Saya tidak minta dilahirkan

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Saya tidak minta dilahirkan ilustrasi

Seorang anak pasti dianggap durhaka atau bahkan dikutuk oleh masyarakat ketika melontarkan kalimat “Aku tidak minta dilahirkan” kepada orang tuanya. Kalimat ini terkadang terlontar dari mulut anak saat konflik dengan orang tua mencapai klimaks.

Secara semantik, kalimat tersebut tidak ada yang salah; anak memang tidak memilih orang tua yang akan melahirkan atau mengasuhnya. Kalau bisa meminta, seorang anak mungkin ingin dilahirkan dari benih seorang nabi, bukan orang tua yang tak pernah belajar bagaimana seharusnya mengasuh anak.

Kalimat tersebut dianggap salah hanya karena diucapkan oleh anak. Sebagian masyarakat kita cenderung tidak memberikan tempat bagi seseorang dalam posisi lemah untuk bersuara. Selama ini, kita diajarkan untuk mentaati orang tua secara mutlak, bahkan pada titik menyerahkan identitas sekalipun—menuruti apa pun keinginan orang tua meskipun itu bertentangan dengan keinginan sendiri. Kita telanjur menerima mentah-mentah kaedah “permintaan orang tua harus dituruti, selama bukan keburukan.”

Pada praktiknya, kaedah tersebut menutup alternatif-alternatif kebaikan; mengubahnya menjadi satu-satunya yang baik adalah kebaikan versi orang tua. Kaedah tersebut mengubah anak dari “amanah” menjadi “properti”, dari “titipan” menjadi “investasi”.

Ada ketimpangan dalam hubungan orang tua-anak. Anak selalu dituntut menjadi pribadi yang baik, taat, dan berbakti kepada orang tua. Hal ini dikondisikan bahkan sebelum waktunya, misalnya anak batita sudah harus menurut apa kata orang tua: jika tidak, dia akan dihukum—sebuah sanksi tanpa kesempatan banding.

Di sekolah dan di tempat ibadah, orang tua selalu menitipkan pesan supaya anaknya diajari kebaktian kepada mereka. Sementara itu, orang tua tidak pernah secara serius belajar tentang pernikahan dan parenting sebelum menikah atau berhubungan badan (dengan risiko hamil).

Saya sebut pernikahan sebagai bagian dari parenting karena inti dari sistem keluarga adalah pernikahan. Jika hubungan pernikahan baik, pasangan akan menjalankan perannya sebagai ayah dan ibu dengan baik pula. Jika hubungan pernikahan orang tua berantakan, anak otomatis akan terdampak.

Kita lihat kisah miris dari Karawang, Jawa Barat, baru-baru ini. Calista, bayi berusia 15 bulan meninggal pada Ahad (25/03/2018). Calista meninggal dunia setelah menjalani perawatan selama 15 hari, usai terbaring koma karena kerusakan pada otak akibat siksaan ibunya, Sinta (27).

Jika ada kasus seperti ini (ibu menyiksa/membunuh anak), jawabannya pasti tak jauh-jauh dari berantakannya kondisi pernikahan orang tua: perceraian, suami tak manjalankan fungsinya (mencukupi kebutuhan), atau KDRT.

Anak adalah anugerah, amanah dan titipan Tuhan kepada orang tua. Anak memiliki raga dengan jiwa yang otonom. Raga tersebut tidak boleh diisi oleh jiwa orang tua, apalagi dihilangkan fungsinya (mati). Jika belum memahami ini, jangan memiliki anak. Kalau perlu, jangan menikah terlebih dulu.

Desakan hasrat seksual jangan dijadikan legitimasi sebagai keabsahan untuk mengasuh seorang anak manusia. Anak manusia tidak dapat diasuh oleh orang dengan mental kanak-kanak (adult-child), yang masih bergantung dan tidak dapat hidup mandiri.

Jika Anda seorang perempuan, ketika perceraian bakal membuat Anda tidak mampu menafkahi Anda dan anak Anda, sebaiknya tunda dulu pernikahan. Jika Anda laki-laki dan tidak memiliki potensi sebagai suami dan ayah yang baik, jangan ajak anak orang untuk menikah. Jika memaksa, yang bakal menjadi korban dari sistem pernikahan tidak hanya Anda tetapi juga anak-anak yang Tuhan titipkan kepada Anda berdua. Atau, lebih luas, Anda memproduksi spesies manusia yang bakal menjadi perusak.

Jika organ reproduksi Anda sudah matang, bukan berarti Anda otomatis matang mengasuh anak yang Anda produksi. Anda butuh belajar menjalani fungsi baru sebagai orang tua dalam fase perkembangan Anda sebagai seorang manusia. Jika tak mau belajar menjadi orang tua dan bertanggung jawab, mengapa berani-beraninya Anda siap mengemban amanat? Jika tidak bisa menyetir, jangan ambil kunci mobil yang ditawarkan oleh teman untuk Anda sopiri. Katakan saja tidak bisa; Anda tidak perlu berlagak sok bisa, lalu berakhir celaka.

Calista dan anak-anak malang lain tidak minta dilahirkan. Anda sendiri yang menyebabkannya lahir ke dunia, lalu kelahiran itu Anda renggut dan ubah menjadi kematian atau kegetiran.

Israel akan terus serang Suriah meski dibantu Rusia
Rizieq Shihab didiskriminasi di Arab Saudi
 Disoraki mahasiswa saat sebut Prabowo, Zulhas anggap bagian dari ekspresi
Rusia tuding Israel penyebab jatuh pesawat Ilyushin II-20
Rahasia menghasilkan anak seperti Sandiaga Uno
Meskipun menang pilpres, Prabowo tak bisa intervensi kasus Buni Yani
Golkar panggil caleg yang dukung Prabowo
 Fadli Zon laporkan balik Rian Ernest soal potong bebek angsa PKI
Berebut magnet Yenny Wahid
Bamsoet harap Yenny Wahid dukung Jokowi
Golkar anggap dukungan kadernya ke Prabowo bukan suara resmi partai
Forum caleg Golkar dukung Prabowo-Sandiaga Uno
Golkar nilai perempuan penentu utama, bukan objek pelengkap
Menyusui tandem butuh dukungan ayah ASI
Mardani dapat tugas kawal suara emak-emak
Fetching news ...