Cara Bamsoet semangati petani

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Cara Bamsoet semangati petani “Para petani adalah pejuang dan pahlawan." - Bambang Soesatyo

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menyemangati para petani dengan mengatakan bahwa merka adalah para pejuang bagi bangsa, yang tanpa mereka negara bisa kacau. Bambang pun optimis, ke depan kehidupan petani akan semakin sejahtera.

“Para petani adalah pejuang dan pahlawan. Bayangkan kalau saudara mogok tidak menanam padi, Jakarta akan kacau balau,” kata Bamsoet, panggilan akrabnya, dalam panen raya di Kecamatan Air Saleh, Banyuasin, Sumatera Selatan, Senin (29/1/2018).

Bamsoet secara khusus juga memuji program peningkatan rasio lahan pertanian dari 0,3 hektar per kepala keluarga menjadi 2 hektar per kepala keluarga. Ia meyakini program itu akan mampu menggenjot angka produksi padi pada tahun-tahun mendatang.

“Hal itu merupakan salah satu program Nawacita Presiden Jokowi yang harus terus diupayakan, sehingga ke depan petani kita tidak lagi menjadi petani miskin dengan lahan terbatas, tetapi menjadi petani yang sejahtera dengan lahan yang memadai, sekaligus mampu memenuhi kebutuhan padi nasional untuk berswasembada,” tegasnya. 

Terkait impor beras, Bamsoet mengatakan tak ingin kondisi ini terus berlanjut karena tak sesuai dengan Nawacita pemerintahan Jokowi-JK.

“Nawacita Presiden Jokowi di bidang pertanian, salah satunya adalah terciptanya swasembada pangan untuk lima komoditas dalam jangka waktu lima tahun. Maka kegiatan hari ini adalah bentuk atau ikhtiar nyata untuk mewujudkan swasembada tersebut,” tegas Bamsoet.

Dalam sambutannya, ia mengatakan, angka produksi padi nasional pada 2017 mencapai 81.382.451 ton. Angka itu meningkat 2,56 persen dibanding produksi 2016 yang menyentuh 79.354.767 ton.

Program cetak sawah

Sementara itu, di tempat terpisah Komisi IV DPR RI mempertanyakan program cetak sawah yang selama ini dilakukan oleh Kementerian Pertanian.

“Dalam laporannya untuk program cetak sawah baru Kementerian Pertanian telah mencetak sawah sebanyak 20 ribu hektar di tahun 2015, pada tahun 2016 cetak 120 ribu hektar sawah baru, dan pada tahun 2017 kemarin berhasil melakukan program cetak sawah sebanyak 60 ribu hektar. Jadi total cetak sawah yang sudah dilakukan menurut laporannya lebih dari 200 ribu hektar dengan biaya kurang lebih Rp 3,8 Triliun. Kalau saja 1 hektar sawah menghasilkan 3 ton beras, maka total beras yang dihasilkan sekitar 600 ribu ton beras yang merupakan hasil dari cetak sawah. Kalau demikian, kenapa harus impor,” tanya anggota Komisi IV DPR RI Nasyid umar dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi IV DPR RI dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup di ruang rapat Komisi IV DPR, Senayan Jakarta, Senin (29/1/2018).

Nasyid meminta ada laporan terkait berapa area yang gagal, berapa yang berhasil dan berapa yang belum berjalan. Menurutnya, laporan yang detil akan menjadi bahan evaluasi ke depan. Terlebih lagi pada tahun 2018 ini Kementerian Pertanian telah mengusulkan akan membuat program cetak sawah baru lagi seluas 12 ribu hektar.

Hal senada juga diungkapkan anggota Komisi IV DPR RI lainnya, seperti Asep Maosul dari Fraksi PPP. Menurutnya, selama ini tidak terdengar keberhasilan atau kegagalan dari program tersebut.

“Berbeda ketika jaman pemerintahan presiden kedua Indonesia Soeharto yang mengaku melakukan cetak sawah dan dibuktikan dengan program swasembada berasnya. Saat ini masyarakat lebih melihat banyaknya sawah yang berganti permukiman, sementara program cetak sawah baru untuk menambah atau meningkatkan produksi beras malah tidak terdengar gaungnya,” katanya.

Darurat keselamatan kerja pada proyek infrastruktur
Debu vulkanik Sinabung capai Aceh
DPR tegaskan UU MD3 tidak ada delik pidana
Menuntaskan problem warga Kedung Badak
Jangan berharap jenis kelamin anak
Fetching news ...