Fenomena Ahok, Anies, AHY dan RK bukti kegagalan Parpol

REPORTED BY: Fathor Rasi

Fenomena Ahok, Anies, AHY dan RK bukti kegagalan Parpol

Diusungnya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Anies Baswedan yang notabene bukan kader partai untuk maju sebagai Cagub DKI Jakarta 2017 adalah bukti buruknya sistem kaderisasi partai politik di Tanah Air. Padahal pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 itu merupakan barometer politik nasional.

"Demi memenangkan pemilu, pada akhirnya partai politik melakukan jalan pintas dengan mengusung kandidat yang punya modal besar dan punya popularitas tinggi," ujar Ketua Relawan Sundantara,  Kurnia Afarizy kepada Rimanews.com, Jumat (08/09).

Selain di Jakarta, bukti gagalnya kaderisasi Parpol juga terasa di Pilgub Jawa Barat. Menurutnya, di usungnya Deddy Mizwar - Ahmad Syaikhu (Demiz) juga membuktikan bahwa Kaderisasi partai telah gagal.

"Lihat saja koalisi Partai Gerindra-PKS yang mengusung pasangan Deddy Mizwar - Ahmad Syaikhu (Demiz) di pilgub Jabar 2018. Demiz bukanlah kader parpol melainkan aktor kawakan Tanah Air yang terjun ke dunia politik dan kini duduk sebagai wagub Jabar," ujarnya.

Dikatakan Kurnia, Partai Gerindra nampaknya dengan terpaksa mengusung Demiz untuk maju sebagai cagub karena tidak ada stok kader partai yang tingkat popularitas dan elektabilitas setara dengan Demiz.

"Menggaet artis seperti Demiz merupakan cara instan Partai berlambang kepala Burung Garuda demi memenangkan pilgub Jabar," katanya.

Belajar dari sikap Ahok kepada Partai, Ia menilai Gerindra tidak mau jatuh kedua kalinya dalam jurang yang sama. "Tidak mau kecolongan seperti Ahok yang susah diatur, partai besutan Prabowo Subianto mendesak agar Demiz mau jadi kader dan tunduk terhadap segala keputusan partai Gerindra," ucapnya.

Sementara itu, kubu PKS pun sudah menyodorkan Ahmad Syaikhu untuk duduk di posisi Jabar 2 (Wakil) mendampingi Demiz. "Di Pilgub Jabar, PKS jelas tidak mau kehilangan kembali kursi cawagub setelah sebelumnya mereka ikhlaskan di Pilgub DKI," Ujarnya.

Ridwan Kamil bukan kader parpol

Sama halnya dengan Dedy Mizwar, Menurut Kurnia, Ridwan Kamil (RK) memang memiliki tingkat popularitas dan elektabilitas yang tinggi, tetapi tidak ada jaminan bahwa Wali Kota Bandung itu mulus mendapatkan tiket dari partai untuk diusung di Pilgub Jabar. 

"RK yang notabene bukan kader parpol boleh saja memegang prinsip bahwa dirinya tidak mau menjadi “petugas partai” mana pun. Namun prinsip RK ini ternyata membuatnya mati langkah," ujarnya.

Bermodalkan dukungan Partai Nasdem yang hanya mempunyai 5 kursi di DPRD Jabar, tentu membuat RK harus berkoalisi dengan parpol lain. Karena dalam aturan KPU, syarat calon yang akan maju dalam pilgub Jabar harus mempunyai 20 persen jursi di DPRD Jabar atau 25 persen suara parpol atau gabungan parpol.     

"Kegalauan RK mengingatkan kita dengan sikap Ahok yang hendak maju merebut kursi DKI 1. Sempat menolak masuk parpol dengan memilih jalur independen namun akhirnya maju melalui kendaraan parpol," katanya.

Kurnia menilai, Mantan Wakil Gubernur yang pernah mendampingi Jokowi di balai kota itu sedikit beruntung dibanding RK lantaran dia didukung Partai besar seperti PDIP, Golkar dan partai koalisi lainnya untuk bertarung meskipun kalah. 

"Namun nasib RK justru berbanding terbalik, belum juga berlaga di pemilu partai besar seperti PDIP, Golkar, Gerindra dan PKS sudah tutup pintu menolak mendukungnya," ujarnya.

Komunikasi RK dinilai buruk

Beberapa pengamat menilai komunikasi dan fatsoen politik RK dengan elite partai buruk. Pendapat ini diperkuat oleh elite Partai Gerindra dan PKS.

Saat Emil menerima pinangan partai Nasdem menjadi bakal cagub Jabar, Partai besutan Prabowo dan Sohibul Iman yang jadi pendukung RK di pemilihan Wali Kota Bandung justru tidak diajak komunikasi. 

Atas sikap RK ini, Waketum DPP Gerindra, Ferry Juliantono meminta RK untuk insyaf.  Fery pernah curiga terhadap majunya RK dalam Pilgub Jabar karena ada intimidasi dari Partai besutan Surya Paloh dan Kejaksaan Agung.  

Selain itu, Ferry juga pernah meminta RK agar mengakui secara jantan terkait duduk permasalahan kasus yang ditangani Kejaksaan Agung yang menjerat dirinya sampai terjadinya intimidasi. 

