PBB lelet atasi Rohingya

REPORTED BY: Fathor Rasi

PBB lelet atasi Rohingya

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) atau United Nations (UN) dinilai tidak tangkas atau lamban dalam mengatasi kekerasan terhadap Muslim Rohingya. Kewenangan UN seharusnya diabdikan untuk mengatasi persoalan kemanusiaan agar tidak menimbulkan konflik antar negara.

Hal ini diungkapkan oleh ketua Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (FOKAL IMM) Kabupaten Pandeglang, Yogi Iskandar menyikapi kekerasan terhadap etnis Rohingya.

Menurut Yogi, ada beberapa hal yang telak bisa dilakukan oleh UN sebagai sanksi terhadap negara pembantai seperti Myanmar.

"PBB memiliki UN Security Council atau Dewan Keamanan PBB, yaitu salah satu dari enam lembaga penting di PBB. Lembaga tersebut memiliki kewenangan meminta seluruh negara anggota PBB, untuk memutuskan hubungan ekonomi, serta laut, udara, pos, komunikasi radio, atau hubungan diplomatik, mengapa tidak segera dilakukan? Jelas ini karena PBB lamban mengatasi konflik Rohingya," kata Yogi yang juga sebagai Relawan Demokrasi Provinsi Banten, Selasa (5/9).

Tragedi kemanusiaan yang dialami Muslim Rohingya, lanjut Yogi, mengancam perdamaian dunia. Terlebih, lanjut Dia, pembantaian yang dilakukan di Myanmar ada sangkut pautnya dengan agama. Yogi meminta PBB bergerak cepat sebagaimana lembaga internasional yang professional.

"Konflik Rohingya juga bukan lagi masalah nasional bagi Myanmar, namun sudah menjadi konflik pemicu keamanan internasional. Janganlah PBB hanya melakukan seremonial diskusi dan kampanye perdamaian dunia saja, namun buktikan bahwa PBB bisa melindungi kaum tertindas," ujarnya.

PBB juga diharapkan melakukan upaya yang berorientasi kepada penyelamatan manusia. Karena jika hanya meredam saja tidak cukup. Kata Yogi, secara kejiwaan etnis Rohingya pasti hidup dalam tekanan dan mengalami stres akut.

"Terutama anak-anak dan perempuan etnis Rohingya, pasti mereka mengalami gangguan psikis, jadi PBB jangan hanya berupaya untuk meredam konflik, tapi pastikan korban mendapat asupan nutrisi secara mental juga," pungkasnya.

Tekanan ke ASEAN

Sebelumnya, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) juga mengecam segala bentuk tindak kekerasan militer Myanmar terhadap umat Islam kelompok Rohingya. ICMI meminta supaya kelompok Rohingya dibebaskan selamanya dari diskriminasi dan intimidasi yang sistematis.

Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Jenderal ICMI DR Mohammad Jafar Hafsah. ICMI, kata Jafar, juga menyoroti sikap negara-negara di dunia yang terkesan enggan menyelesaikan masalah Rohingya.

"ICMI menyayangkan lemahnya reaksi negara-negara internasional terhadap peristiwa Rohingya. Rohingya adalah salah satu etnik minoritas di Myanmar," ujar Jafar.

Jafar Hafsah mengharapkan, negara yang tergabung di ASEAN jangan menutup mata terhadap kekerasan kepada kelompok Rohingya. Diperlukan pendekatan signifikan untuk menyelesaikan segera masalah Rohingya.

"Indonesia diharapkan bisa menjadi inisiator negara ASEAN dalam membantu Rohingya," tutur Jafar.

Jafar mengatakan, umat Islam Rohingya telah mengalami penindasan yang amat panjang dan dilanggarnya hak azasi mereka sebagai sebuah etnik.

"Umat Islam Rohingya di Myanmar sebagai orang-orang yang paling sering mengalami persekusi di dunia. Mereka ditolak di negara sendiri, tidak diterima oleh beberapa negara tetangga, miskin, tak punya kewarganegaraan dan dipaksa meninggalkan Myanmar dalam beberapa dekade terakhir," ujar Jafar.

Tak hanya itu saja, di wilayah Rakhine (negara bagian barat Myanmar) yang merupakan kampung halaman umat Islam kelompok Rohingya berasal, kerap terjadi peristiwa mengenaskan, seperti perkosaan, pembunuhan, pembakaran rumah, yang ditutupi faktanya oleh Pemerintah Myanmar.

Bentuk diskriminasi terhadap kelompok Rohingya, Jafar menuturkan, adalah tak diakuinya mereka sebagai warga negara dan menganggapnya pendatang gelap dari Bangladesh. Hal tersebut bukan hanya dialami kelompok Rohingya, tetapi juga oleh sebagaian besar kalangan di Myanmar.

Dua amalan utama di bulan Muharam
Menjadikan Indonesia kiblat maritim dunia
4 golongan yang dicintai Allah
Menyatukan Soksi Golkar dengan Munas
Sektor ini raup Rp1.500 triliun per tahun, Anda tertarik?
Fetching news ...