Ideas Law

Jemput paksa Novanto

REPORTED BY: Fathor Rasi

Jemput paksa Novanto

Ketua Umum Partai Golkar yang juga Ketua DPR RI, Setya Novanto lagi-lagi mangkir dari panggilan pemeriksaan KPK sebagai tersangka dalam kasus e KTP. Sakit menjadi dalih mangkirnya Novanto dari penggilan KPK yang kedua kalinya ini.

"Setya Novanto mangkir panggilan KPK hari ini, maka setelah panggilan kedua harus dengan upaya paksa membawa atau menangkap," kata Koordinator MAKI, Boyamin Saiman di Jakarta, Senin (11/9).

Pemanggilan paksa kepada Novanto yang telah ditetapkan sebagai tersangka merupakan suatu kewajaran. Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) UU No 8 Tahun 1981 pasal 112 ayat 1 dan 2, penyidik dapat memanggil paksa seorang saksi atau tersangka.

Boyamin menceritakan, dirinya pernah dipanggil paksa oleh Polri meskipun berstatus sebagai saksi. "Aku pernah mengalami upaya paksa perintah membawa meskipun status masih saksi setelah panggilan pertama tidak hadir di Polres Jakarta Selatan," tuturnya.

Dia pun mendesak KPK harus membuat second opinion terhadap surat keterangan sakit Setya Novanto.

Akal-akalan Novanto

Ketidakhadiran Novanto diperiksa sebagai tersangka oleh KPK hari ini dikarenakan sakit, gula darahnya naik sehingga berimplikasi pada fungsi ginjal dan jantung. Dikabarkan, Novanto tengah dirawat di RS Siloam Semanggi Jakarta. Surat keterangan sakit Novanto diantar langsung oleh Sekjen Golkar, Idrus Marham.

Namun petinggi Golkar yang enggan disebut namanya menyebutkan bahwa Novanto mencari-cari cara agar tidak datang penuhi panggilan KPK. "Itu akal-akalan Novanto saja, gak mau datang ke KPK. Sebab infonya, kalau datang ke KPK, Novanto langsung ditahan," demikian ia menyebutkan.

Bahkan, ia memperkirakan Novanto akan datang ke sidang praperadilan Novanto besok.

Jemput paksa Novanto

Ketua Generasi Muda Partai Golkar (GMPG), Ahmad Doli Kurnia mengkritik komitmen Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lantaran tidak menjalankan tugasnya dengan profesional.

Pasalnya, meskipun Ketua DPR Setya Novanto telah ditetapkan sebagai tersangka dan telah dipanggil selama selama dua kali untuk diperiksa, dia tetap tidak datang dan KPK masih bersikap pasif dengan tetap membiarkan ketua DPR itu melenggang bebas.

"Kalau besok tidak datang, sudah tiga kali, saya kira KPK harus jemput paksa, supaya juga memenuhi rasa keadilan. Irman dan Sugiharto, begitu ditetapkan sebagai tersangka, gak beberapa lama kemudian ditahan. Andi narogong, siangnya ditetapkan tersangka, malamnya ditahan. Ini kok udah sampai satu setengah bulan lebih gak ditahan-tahan?," katanya di D'Hotel, Manggarai, Jakarta Selatan, Minggu (10/09/2017).

Selain itu, ia juga berharap supaya ketua umum Golkar itu tidak mangkir lagi sebagaimana yang dilakukan pada pemanggilan pertama dan kedua. "Saya berharap besok, pertama gini, Pak SN (Setya Novanto) ini sudah yang ketiga kali besok (Dipanggil KPK), yang pertama gak datang, yang kedua gak datang," ujarnya.

Dua amalan utama di bulan Muharam
Menjadikan Indonesia kiblat maritim dunia
4 golongan yang dicintai Allah
Menyatukan Soksi Golkar dengan Munas
Sektor ini raup Rp1.500 triliun per tahun, Anda tertarik?
Fetching news ...