Begini pendapat dua kubu soal istilah 'cebong' dan 'kampret'

REPORTED BY: Insan Praditya

Begini pendapat dua kubu soal istilah 'cebong' dan 'kampret' Budiman Sudjatmiko dan Ferdinand Hutahaean

Partai Demokrat dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), angkat bicara soal pandangan yang berbeda mengenai pelabelan "Cebong dan Kampret" di masyarakat. Diketahui, kata "Cebong" ditunjukan kepada pendukung Jokowi dan "Kampret" untuk pendukung Prabowo.

Menanggapi hal tersebut, politisi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahean mengatakan istilah tersebut sudah menjadi hal biasa dan hanya menjadi guyonan di tengah masyarakat dan netizen Indonesia, selama dalam perdebatan tersebut terdapat diskusi yang sehat didalamnya antara pendukung Jokowi dengan Prabowo.

"Itu kan hanya sebuah lelucon namun kosa kata ini kan sudah menjadi sesuatu yag sudah terbiasa digunakan oleh netizen, meskipun sudah berapa kali menggunakan kata kecebong, tapi menggunakan bong" ujar Ferdinand dalam diskusi publik "Buzzer politik, Efektif kah?" di Tebet , Jakarta selatan, Jumat (12/10/2018).

"Saya pikir orang tidak ada yang tersinggung disebut cebong atau kampret asalkan selama diskusi nya mengenai dukung mendukung antara pak Prabowo dan Jokowi," lanjutnya.

Menurutnya, kosa kata tersebut bukan kosa kata yang kotor, karena tidak ada kata yang kasar di dalamnya. Dia mengatakan bahwa netizen Indonesia tidak akan tersinggung jika menggunakan kata tersebut sebagai labeling salah satu pendukung.

"Saya tidak melihat ada yang tersinggung dari kosa kata itu,Karena sudah jadi kosakata yang diterima dan terbiasa, bukan sesuatu yang tidak layak dibicarakan. Faktanya orang pakai itu di sosmed,"  jelasnya.

Berbeda dengan Ferdinand, Politisi PDIP Budiman Sudjatmiko menjelaskan bahwa seharusnya istilah dan labeling tersebut tidak digunakan di masyarakat, karena akan memojokkan pendukung tertentu jika menyinggung hal dan issue yang sensitif.

"Pertama saya sudah pastikan bahwa saya sendiri tidak pernah memakai istilah itu,karena istilah tersebut meng-diskreditkan orang lain,"

Budiman menganalogikan pada cuplikan film dokumenter di Rwanda, Afrika Timur yang menandakan musuh politik nya dengan istilah "kecoa". Ketika terjadi konflik, pihak musuh tersebut lebih mudah ditandai untuk dibunuh oleh pihak lawan.

"Karena saya melihat pada cuplikan film di Rwanda di mana suku tersebut mengunakan istilah "kecoa" untuk menandakan musuh untuk di lawan atau bunuh," kata Budiman.

Menurutnya, PDI-P dan Tim Kampanye Nasional (TKN) tidak memakai istilah tersebut sebagai senjata untuk menjatuhkan dan meng-diskreditkan pihak lawan, Jika ada, itu pun dari luar struktur partai dan TKN.

"Tetapi kami tidak memakai label tersebut sebagai peluru, artinya nama tersebut seharusnya dipakai diluar struktur resmi TKN seperti pendukung, kalo di PDIP sendiri kami tidak memakai istilah tersebut, Kalaupun ada pasti di luar anggota partai," tutupnya.

TKD Jabar: Suara Jokowi-Ma'ruf di Priangan Barat dan Priangan Timur masih lemah
DPR desak Kemenag efisienkan pembuatan kartu nikah
Ma'ruf Amin: Masyarakat salah paham soal orang buta dan budek
Demokrat sepakat dengan Sandiaga soal genderuwo ekonomi di pemerintahan Jokowi
Kubu Prabowo sebut penurunan kemiskinan Jokowi kalah dengan Megawati dan Gusdur
DPR nilai sudah seharusnya standar nilai CPNS tinggi
Dispotdirga sosialisasi jurnalistik dan penggunaan internet TNI AU
Bamsoet: hentikan kenaikan harga beras medium
PT Petamburan minta putusan pengadilan dihormati
Kunjungan DPR ke Selandia Baru bahas isu strategis
Bro Sandi: Di masa depan, air akan lebih berharga dari emas
Sandiaga Uno akan beri cabai mulut politisi yang kasar
DPR sebut kartu nikah lebih efisien dari buku nikah
Fadli Zon nilai Sandiaga langkahi makam tokoh NU tak berdampak bagi bangsa
Rocky Gerung: istilah politik genderuwo Jokowi dangkal dan konyol
Fetching news ...