Utang tembus Rp5.028 triliun, BI klaim masih sehat

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Utang tembus Rp5.028 triliun, BI klaim masih sehat "Pengelolaan ULN (utang luar negeri) secara profesional dan bertanggung jawab dilakukan Pemerintah secara konsisten untuk menjaga sustainabilitas fiskal." - Bank Indonesia.

Utang luar negeri Indonesia hingga akhir April 2018 naik 7,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 356,9 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp 5.028 triliun (perhitungan kurs acuan Jisdor Rp 14.090).

Akan tetapi, Bank Sentral mengklaim utang luar negeri Indonesia masih dalam keadaan sehat. Bank Indonesia berjanji akan meningkatkan koordinasi dengan pemerintah untuk mengawasi utang luar negeri (ULN) dan mengoptimalkan peran ULN dalam mendukung pembiayaan pembangunan, tanpa menimbulkan risiko gangguan stabilitas perekonomian.

Utang itu terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar 183,8 miliar dolar Amerika Serikat, atau naik 9,5 persen (yoy), dan utang swasta termasuk BUMN sebesar 173,1 miliar dolar Amerika Serikat atau naik 5,6 persen (yoy), berdasarkan Statistik ULN Bank Indonesia yang diumumkan di Jakarta, Kamis.

"Dengan posisi utang Indonesia itu, rasio ULN terhadap PDB masih cenderung tetap di 34 persen," tulis Bank Indonesia, dalam laporannya.

Bank Indonesia berdalih rasio itu masih lebih baik dibandingkan dengan rata-rata negara lain.

Menilik statistik utang itu, utang pemerintah itu terbagi dalam Surat Berharga Nergara (SUN dan SBSN/Sukuk Negara) yang dimiliki bukan penduduk hingga mencapai 125,1 miliar dolar Amerika Serikat. Kemudian, pemerintah juga menarik utang dari kreditur asing sebesar 55,4 miliar dolar Amerika Serikat.

"Pengelolaan ULN secara profesional dan bertanggung jawab dilakukan Pemerintah secara konsisten untuk menjaga sustainabilitas fiskal," ujar Bank Indonesia.

Sementara itu, untuk utang swasta termasuk BUMN, pinjaman di sektor pengadaan listrik, gas, dan uap/air panas (LGA) meningkat dibandingkan Maret 2018. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 72,4 persen.

Secara tenor pengambilan utang, ULN keseluruhan didominasi pinjaman berjangka panjang mendominasi keseluruhan utang hingga 86,7 persen.

Rupiah bakal terus tergencet sepanjang tahun

Di tengah utang yang membengkak, tekanan akibat keperkasaan dolar AS terhadap nilai tukar rupiah dan mata uang negara lain diproyeksikan terus terjadi hingga akhir 2018.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo, Kamis (21/06/2018), kepada Antara mengatakan meskipun tekanan "Greenback" akan membayangi nilai mata uang "Garuda" sepanjang tahun, Bank Sentral akan menjaga nilai rupiah tidak kembali melemah ke level yang jauh dari nilai fundamentalnya.

Adapun sejak pembukaan perdagangan Rabu (20/6) dan Kamis (21/6), pasca-libur panjang pasar karena Idul Fitri, nilai rupiah kembali depresiatif. Di pasar spot Kamis siang, rupiah melemah dan diperdagangkan di Rp14.099 per dolar AS. Kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor) yang diumumkan BI juga mencatat rupiah depresiatif hingga Rp14.090 per dolar AS, atau turun 188 poin dibanding saat hari terakhir sebelum libur Idul Fitri yakni Rp13.902 per dolar AS.

Dody menjelaskan penyebab rupiah yang melemah adalah perbaikan data ekonomi AS, semakin sengitnya perang dagang antara AS dan China, isu stabilitas geopolitik, serta eskpetasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Federal Reserve sebanyak 3-4 kali tahun ini.

"BI sudah kalkulasi kemungkinan dolar AS masih akan menguat terhadap mata uang negara lain hingga akhir 2018," ujar Dody.

Dia mengatakan Bank Sentral akan mejaga agar kepercayaan investor terhadap aset rupiah tetap positif.

"Atau seandainya rupiah melemah dapat terjadi secara wajar, tidak overshooting jauh dari nilai fundamentalnya," ujar dia.

Bank Sentral memiliki empat strategi lanjutan, yakni pertama, menerapkan fokus kebijakan jangka pendek untuk memperkuat stabilitas ekonomi, khususnya stabilitas nilai tukar Rupiah.

Kedua, BI akan menempuh kebijakan lanjutan yang bersifat antisipatif dan mendahului dibanding tekanan yang akan timbul.

"Kebijakan lanjutan tersebut dapat berupa kenaikan suku bunga yg disertai dg relaksasi kebijakan pelonggaran kebijakan pinjaman utk mendorong sektor perumahan, (Loan to Value/LTV)," ujar dia.

Selanjutnya, BI juga akan melanjutkan kebijakan intervensi ganda di pasar SBN dan valas, menjaga likuiditas longgar, dan menerapakan komunikasi yang intensif, serta mempererat koordinasi BI, Pemerintah, dan OJK.

Demokrat upayakan Jokowi tak lawan kotak kosong
PKS minta kader belajar dari kemenangan Erdogan
Usir jerawat dengan kulit semangka
Gerindra daftarkan mantan koruptor di Pileg 2019
Ngabalin jadi komisaris Angkasa Pura, Fadli: BUMN amburadul
Bumi Manusia bukan sekadar cinta Minke dan Annelies
Politisi berbondong-bondong ke NasDem, ada apa?
Politisi terima uang transfer untuk pindah partai harus lapor KPK
Riza Chalid penampakan di acara NasDem, sudah aman?
Golkar ngotot daftarkan caleg mantan napi korupsi
Nikmati empat hari Festival Bunaken
Film ’22 Menit’ hadir di Anugrah Jurnalistik Polri 2018
Etika politik dan pindah partai
Dukung pilkada damai, Polri gelar Anugrah Jurnalistik 2018
Jokowi belum temukan solusi akurkan SBY-Megawati
Fetching news ...