Ideas Law

Lantunan Azan dalam demo sasar Sukmawati

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Lantunan Azan dalam demo sasar Sukmawati Aksi demo menuntut Sukmawati Soekarnoputri

Massa Persaudaraan Alumni 212  yang berunjuk rasa melantunkan azan sebagai perlawanan terhadap puisi Sukmawati Soekarnoputri "Ibu Indonesia", yang di dalamnya menyebut suara kidung lebih bagus daripada azan.

"Mari kita dengarkan azan yang disebut-sebut tidak semerdu kidung oleh Sukmawati," kata salah satu orator menggunakan pengeras suara di depan kantor Badan Reserse Kriminal Polri di Jalan Medan Merdeka Timur Jakarta, Jumat (06/04/2018) siang.

Seusai azan dikumandangkan, para pendemo memekikkan takbir "Allahu Akbar!". Sesudahnya seorang demonstran melantunkan ayat-ayat dari kitab suci Alquran.

Para pengunjuk rasa menilai puisi Sukmawati Soekarnoputri menghina Islam karena membandingkan konde dengan cadar, dan kidung dengan azan.

Setelah salat Jumat di Masjid Istiqlal, mereka bergerak menuju Bareskrim, memadati Jalan Medan Merdeka Timur dari kedua arah. Di antaranya ada yang membawa atribut dan panji-panji organisasi massa Islam seperti Front Pembela Islam, Laskar Pembela Islam dan Persaudaraan Muslimin Indonesia.

Sejumlah pengendara yang melewati jalan tersebut, terutama dari arah Masjid Istiqlal, terpaksa berbalik arah. Pengendara dari arah Patung Pak Tani juga memilih berbelok ke Jalan Medan Merdeka Selatan.

Orator dalam aksi protes untuk mendesak polisi menangkap dan menahan Sukmawati Soekarnoputeri karena puisi kontroversialnya yang berjudul "Ibu Indonesia" mengemukakan keinginan demonstran bertemu dengan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Pol Ari Dono Sukmanto.

"Akan ada delegasi yang masuk. InsyaAllah akan ditemui Kabareskrim," kata seorang orator dari atas mobil komando.

"Negara Indonesia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Namun mengapa penghinaan terhadap agama Islam dibiarkan," sambungnya.

Demonstrasi itu dipicu oleh puisi yang dibacakan Sukmawati—adik kandung Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri—di ajang Indonesia Fashion Week 2018 beberapa waktu lalu.

Dalam demonstrasi yang dinamai Aksi Bela Islam itu, sorak sorai teriakan demonstran yang menuntut penangkapan putri presiden pertama RI Soekarno sempat terhenti sejenak saat azan dilantunkan. Usai mengumandangkan azan, ada seorang pengunjuk rasa yang membacakan ayat Alquran.

Sukmawati sebelumnya sudah meminta maaf kalau puisinya menyinggung umat Islam. Ia mengatakan puisi ini mewakili dirinya sebagai pribadi dan tidak ditujukan untuk menghina umat Islam Indonesia.

“Dengan ini dari lubuk hati yang paling dalam saya minta maaf lahir batin kepada umat Islam Indonesia khususnya bagi yang merasa tersinggung dan berkeberatan dengan puisi Ibu Indonesia,” kata Sukmawati di Jakarta, Rabu (04/04).

Puisi itu dibacakan Sukmawati dalam bagian peragaan busana "Sekarayu Sriwedari" yang memperingati 29 tahun perancang Anne Avantie berkarya di Indonesia Fashion Week, Kamis (29/03/2018).

Isi puisi yang jadi polemik adalah menyebut konde ibu Indonesia lebih cantik dari cadar, juga kidung ibu Indonesia yang lebih merdu dari alunan azan.

Menurut Sukmawati, puisi yang dibacanya sesuai dengan tema pagelaran busana cultural identity yang semata-mata merupakan pandangannya sebagai seniman dan budayawati, puisi itu murni sastra Indonesia.

Sukmawati mengatakan puisi ini mewakili dirinya sebagai pribadi tanpa ada niat menghina umat Islam Indonesia.

“Saya adalah seorang muslimah yang bersyukur dan bangga atas keislaman saya, putri dari seorang Proklamator Bung Karno yang dikenal juga sebagai tokoh Muhammadiyah dan juga tokoh yang mendapatkan gelar dari Nahdhatul Ulama sebagai Waliyul Amri Ad Dharuri Bi Assyaukah (pemimpin pemerintahan di masa darurat yang kebijakan-kebijakannya mengikat secara de facto dengan kekuasaan penuh),” katanya.

Selain itu, puisi yang dibacakannya termasuk dalam buku Kumpulan Puisi Ibu Indonesia yang pernah terbit pada 2006. Puisi itu adalah cerminan keprihatinan tentang wawasan kebangsaan dan dirangkum untuk menarik perhatian anak-anak bangsa untuk tidak melupakan jati diri asli Indonesia.

Sukmawati pun mengatakan puisi itu adalah bentuk ekspresi melalui “suara kebudayaan” sesuai tema acara. Ia juga tergerak untuk semakin memahami masyarakat Islam Nusantara yang berkemajuan seperti cita-cita mendiang ayahnya.

“Dalam hal ini Islam yang bagi saya begitu agung, mulia dan indah.”

Puisi tersebut juga bentuk penghormatannya pada Ibu Pertiwi yang kaya budaya dengan masyarakat yang beragam namun tetap satu.

Dia juga meminta maaf pada perancang Anne Avantie dan keluarga, serta berterimakasih dan mengapresiasi semua perancang busana supaya tetap produktif berkarya.

Langkah Kemendag amankan harga sembako saat puasa dan lebaran
TKA diistimewakan, TKI kurang terlindungi
Buktikan tak antikritik, DPR gelar lomba
TNI evakuasi guru korban perkosaan gerombolan separatis Papua
Usia minimal perkawinan dalam UU sudah tak relevan dengan zaman
Fetching news ...