Kelemahan IRT dalam mengurus anak

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Kelemahan IRT dalam mengurus anak

Menjadi ibu rumah tangga (IRT) alias tidak berkarir di luar rumah ternyata tidak otomatis membuat seorang perempuan sempurna sebagai ibu bagi anak-anaknya. 

Hal tersebut diungkapkan psikolog anak Anna Surti Ariani yang menyatakan bahwa terkadang menjadi ibu rumah tangga justru membuat perempuan lebih sibuk dan kurang efektif mengelola waktu untuk anak-anak.

“Gara-gara gak kerja, seorang ibu bercerita bahwa dia semakin banyak punya urusan. Karena dianggap tidak kerja, keluarga besarnya malah mengandalkannya untuk urusan-urusan tertentu, seperti ibunya dan anggota keluarga besar lainnya. Jadi, statusnya tak bekerja tapi tetap banyak punya urusan,” katanya dalam sebuah acara talkshow bertajuk ”Dampak Apresiasi Prestasi Harian Anak-anak dalam Pembangunan Karakter” di Jakarta beberapa waktu lalu.

Sebaliknya, katanya, ibu yang bekerja justru kemungkinan sangat menghargai waktu. Seorang ibu, karena mengetahui waktunya terbatas, menjadi terpacu untuk membuat waktunya bersama anak lebih berkualitas dan terencana lebih baik.

“Jadi, tidak bisa dikatakan kalau tak bekerja akan lebih baik,” katanya.

Yang terpenting bagi ibu, baik yang berkarir di luar rumah maupun tidak, adalah bagaimana membuat kebersamaan dengan sang buah hati penuh kualitas.

"Kalau di rumah tapi main gadget saja atau sibuk nonton TV, kan sama saja," katanya.

Apresiatif

Untuk tumbuh kembang anak lebih baik, Anna menyarankan para ibu untuk lebih mengapresiasi capaian-capaian anak.

“Prestasi itu tidak selalu piala atau secara akademik bagus di sekolah, ya. Prestasi itu bisa berupa disipilin atau menyelesaikan tugas-tugas tertentu,” jelasnya.

Menurutnya, ketika orang tua menyadari dan menghargai prestasi anak-anak mereka, anak-anak akan termotivasi untuk melakukan hal-hal yang lebih positif. Dengan keterikatan yang lebih baik antara ibu dan anak, aspek kecerdasan sosial, psikologis dan disiplin diri mereka akan tumbuh, dan itu akan menjadi kunci kesuksesan mereka di masa depan.

“Salah satu penelitian dari Havermans, N., Sodermans, A.K., & Matthijs, K. pada tahun 2017 menemukan bahwa parental time berkaitan dengan hubungan orang  tua-anak yang lebih baik, dan ini mengarah secara tidak langsung ke kemampuan mereka di sekolah,” katanya.

Dia mengingatkan bahwa apresiasi kepada anak tidak melulu harus berupa hadiah berwujud barang.

“Apresiasi itu bisa dari apa yang kita katakan, misalnya ungkapan ‘terima kasih, ya’, ‘mama senang sudah dibantuin’. Hal penting yang harus diperhatikan adalah apresiasi tersebut harus diucapkan dengan tulus yang dapat dilihat dari bahasa tubuh, ekspresi muka dan intonasi,” bebernya.

Anna mengingatkan bahwa anak akan mengetahui apakah apresiasi kita kepada mereka itu tulus atau tidak. Oleh karena itu, orang tua harus keselarasan antara apa yang diucapkan dan bahasa tubuh saat mengapresiasi anak.

Racun kemesraan dalam pernikahan
Demokrat upayakan Jokowi tak lawan kotak kosong
PKS minta kader belajar dari kemenangan Erdogan
Usir jerawat dengan kulit semangka
Gerindra daftarkan mantan koruptor di Pileg 2019
Ngabalin jadi komisaris Angkasa Pura, Fadli: BUMN amburadul
Bumi Manusia bukan sekadar cinta Minke dan Annelies
Politisi berbondong-bondong ke NasDem, ada apa?
Politisi terima uang transfer untuk pindah partai harus lapor KPK
Riza Chalid penampakan di acara NasDem, sudah aman?
Golkar ngotot daftarkan caleg mantan napi korupsi
Nikmati empat hari Festival Bunaken
Film ’22 Menit’ hadir di Anugrah Jurnalistik Polri 2018
Etika politik dan pindah partai
Dukung pilkada damai, Polri gelar Anugrah Jurnalistik 2018
Fetching news ...