliar dari mantan anggota DPR Miryam S. Haryani. Fakta itu terungkap dari pemutaran video pemeriksaan politisi Partai Hanura itu di ruang pemeriksaan KPK.

Miryam mengaku jika ada tujuh orang penyidik dari lembaga anti rasuah itu yang sowan ke anggota Komisi III DPR. Menurut pengakuan Miryam di video itu, para penyidik itu dapat mengamankan kasus, asal diberi sejumlah uang.

Aris pun membantahnya secara tegas. Menurutnya, penyampaian kalimat itu telah menghancurkan karakternya. “Kalau saya mau terima, bisa lebih dari itu, di tempat yang menurut saya suci itu. Tetapi, tidak pernah saya lakukan. Insya Allah tidak pernah saya lakukan,” kata dia.

Rekam jejak Aris

Aris pun mengaku selama ini memilih tidak ingin diekspos media karena ingin tetap bisa hidup sebagai individu biasa. Siapa sebenarnya Aris dan rekam jejaknya selama bertugas di KPK? Berikut pemaparannya:

1) 29 tahun di kepolisian

Aris Budiman Bulo bukanlah orang baru dalam dunia kepolisian. Lahir di Pangkajene 25 Januari 1965, karier Aris mulai menanjak sejak ia dipercaya menjadi Kapolsek Kurik dan Kapolres Merauke. Padahal, saat itu usia Aris masih 24 tahun.

Pada tahun 1990, Aris kemudian didapuk menjadi Kapolsek Metro Tebet, Polres Metro Jakarta Selatan. Selanjutnyactahun 2009, Aris sudah menjadi Kapolresta Pekalongan.

Hingga pada 2014, Aris menjabat sebagai Dirreskrimsus Polda Metro Jaya, dan menjadi Wakil Direktur Tipikor Bareskrim Mabes Polri pada tahun 2015.

Akhirnya melalui seleksi, Aris terpilih untuk menjadi Direktur Penyidikan KPK pada 14 September 2015. Menurut Johan Budi yang ketika itu masih menjabat sebagai salah satu komisioner KPK, ada delapan calon yang diseleksi untuk menjadi Direktur Penyidikan di KPK. Usai melalui proses penelusuran yang ketat dan klarifikasi, maka terpilihlah Aris.

“Yang akhirnya ini, yang terbaik dari yang baik,” ujar Johan pada tahun 2015 lalu.

Pangkat Aris kemudian naik dari Kombes menjadi Brigadir Jenderal Polisi.

2) Doktor ke-8 kajian kepolisian

Tak hanya karier, namun prestasi akademik Aris pun juga cemerlang. Ia meraih gelar doktor dari Universitas Indonesia di bidang kajian kepolisian.

Untuk meraih gelar doktor, Aris membuat disertasi dengan judul “Fungsi Kepolisian dalam Pemeliharaan Keteraturan Sosial di Wilayah Kota Pangkal Pinang”. Ia tercatat sebagai doktor ke-8 dari institusi bhayangkara yang berhasil menggapai prestasi itu.

Sebelumnya, Kombes Rycko Amelza Daniel dan Kombes Petrus Reinhard Golose juga meraih gelar doktor dengan kajian yang sama.

3) Sita 700 ton pupuk ilegal

Ketika masih menjabat sebagai Kapolresta Pekalongan, Aris pernah melakukan penyitaan 700 ton pupuk bersubsidi yang tidak memiliki izin resmi di gudang PT Petrokimia Gresik pada 7 April 2010. Jenis pupuk bersubsidi yang diamankan tersebut terdiri atas ZA, SP36, NPK, Ponska, dan Petro Organik.

Pupuk tersebut nantinya akan dikirim oleh PT. Petrokimia Gresik, namun tidak dicantumkan siapa penerimanya. Pengambilan pupuk bersubsidi tersebut juga tanpa delivery order (DO) maka dari itu pupuk tersebut disita oleh Polresta Pekalongan.

4) Ahli kasus tindak pidana korupsi

Aris diketahui memang berpengalaman dalam menghadapi berbagai kasus korupsi. Bahkan, ada beberapa kasus besar yang berhasil dia ungkap. Salah satunya adalah penetapan RJ Lino sebagai tersangka dalam kasus proyek pengadaan quay container crane pada anggaran tahun 2010 di PT Pelindo. Sayangnya, kendati sudah ditetapkan sebagai tersangka, kasus tersebut justru mandek di tengah jalan.

Kasus lain yang berhasil dia ungkap yakni pembangunan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) yang menghabiskan dana Rp 545 miliar, kasus korupsi pengadaan UPS (Uninterruptible Power Supply) yang menyeret sejumlah nama anggota DPRD DKI, dan dugaan pemungutan biaya pembuatan paspor dengan terdangka mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana.

5) Didesak untuk dipecat

Pasca kemunculannya dalam rapat pansus kemarin, muncul desakan agar lembaga anti rasuah itu memecat Aris. Sebab, ia dianggap sebagai kuda troya yang justru akan menggembosi upaya pemberantasan korupsi dari dalam.

Saat ini, pengawas internal KPK terus menggali informasi mengenai adanya dugaan permainan tujuh penyidik dalam kasus korupsi KTP Elektronik. Ada tiga penyidik yang diperiksa, termasuk salah satunya Aris.

"Ada sekitar dua orang atau beberapa penyidik sudah klarifikasi ke pengawas internal," ujar juru bicara KPK Febri Diansyah di gedung KPK.

Namun, Febri enggan mengungkap latar belakang penyidik yang telah diperiksa. Apakah berasal dari kepolisian atau penyidik independen, termasuk apakah soal penyidik tersebut masih aktif atau tidak.

Dua amalan utama di bulan Muharam
Menjadikan Indonesia kiblat maritim dunia
4 golongan yang dicintai Allah
Menyatukan Soksi Golkar dengan Munas
Sektor ini raup Rp1.500 triliun per tahun, Anda tertarik?
Fetching news ...