Orang tua parasit

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Orang tua parasit "Let us sacrifice our today so that our children can have a better tomorrow." - A. P. J. Abdul Kalam

Menjadi parasit dalam kehidupan orang lain seharusnya menjadi hal paling memalukan, tak hanya bagi anak tetapi juga orang tua.

Pada saat jasmani dan rohani dalam kondisi sehat, hidup mandiri adalah marwah yang harus dijunjung tinggi. Seorang pemuda yang gagah sepatutnya menjunjung tinggi rasa malu ketika meminta uang ke orang tua. Sebaliknya, orang tua juga demikian, ketika tubuh masih perkasa, menjadikan anak sebagai inang harus dianggap aib.

Jangan sekali-kali menjadi orang tua spesies benalu, apalagi kepada anak yang dia sendiri belum mapan kehidupannya.

“Kurang, Put. Di kampung sedang banyak kondangan,” kata ibu dari Putri meminta tambahan uang setelah ditransfer sebanyak Rp600 ribu melalui sambungan telepon.

"Diingatkan supaya tidak kondangan dulu karena tidak ada uang, katanya malu," lanjutnya. 

Putri (19) adalah remaja yang bekerja di Jakarta sebagai pembantu rumah tangga dengan gaji bulanan Rp1,5 juta. Dia sudah bekerja tiga tahun lalu, tepat setelah tamat SMP.

Putri tidak tinggal bersama majikannya, dia bekerja selama 10 jam sehari dari Senin hingga Jumat. Pada akhir pekan, dia masuk selama 3-4 jam di pagi hari, karena siang hingga senja dia harus belajar untuk program paket C, yang jika tanpa aral akan dia selesaikan tahun depan. Dia bercita-cita ingin melanjutkan studi di perguruan tinggi.

Selama tiga tahun bekerja di Jakarta, tak sedikit pun uang tabungan yang dia miliki untuk modal menatap impiannya masuk bangku kuliah. Uangnya selalu habis untuk bayar kosan dan keluarganya, sementara dia mendapatkan makan dan kudapan gratis di rumah majikan.

“Bapak bekerja sebagai tukang becak di Bandung. Semuanya masih sehat,” kata Putri menjelaskan kondisi keluarganya.

Ibu Putri hafal betul tanggal gajiannya. Setiap tanggal gajian, ibunya selalu menelepon untuk mengingatkannya mengirim uang. Minimal dia harus kirim Rp500 ribu.

“Pernah aku pulang kampung dan mau balik ke Jakarta. Kubilang bahwa uangku tinggal sedikit dan hanya cukup untuk ongkos dan keperluan sampai gajian bulan berikutnya. Eh,,, dompetku diminta, terus uang Rp300 ribu diambil, disisakan untuk bayar bis,” kenangnya.

Saat ditanya apakah ibunya akan kelaparan jika uang kiriman dia hentikan, Putri menegaskan jika itu tidak akan terjadi karena ibunya masih muda dan dapat bekerja, selain ayahnya yang rutin kirim uang tiap bulan. Orang tuanya masih mengasuh satu anak usia SD, yakni adik dari Putri, sedangkan kakak lelakinya merantau untuk bekerja.

“Aku sudah bilang, uangnya untuk sekolah, tapi masih gitu,” ungkap Putri yang mengaku SPP untuk program paket C yang dia ikuti sudah menunggak beberapa bulan.

Sama seperti banyak anak lain yang berada di posisinya, Putri sangat kuatir menjadi anak durhaka apabila tidak menuruti permintaan ibunya. Padahal, ada sesuatu yang lebih besar yang harus dia wujudkan, yaitu masa depan. Dia tak ingin selamanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Artikel ini tidak hendak menganjurkan anak-anak supaya mengabaikan permintaan orang tua, tetapi mari kita lihat kasus yang dialami Putri dari sudut pandang kita sebagai orang tua yang bertanggung jawab.

Ada sebuah ungkapan bahwa kemandulan sejati bukanlah tidak dapat melahirkan anak tetapi ketidakmampuan mendidik anak-anak yang sudah dilahirkan. Melahirkan banyak anak tetapi hanya menjadi penyumbang limbah peradaban dan menaikkan statistik kriminal dan kebodohan adalah kemandulan yang sesungguhnya.

Apabila tidak mampu memberikan anak pendidikan yang layak, minimal orang tua tidak menjadi penghambat niatnya untuk menjadi terdidik; jika tak mampu memastikan kesejahteraan anak, jangan sampai menjadi benalu. Menjadi orang tua adalah pilihan dengan segala konsekwensinya; jangan sekali-kali menimpakan apa yang menjadi tanggung jawab kita kepada anak, terutama kebutuhan hidup kita sendiri.

Apa yang dialami Putri sekadar satu dari banyak anak-anak lain yang masa depannya menjadi buram karena memikul beban sebelum waktunya.

Jangan sekali-kali menjadi orang tua yang memanfaatkan mitos-mitos kedurhakaan untuk mengeksploitasi anak, padahal di saat yang sama tidak menjalankan fungsi yang semustinya sebagai orang tua.

Jangan pula memaksakan dalil-dalil ketaatan anak kepada orang tua, sementara dalil-dalil dalam Kitab Suci tentang kewajiban orang tua dicampakkan.

Hentikan memuji-puja anak-anak yang telah mengorbankan masa depan dan kebahagiaan demi orang tuanya. Masing-masing kita bertanggung jawab atas kebahagiaan kita sendiri, sehingga jika ada orang lain yang menanggung tugas itu, berarti diri patut dicela. Pujian terhadap anak tersebut hanya akan menjadi legitimasi atau pembenaran atas laku memperkuda anak-anak oleh orang tua.

Dengan menjadi orang tua, kita tetap menjadi manusia, yang berarti ada kemungkinan melekat segala sifat buruk yang dimiliki manusia secara umum, termasuk sanggup menikmati status sebagai parasit. Menjadi orang tua bukan berarti secara otomatis orang mendadak berubah menjadi malaikat dengan merasa diri selalu benar, termasuk menumbalkan anak-anak untuk menutupi rasa malu atau kemiskinan kita sendiri.

Setiap kita yang sudah memiliki anak wajib meletakkan keutamaan orang tua sebagai pengemban misi Tuhan untuk melestarikan alam dengan bertanggung jawab penuh kepada anak-anak kita. Jika tidak mampu, setidaknya jangan menjadi parasit. Menjadi benalu bagi anak-anak tidak hanya menjadi cacat bagi diri sendiri, tetapi juga akan dipandang sebagai pereduksian terhadap kemuliaan status orang tua.

Dua amalan utama di bulan Muharam
Menjadikan Indonesia kiblat maritim dunia
4 golongan yang dicintai Allah
Menyatukan Soksi Golkar dengan Munas
Sektor ini raup Rp1.500 triliun per tahun, Anda tertarik?
Fetching news ...