Kematian bayi Debora di mata Okky Asokawati

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Kematian bayi Debora di mata Okky Asokawati Anggota Komisi IX DPR RI Okky Asokawati

Anggota Komisi IX DPR RI Okky Asokawati menyampaikan duka cita atas meninggalnya bayi Debora yang viral dalam minggu ini.

Menurut Okky, peristiwa ini semustinya tidak perlu terjadi apabila pihak rumah sakit mematuhi ketentuan di UU 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.  Dalam ketentuan di UU Kesehatan secara tegas disebutkan Rumah Sakit baik milik pemerintah maupun swaata wajib menerima pasien demi penyelamatan jiwa pasien.

“Saya meminta pihak-pihak terkait untuk melakukan  klarifikasi terkait persoalan tersebut.  Bila memang RS terbukti melanggar ketentuan di UU Kesehatan,  hukum harus ditegakkan dan tidak segan-segan untuk memberi sanksi kepada RS,” katanya tadi malam.

Lubang pada KIS dan BPJS

Peristiwa meninggalnya Debora yang diduga akibat ditelantarkan dinilai Okky menjadi salah satu bukti ada kelemahan sistem jaminan kesehatan yang dibangun pemerintah. Saat ini pemerintah tengah menggalakan Sistem Jaminan Kesehatan Nasional ditambah program pemerintahan Jokowi berupa Kartu Indonesia Sehat (KIS).

“Setidaknya dalam catatan saya,  pemerintah hingga saat ini masih menyisakan utang pembentukan Peraturan Pemerintah (PP)  baik terkait UU No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan maupun UU 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit,” katanya.

Oleh karena itu, dia meminta pemerintah untuk segera membuat PP terhadap kedua UU tersebut supaya implementasi kedua regulasi di bidang kesehatan itu dapat lebih efektif pelaksanaan di lapangan.
Terkait masih belum maksimalnya kepesertaan rumah sakit swasta dalam BPJS Kesehatan,  Okky menyarankan pemerintah supaya membuat rumusan insentif kepada RS swasta sehingga sebaran RS swasta yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan semakin banyak.  

“Harus diakui,  fasilitas alat kesehatan yang dimiliki RS swasta jauh lebih banyak dibanding RS pemerintah.  Belajar dari peristiwa Bayi Debora,  pemerintah harus membuat terobosan agar masyarakat dapat akses kesehatan dengan cepat,  tepat dan mudah,” tegas sekretaris Dewan Pakar DPP PPP tersebut.

Kematian bayi Debora

Bayi mungil yang bernasib malang tersebut bernama lengkap Tiara Debora,  putri kelima pasangan Henny Silalahi dan Rudianto Simanjorang, warga Jalan Jaung, Benda, Tangerang.

Nyawa Debora tak dapat diselamatkan meskipun kedua orangtuanya telah membawanya ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres pada Minggu (3/9/2017) lalu. Sebelumnya, Debora sudah seminggu terserang flu disertai batuk. Henny sempat membawa Debora ke RSUD Cengkareng untuk pemeriksaan. Dokter di sana kemudian memberinya obat dan nebulizer untuk mengobati pilek Debora.

Kondisi Debora semakin parah Sabtu (2/9/2017) malam. Ia terus mengeluarkan keringat dan mengalami sesak nafas. Kedua orangtua Debora pun membawanya ke RS Mitra Keluarga Kalideres dengan menggunakan motor. Tiba di rumah sakit, dokter jaga saat itu langsung melakukan pertolongan pertama dengan melakukan penyedotan (suction).

Memperhatikan kondisi Debora yang menurun, dokter menyarankan dirawat di ruang pediatric intensive care unit (PICU). Dokter pun menyarankan orang tua Tiara untuk mengurus pembiayaan supaya putrinya segera mendapatkan perawatan intensif.

Karena rumah sakit tersebut tak melayani pasien BPJS, Rudianto dan Henny harus membayar uang muka untuk pelayanan itu sebesar Rp 19.800.000. Namun, Rudianto dan Henny hanya memiliki uang sebesar Rp5 juta dan menyerahkannya ke bagian administrasi.

Uang tersebut ditolak meskipun Rudianto dan Henny telah berjanji akan melunasinya segera. Pihak rumah sakit sempat merujuk Debora untuk dirawat di rumah sakit lain yang memiliki instalasi PICU dan menerima layanan BPJS.

Setelah menelpon ke sejumlah rumah sakit, Rudianto dan Henny tak juga mendapatkan ruang PICU kosong untuk merawat putrinya. Kondisi Tiara terus menurun hingga akhirnya dokter menyatakan bayi mungil tersebut meninggal dunia.

Klarifikasi rumah sakit

Dalam keterangan persnya, manajemen RS Mitra Keluarga menyampaikan bahwa awalnya Debora diterima instalasi gawat darurat (IGD) dalam keadaan tidak sadar dan tubuh membiru. Menurut pihak rumah sakit, Debora memiliki riwayat lahir prematur dan penyakit jantung bawaan (PDA), serta terlihat tidak mendapat gizi yang baik.

Pihak rumah sakit menyebut pihaknya telah melakukan prosedur pertolongan pertama berupa penyedotan lendir, pemasangan selang ke lambung dan intubasi (pasang selang napas), lalu dilakukan bagging atau pemompaan oksigen dengan menggunakan tangan melalui selang napas, infus, obat suntikan, dan diberikan pengencer dahak (nebulizer). Pemeriksaan laboratorium dan radiologi pun dilakukan.

Rumah sakit tak memungkiri jika pihaknya telah menyarankan Debora dirawat di instalasi PICU dan mengetahui bahwa pihak keluarga menyampaikan kendala biaya. Untuk itu, pihak rumah sakit memberikan solusi dengan merujuk Debora untuk dirawat di rumah sakit yang memiliki instalasi PICU dan melayani pasien BPJS.

Pihak rumah sakit membantah jika pihaknyalah yang telah menyebabkan Debora meninggal akibat tak melakukan pelayanan sesuai prosedur.

Atas kejadian ini, Dinas Kesehatan DKI Jakarta akan memanggil manajemen Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres terkait meninggalnya bayi Debora. Dinkes akan meminta keterangan paramedis yang menangani Debora pada hari ini, Senin (11/9/2017).

Fadli Zon ajak anggota parlemen lawan korupsi
BPN: Pindah ke Jateng terobosan brilian
Pimpinan DPR: HAM dan Demokrasi era Jokowi alami kemunduran
Saham Wallstret ditutup menguat sementara saham Eropa melemah
DPR RI kagumi perjuangan Azerbaijan raih kemerdekaan
DPR RI sambut baik kedatangan parlemen Kuwait
BPN pindah ke Jateng, ini kata Hanura
DPW Kalsel dukung Jokowi, PAN: Itu realita politik lokal
Prabowo perlu reuni 212 lagi jelang Pilpres 2019 jika ingin menang
Meluruskan cara pandang tentang pernikahan dan keluarga
Charta Politica: Pemindahan posko pemenangan BPN hanya psywar
Reforma Agraria era Jokowi dinilai di lajur yang benar
Markas BPN pindah, TKD: Apa urgensinya?
PAN akan sanksi DPD membelot ke kubu Jokowi
Cara Khabib Nurmagomedov habiskan 100 ribu dolar pertamanya
Fetching news ...