Ideas Law

Mengingat 3 horor perkosaan di Indonesia

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Mengingat 3 horor perkosaan di Indonesia

Sebentar lagi kita akan memperingati Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, tepatnya pada 25 November sampai 10 Desember mendatang.

Kampanye tersebut awalnya merupakan kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. Aktivitas ini sendiri pertama kali digagas oleh Women’s Global Leadership Institute pada tahun 1991 yang disponsori oleh Center for Women’s Global Leadership.

Kampanye ini selalu relevan karena kasus perkosaan belum tampak tanda-tanda akan lenyap di muka bumi. Di Indonesia sendiri, ada sejumlah kasus horor perkosaan, yang seharusnya dapat menjadi titik tolak untuk menyadarkan semua pihak supaya menjaga hak-hak dan marwah perempuan.

1. Perkosaan massal Mei 1998

Pada peristiwa Mei 1998, lebih dari 150 orang perempuan etnis Cina mengalami perkosaan dan pelecehan seksual, demikian catatan sebuah tim relawan kasus Mei 1998. Hingga kini, 20 tahun kemudian, tidak ada kasus yang pernah disidangkan.

Sepanjang Mei 1998, Tim Relawan untuk Kekerasan terhadap Perempuan melakukan pendataan para korban perkosaan tak hanya di Jakarta, namun juga di Medan dan Surabaya. Jumlah korban mencapai 150 orang, namun diperkirakan banyak yang tidak melaporkan kasusnya.

Dibantu Prof. Saparinah Sadli yang juga anggota tim relawan, Tim bertemu dengan Presiden BJ Habibie. Dalam pertemuan itu, Habibie secara khusus bertanya mengenai kekerasan seksual yang dialami perempuan keturunan Cina.

Setelah itu, Habibie bersedia membuat permintaan maaf atas nama pemerintah. Sikap Habibie itu dipertanyakan oleh Letjen Sintong Pandjaitan yang saat itu menjadi penasihat militer presiden.

Saat itu juga, permohonan maaf disusun untuk dibacakan di depan wartawan di Istana. Selain menyatakan mengutuk dan meminta maaf atas kerusuhan Mei kepada para korban, presiden juga membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta, dan keputusan untuk mendirikan Komnas Perempuan.

Sebelumnya Tim telah berupaya untuk bertemu dengan pelapor khusus kekerasan perempuan PBB, Radhika Coomarswary, di Sri Lanka. Hasil pertemuan itu, tim diminta untuk memfasilitasi laporan tersebut yaitu Asia Pasific Women Law and Development di Bangkok, Thailand.

Radhika kemudian membuat laporan ke Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa Swiss, dan melakukan investigasi ke Indonesia pada November 1998.

Tak hanya kasus perkosaan Mei, kasus kekerasan terhadap perempuan di Aceh, Papua dan Timor Leste juga dilaporkan ke PBB.

Berbagai ancaman diterima oleh para korban, saksi dan juga pendamping yang berbicara mengenai perkosaan Mei 1998 secara terbuka.

Pada Oktober 1998, seorang anggota tim relawan, Ita Martadinata Haryono (18 tahun) dibunuh satu minggu sebelum menyampaikan kesaksian di PBB bersama dengan ibunya Wiwin Haryono dan komunitas Buddha. Ita meninggal akibat luka pada bagian leher dan vagina. Pembunuhnya sampai saat ini tak pernah terungkap.

Dalam laporan Komnas Perempuan yang berjudul “Disangkal!” dikisahkan seorang korban dengan nama samaran Lani, seorang pedagang kue yang diperkosa lalu diselamatkan Haji Ramli (bukan nama sebenarnya).

Ketika mengetahui Lani merupakan korban perkosaan, suaminya tidak mau mengakui dia sebagai istrinya, tidak mau menyapa dan bahkan mengusirnya karena dianggap sebagai pembawa petaka dan aib.

2. Perkosaan Yuyun

Yuyun, seorang siswi SMP Negeri 5 di Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejanglebong, Provinsi Bengkulu, pada April 2016 ditemukan meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan tanpa busana.

Jasad pelajar SMP ini, kata dia, ditemukan warga yang melakukan pencarian korban bersama dengan pihak keluarganya sekitar pukul 08.30 WIB, lantaran tidak pulang ke rumah sejak dua hari sebelumnya.

Korban ditemukan dalam keadaan sudah meninggal dunia di dalam jurang dan tubuhnya ditutupi dengan daun pakis. Posisi badan tertelungkup ditutupi daun pakis dalam keadaan tangan dan kaki terikat menjadi satu oleh tali yang terbuat dari karung.

Mayat korban saat ditemukan warga dalam keadaan sudah membusuk dan dipenuhi belatung serta hanya mengenakan kaos dalam, sementara bra, celana dalam serta pakaian sekolahnya tidak ditemukan.

