Saat Jokowi jogging bareng Ketum Golkar bicarakan Cawapres

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Saat Jokowi jogging bareng Ketum Golkar bicarakan Cawapres Presiden Joko Widodo dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (foto: biro pers Setpres)

Presiden Joko Widodo dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto olahraga bersama di sekitar Istana Bogor pada Sabtu, 24 Maret 2018. Keduanya mulai berjalan kaki sekitar pukul 08.00 WIB.

"Iya pagi ini saya jogging dengan Pak Airlangga biar sehat," kata Presiden yang juga memajang fotonya bersama Ketum Golkar itu di akun Facebook miliknya.

Presiden Jokowi tampak menggunakan kaos kuning, sementara Airlangga mengenakan kaos putih. Selama berolahraga bersama keduanya tampak berbincang santai.

"Pak Airlangga mau lihat sepeda motor. Beliau kan di perindustrian," lanjutnya.

Sebagai informasi, Presiden Jokowi memiliki sebuah motor custom made. Kuda besi ini berjenis Royal Enfield Bullet 350 bergaya chopperland.

"Tadi saya senang motornya warna emas dan emas itu agak kuning. Jadi kalau kegiatan olahraga itu penghargaan tertinggi kan juga medali emas," kata Airlangga.

Airlangga mengatakan industri motor custom made merupakan salah satu industri kecil menengah yang didorong pemerintah. "Salah satu masalah custom made itu kan tidak semuanya memenuhi standar. Kalau tidak diproduksi massal tidak apa asal safetynya saja terjamin," lanjutnya.

Selain berbincang mengenai motor, keduanya juga berbincang mengenai beberapa isu nasional dan tentang calon wakil presiden.

"Ya tadi saya mengobrol mengenai kriteria-kriteria (cawapres). Bagaimana kriteria dari Golkar. Masih sebatas kriteria, belum ke orangnya," ujar Presiden.

Adapun mengenai kriteria cawapres, Airlangga menjelaskan bahwa orangnya harus bisa mendukung kerja Presiden. Selain itu juga bisa bekerja sama menjaga integrasi bangsa.

Ketika ditanya jurnalis apakah Airlangga memenuhi kriteria sebagai cawapres, Presiden menjawab dengan santai.

"Coba lihat sendiri cocok gak nih?" jawabnya sambil tertawa.

Selain berolahraga bersama, pagi itu Presiden dan Airlangga pun menyempatkan memberi makan kambing peliharaan Presiden. Selepas itu, keduanya melanjutkan perbincangan di beranda Istana Bogor sambil menikmati secangkir teh. 

Tentang pendamping Jokowi di Pilpres 2019

Presiden Joko Widodo, sebelumnya, menunjuk Pratikno untuk menjaring Calon Wakil Presiden yang bakal mendampingi dirinya di 2019 mendatang.

Pratikno mengatakan tim internal penjaringan calon wakil presiden Joko Widodo atau cawapres Jokowi tidak formal, melainkan hanya bersifat diskusi-diskusi biasa.

Ia menuturkan siapa cawapres Jokowi, nantinya dipilih sesuai kesepakatan antara Jokowi dengan partai politik pendukung. "Presiden selalu terbuka terhadap masukan, tapi sekarang belum final," ucapnya beberapa waktu lalu.

Penunjukan Menteri Sekertaris Negara Partikno menjadi Koordinator Pembahasan dalam mencari calon wakil Presiden tahun 2019 mendapatkan kritik dari lawan politik. Politisi PKS Mardani Ali Sera, misalnya, menilai Presiden Jokowi sudah di luar lajur dengan mengangkat pejabat negara untuk kepentingan pencalonan.

"Saya pikir, Presiden Jokowi kelewatan dengan mengangkat Mensesneg menjadi koordinator pencarian Bakal Calon Wakil Presiden mendampingi dirinya tahun 2019 mendatang," kata Mardani, di Jakarta 12 Maret 2018.

Wakil Ketua Komisi II DPR RI itu menuturkan, seorang menteri aktif seharusnya fokus dalam menjalankan tugas dan poksinya sesuai Peraturan Presiden Republik Indonesia No 21 Tahun 2015. "Bukan malah berpolitik praktis! Ini contoh buruk pengelolaan manajemen Pemerintah," ujarnya.

Santernya wacana siapa wapres Jokowi pada Pilpres 2019 juga membuat Wakil Presiden Jusuf Kalla angkat bicara. Menurutnya, calon wapres harus bisa mengimbangi cara kerja Jokowi. Di samping itu, cawapres musti mampu menambah elektibilitas pasangan dalam pemilihan presiden 2019.

"Siapa pun kriterianya, itu ada dua hal pokok, yaitu bagaimana menambah elektabilitas pasangan dan apabila terpilih itu dapat membantu presiden, kalau perlu malah harus setara dengan presiden," kata Jusuf Kalla di Kantor Wapres Jakarta, Selasa (19/03/2018).

Kalla mengatakan kesetaraan tersebut dalam arti calon wapres itu harus memahami tugas presiden dan mampu menjalankan tugas-tugas kenegaraan, karena posisi wakil presiden suatu saat bisa juga menjadi presiden dalam kondisi tertentu.

JK mencontohkan, wakil presiden yang ideal dan bisa menggantikan peran presiden sewaktu-waktu adalah Bacharuddin Jusuf Habibie dan Megawati Soekarnoputri.

B.J. Habibie, saat menjabat sebagai wakil dari Presiden Soeharto, naik menjadi Presiden RI ketiga karena Soeharto mengundurkan diri karena desakan rakyat. Sementara itu, Megawati menduduki kursi presiden setelah Abdurrahman Wahid, yang menjabat sebagai presiden saat itu, mandatnya dicabut oleh MPR.

"Jadi harus punya kualitas yang seperti itu, harus kualitasnya sama dengan presiden. Tidak boleh ya asal milih (cawapres), karena dia bisa jadi presiden juga seperti Bu Mega dan Pak Habibie," tutur Jusuf Kalla.

Langkah Kemendag amankan harga sembako saat puasa dan lebaran
TKA diistimewakan, TKI kurang terlindungi
Buktikan tak antikritik, DPR gelar lomba
TNI evakuasi guru korban perkosaan gerombolan separatis Papua
Usia minimal perkawinan dalam UU sudah tak relevan dengan zaman
Fetching news ...