"Tanya kepada Pak Ridwan Kamil ada kasus apa sehingga berani-beraninya diintimidasi institusi Kejaksaan Agung. Jujur sampaikan kepada masyarakat," ujarnya mengutip ucapan ferry beberapa waktu lalu.

Sementara itu komentar miring juga pernah dilontarkan elite PKS yakni Ketua Departemen Pembinaan Balegda DPP PKS sekaligus Tim Pemenangan Pilkada Wilayah DPW PKS Jawa Barat, Haris Yuliana yang meminta RK untuk melakukan taubat lantaran dulu pernah dekat namun menghilang tanpa ada kabar.

Peringatan untuk partai

Majunya Deddy Mizwar dan Ridwan Kamil dari kalangan non-partai membuat elite partai harus solid dan cermat dalam mengusung kandidat cagub-cawagub agar peristiwa di Pilgub DKI tidak terulang. 

"Apalagi karakteristik pemilih di Jabar merupakan swing voter, massa mengambang yang afiliasi politiknya berubah-ubah," kata Kurnia.

Sebagai basis suara terbesar, Kurnia menilai pilgub Jabar akan menjadi medan pertaruhan kedua setelah pilgub DKI Jakarta. "Semua parpol tentu ingin merebut kemenangan di wilayah Jabar sebagai modal untuk menghadapi pemilihan presiden (Pilpres)," katanya.

Oleh karena itu ia meminta kepada partai politik untuk melakukan evaluasi dan konsolidasi secara internal guna memunculkan kader-kader terbaik untuk menjabat sebagai pemimpin,  baik di tingkat nasional maupun lokal.

"Hal ini untuk mewujudkan aspirasi masyarakat yang telah memlilih partai politik untuk mewujudkan tatanan masyarakat adil dan makmur," tukasnya.

Potensi Dedy Mulyadi jadi kuda hitam

Dari rilis beberapa lembaga survei, terdapat tiga besar kandidat yang berpeluang maju sebagai cagub Jabar. Mereka yaitu, Ridwan Kamil, Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi. "Dari ketiga kandidat itu hanya Dedi Mulyadi (Kang Dedi) lah yang merupakan kader parpol yakni Partai Golkar," katanya.

"Apabila dilihat latarbelakangnya, Kang Dedi mempunyai pengalaman yang mumpuni di bidang pemerintahan. Kang Dedi merupakan Bupati Purwakarta yang dilantik pertama kali pada tanggal 13 maret 2008," katanya.

Masyarakat Purwakarta kembali memilih Dedi Mulyadi sebagai Bupati yang berpasangan dengan Dadan Koswara untuk periode 2013-2018. "Sebelum terpilih menjadi Bupati, Kang Dedi diberi amanah jabatan sebagai anggota DPRD Kabupaten Purwakarta dan menjadi Wakil Bupati Purwakarta pada periode 2003-2008 bersama Lily Hambali Hasan," ujarnya

Menurutnya Sikap sederhana namun tetap tegas dalam memimpin membuat Kang Dedi terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Periode 2016 – 2020. 

"Jika dibandingkan dengan Dedi Mizwar yang masih berat hati menjadi kader partai Gerindra dan Ridwan Kamil yang jelas-jelas tidak mau diatur partai, maka potensi Dedi Mulyadi untuk melaju menuju Jabar 1 rasanya lebih mudah," katanya.

Hal tersebut berdasarkan pertimbangan dari berbagai hasil survei yang menunjukan adanya tren positif. Selain itu Dedy juga di nilai sukses memimpin purwakarta dengan tagline “Purwakarta Istimewa” yang menjadi perhatian nasional.

"Serta salam sampurasun yang disampaikan dalam acara resmi PBB di New York pada tahun 2015 membuat pria yang pernah menjadi ketua HMI Cabang Purwakarta ini semakin terkenal," katanya.

Kemudian terkait pengalaman, Dedy juga dinilai telah mumpuni, karena pernah duduk sebagai anggota legislatif dan juga sebagai Bupati (eksekutif) selama dua periode dan tentu membuatnya jauh lebih mudah dalam memimpin Jabar.

"Dengan potensi ekonomi yang tumbuh di atas perekonomian nasional (6,31%), industri, pertanian dan pariwisata, di tangan Kang Dedi, Purwakarta menjadi sebuah daerah yang dinamis dan terus berkembang, tanpa meninggalkan akar tradisi Sunda yang dimilikinya," katanya.

Ketiga, komunikasi politik yang baik. Jika dibandingkan dengan Deddy Mizwar dan Ridwan Kamil, komunikasi politik Dedi Mulyadi baik kepada elite partai maupun rakyat jelas lebih baik.

Ia menilai hal tersebut sangat berbeda dengan Deddy Mizwar dan Ridwan Kamil yang masih minim pengalaman dan komunikasi politiknya yang masih kaku, rasanya tidak salah jika Kang Dedi akan mudah melaju untuk memimpin Jawa Barat.

Dua amalan utama di bulan Muharam
Menjadikan Indonesia kiblat maritim dunia
4 golongan yang dicintai Allah
Menyatukan Soksi Golkar dengan Munas
Sektor ini raup Rp1.500 triliun per tahun, Anda tertarik?
Fetching news ...