Yuyun adalah korban perkosaan geng dengan 12 pelaku. Tujuh orang berstatus anak-anak (di bawah 17 tahun) dan lima lainnya dewasa.

Para pelaku sudah merencanakan aksi bejat tersebut pada malam sebelum kejadian dengan melakukan pengamatan terhadap aktivitas Yuyun. Di pagi hari, mereka pesta miras, sambil membagi tugas, yang di antaranya adalah membawa si almarhumah dari jalan ke semak-semak. Yuyun diperkosa dalam perjalanan ke rumah usai pulang sekolah pada Sabtu 2 April 2016 pukul 13.00.

Tujuh dari 12 tersangka pelaku pemerkosaan dan pembunuhan Yuyun divonis hakim Pengadilan Negeri Curup, Bengkulu, selama 10 tahun penjara. Sebanyak 7 pelaku tersebut, yang salah satunya adalah kakak kelas korban di SMP, dianggap masih berstatus anak di bawah umur. 

Hakim juga menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang akan dijalani para pelaku dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dikenakan.

Semantara itu, Zainal alias Bos (23), otak pelaku, divonis hukuman mati. Zainal juga terbukti sebagai eksekutor yang menyebabkan korban warga Kasie Kasubun itu mengembuskan napas terakhir.

Dalam sidang yang sama, empat pelaku lainnya Tomi Wijaya (19) alias Tobi, M Suket (19), Mas Bobby (20), dan Faisal alias Pis (19), masing-masing dijatuhi hukuman 20 tahun penjara. Mereka juga diwajibkan membayar biaya perkara Rp 2.000, serta denda Rp2 miliar atau hukuman pengganti tiga bulan penjara. Mereka sempat meminta dihukum mati dalam pledoi pada 15 September 2016. Saat itu jaksa hanya menuntut hukuman 20 tahun penjara seperti vonis yang akhirnya dijatuhkan hakim. 

Ketua Tim Penasehat Hukum mereka sempat menduga ada intimidasi antar sesama terdakwa atau pihak lainnya hingga kemudian bersepakat minta dihukum mati.

3. Perkosaan terhadap Eno

Mei 2016, tiga pemuda laknat Rahmat Alim (16), Rakhmat Arifin (24) dan Imam Hapriadi(24) berkomplot untuk memperkosa Eno Parihah (19), karyawati PT Polyta Global Mandiri (PGM) beramai-ramai sebelum akhirnya membunuh korban secara sadis dengan memasukan gagang pacul ke vaginanya.  

Pelaku bersama-sama merencanakan perkosaan, dan membunuh dengan pacul. Ada yang berperan membekap, memacul, memasukkan. Semua punya peran masing-masing karena dilatari dendam.

Rakhmat mengaku pernah mendapat kata-kata pahit dan dibilang jelek oleh Eno; Rahmat Alim mengaku dendam karena pernah meminta bersetubuh dan ditolak; Imam kesal karena sudah melakukan pendekatan berkali-kali, tapi tidak digubris oleh korban.

Akibat aksi sadis tersebut, Imam Hapriadi dan Rakhmat Arifin divonis mati oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Tangerang pada 8 Pebruari 2017. Sementara itu, Rahmat Alim pada Juni 2016 hanya mendapatkan vonis 10 tahun penjara karena dianggap masih di bawah umur saat melakukan aksinya.

Kekerasan seksual menjadi keprihatinan para aktivis perempuan. Di antara mandat Komnas Perempuan adalah meningkatkan kesadaran publik bahwa hak perempuan adalah Hak Asasi Manusia (HAM). Oleh karena itu, kekerasan terhadap perempuan adalah pelanggaran HAM.

Penghapusan kekerasan terhadap perempuan membutuhkan kerja bersama dan sinergi dari berbagai komponen masyarakat untuk bergerak secara serentak, baik aktivis HAM Perempuan, pemerintah, maupun masyarakat secara umum.

Nasdem klaim TGB bergabung
PKB siap sumbang kubu Jokowi 25 juta suara
Ini kritik PDIP terhadap Kubu Jokowi
PKB akui Ma'ruf Amin benteng Jokowi dari tuduhan anti-Islam
Suku Yei Papua sambut “kado Natal” dari prajurit TNI
Penyair Singapura baca puisi di Ruang Baca Rimba Bulan
PDIP dituding rusak atribut Demokrat, Hanura: Jangan tuduh tanpa bukti
PAN sebut yang dukung Jokowi di Sumsel bukan kadernya
Sandi sebut Jateng ingin ganti presiden, Djarot: Upaya menghibur diri
TKN: Iklan kerja kerja kerja Gerindra garing dan tak inovatif
Manajer Repsol Honda: Rossi tak bisa terima masa kejayaannya habis
Rossi bingung mengapa dirinya masih populer
PKH efektif atasi kemiskinan
Rayakan HUT, BRI beri beasiswa puluhan milyar untuk ribuan orang
IHSG diprediksi menguat tunggu putusan The Fed
Fetching news ...