Ideas Law

Menghukum maksimal predator anak

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Menghukum maksimal predator anak

Anggota Komisi VIII DPR RI Endang Maria Astuti mendorong pihak aparat penegak hukum untuk memberikan hukuman seberat-beratnya terhadap pelaku kekerasan seksual terhadap anak.

“Saya sedih, sekaligus marah dan prihatin mendengar adanya kasus phedofilia dengan korban sebanyak 25 anak. Saya juga mengapresiasi jajaran kepolisian yang telah berhasil membongkar kasus tersebut. namun tentunya tugas aparat penegak hukum tidak berhenti di sini, saya berharap dan mendorong agar aparat penegak hukum memberikan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku, agar menimbulkan efek jera kepada pelaku, sekaligus memberi contoh kepada orang lain untuk berpikir ulang jika ingin melakukan hal serupa,” ungkap Endang di Jakarta Senin, (08/01/2018).

Dijelaskan Endang, perilaku phedofilia itu tidak hanya merusak masa depan anak-anak. Tapi juga memberikan efek lain yang lebih membahayakan lagi, yakni kemungkinan para korban akan menjadi pelaku phedofilia di kemudian hari. Namun, untuk menghindari itu semua perlu perhatian yang ekstra dari orang tua, keluarga dan lingkungan.

“Dalam kasus yang terkait anak-anak, jelas peran orang tua sangat dibutuhkan, yakni untuk lebih mendekatkan diri pada anak sehingga anak menjadi lebih terbuka kepada orang tua. Di saat itulah orangtua dapat mengamati perilaku dan kebiasaan anak sekaligus memberikan pendidikan dan pelajaran bagaimana harus memproteksi atau melindungi diri dari oranglain,” paparnya.

Politisi dari Fraksi Partai Golkar ini menyadari bahwa usia anak 13-14 tahun merupakan masa peralihan dari anak-anak ke remaja awal, sekaligus masa anak menjadi sulit untuk diberitahu. Namun, kedekatan orang tua yang ikut memposisikan diri sebagai teman anak akan memudahkan anak untuk tidak takut dan ragu bercerita tentang berbagai hal. Di saat itu, orang tua dapat mendeteksi secara dini apa yang terjadi dalam kehidupan sang anak, plus memberi pelajaran ke anak untuk selalu waspada terhadap orang lain.

Sementara itu terkait peran KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) yang merupakan mitra kerja Komisi VIII DPR RI, Endang mengakui bahwa selama ini kewenangan dari mitra kerjanya itu hanya sebatas melakukan pendataan dan menampung laporan, jika kemudian ditemukan kasus, KPAI baru melakukan pendampingan.   

“Sebenarnya masih banyak yang bisa dilakukan KPAI selain melakukan pendataan, menampung laporan, dan baru kemudian melakukan pendampingan terhadap korban jika diketemukan kasus terhadap anak. Misalnya, dengan mengadakan sosialisasi ke lingkungan rumah tangga dan ke sekolah agar tidak terjadi lagi kasus serupa: predator anak, pelecehan  seksual terhadap anak ataupun tindak kekerasan terhadap anak. Tentunya sosialisasi ini juga tidak semata merupakan tugas dari KPAI, namun juga tugas seluruh pihak, termasuk orang tua pastinya, guru-guru, tokoh agama dan masyarakat,” pungkasnya.

Kasus Babeh

Sebelumnya, media ramai memberitakan WS alias Babeh (49) yang ditangkap polisi karena menyodomi 25 anak di Kabupaten Tangerang, Banten. Tersangka sehari-hari bekerja sebagai guru honorer di Rajeg, Kabupaten Tangerang.

Kasat Reskrim Polresta Tangerang Kompol Wiwin Setiyawan mengatakan tersangka sudah 2 tahun menjalani profesi itu. Babeh ditangkap karena dituduh menyodomi 25 anak sejak April hingga Desember 2017. Korban Babeh berusia 10-15 tahun.

Sementara itu, Kapolresta Tangerang Kombes Sabilul Alif menyampaikan bahwa peristiwa itu berawal di Kampung Sakem, Desa Tamiang pada bulan April 2017 saat istri tersangka sudah 3 bulan menjadi TKW di Malaysia.

Menurut Babeh, anak-anak sering mendatanginya di gubug yang didirikan karena menganggap dia memiliki ajian Semar Mesem dan bisa mengobati orang sakit.

"Aksi bejat tersangka terungkap setelah dia menyodomi 3 anak pada 2 Desember lalu. Salah seorang korban bercerita kepada orang tuanya yang akhirnya melapor ke polisi," terang Sabilul Alif, Jumat (5/1/2018).

Tersangka berhasil ditangkap pada tanggal 20 Desember 2017 di kediamannya di Kampung Sakem, Desa Tamiang, Kecamatan Gunung Kaler, Kabupaten Tangerang.

Hingga saat ini proses kasus Phedophilia yang dilakukan Babeh terhadap 25 anak sudah memasuki tingkat penyidikan pemeriksaan saksi-saksi dan para korban serta dalam proses pemberkasan. Polisi menyita barang bukti berupa 1 kaos lengan pendek, 1 celana pendek berwarna biru-ungu, dan telepon genggam. Tersangka dijerat Pasal 82 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman penjara paling lama 15 tahun.

Catatan tentang kekerasan terhadap perempuan sepanjang 2017
Aturan berbelit bukan prestasi
Pemetaan daerah rawan konflik Pilkada
Kekuatan Islam harus bersatu tekan Israel
Impor beras, kanker stadium 4
Fetching news ...