Mengungkap isi kepala para pemerkosa

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Mengungkap isi kepala para pemerkosa "Pria memperkosa wanita bukan semata-mata karena nafsu seksnya sedang membuncah, atau dia sedang tergoda; ada masalah pada cara pandang para pemerkosa terhadap perempuan." - Dhuha Hadiansyah

Dalam beberapa hari belakangan, kita disuguhi warta horor perkosaan yang terjadi pada anak perempuan (ABG) di beberapa tempat.

Di Bantaeng, Selawesi Selatan, seorang wanita (16) diperkosa oleh tiga orang pria yang dikenalnya dengan baik: pamannya sendiri, sepupunya (anak sang paman tadi), dan adik ipar si paman. Tindakan pemerkosaan dari ketiganya berlangsung di rumah si paman bejat tadi. Kejadian ini dilaporkan ke polisi pada Minggu (28/10/2018).

Terpisah, di Kabupaten Bangka, seorang remaja putri berusia 14 tahun juga mengalami tindak perkosaan oleh dua orang di sebuah lapangan sepak bola. Dua pelaku berhasil ditangkap usai laporan korban pada pihak kepolisian, Rabu (24/10/2018).

Kabar lebih tragis dialami oleh seorang siswi SD di Rokan Hilir (Rohil), Riau, pada Rabu (24/10/2018). Korban dibunuh terlebih dulu oleh pelaku, Hendri (32), baru kemudian diperkosa.

Sebelum itu, sejumlah pemerkosaan tragis juga terjadi di Indonesia. Yang paling menghebohkan adalah kasus yang menimpa Eno Parihah (18), pada Mei 2016 di Tangerang, Banten. Tiga pelaku memasukkan gagang cangkul ke organ kewanitaan Eno usai melakukan perkosaan. Kematian eno menyentak empati siapa pun, kecuali mereka yang sudah mati rasa. Di tahun yang sama, warga juga dikejutkan dengan kabar perkosaan hingga meninggal terhadap korban bernama Yuyun (14) oleh sebanyak 14 pemuda di Bengkulu.

Ada apa di kepala para pemerkosa?

Menjawab tanyaan di atas, ada baiknya kita mengacu kepada hasil studi yang dilakukan Madhumita Pandey untuk meraih gelar doktor Kriminologi dari Anglia Ruskin University, Inggris, pada September 2017. Hasil penelitian Pandey banyak dimuat di berbagai media massa internasional. Pasalnya, ia memotret sisi lain dari 100 pemerkosa yang ditemuinya di India setelah tiga tahun terjun ke lapangan.

Menurut data dari National Crime Records Bureau, 34.651 perempuan diperkosa pada tahun 2015 di India. Tiga tahun sebelumnya, pakar-pakar studi gender menempatkan India sebagai negara paling tidak aman untuk perempuan di antara negara-negara G-20.

Setelah menemui para pemerkosa di penjara Tihar, Delhi, Pandey mempelajari beberapa hal. Kebanyakan pelaku memiliki latar pendidikan rendah. Kurangnya edukasi berkontribusi besar terhadap tindakan kriminal yang mereka perbuat saat dewasa. Tidak hanya sebatas sisi akademis yang Pandey bicarakan di sini. Pendidikan seks yang minimal juga berperan besar terhadap kejahatan seksual yang marak di India. 

Pada kebanyakan sekolah, pendidikan seks diabaikan dengan alasan bisa merusak nilai tradisional dan mengkorupsi pola pikir anak-anak muda. Orang tua pun jarang ada yang mau menyebut kata penis, vagina, perkosaan, atau seks. Budaya konservatif dan tabu di India inilah yang pada akhirnya membentuk pribadi-pribadi yang tidak sensitif seputar isu seks, bahkan melakukan kekerasan karena kekurangpahamannya mengenai praktik-praktik seks yang tidak melanggar hak orang lain.

Apa yang dilakukan pemerkosa merupakan hasil didikan dan proses berpikir yang keliru. Terkait pola didik yang keliru, banyak laki-laki yang menyerap ide salah mengenai maskulinitas: harus dominan, punya kuasa atas perempuan atau musti serba-lebih dibanding perempuan. Malangnya, tidak sedikit perempuan yang mengamini gagasan bahwa kaumnya harus tunduk atau bersifat submisif terhadap laki-laki.

Dalam wawancara yang dilakukan Pandey, banyak pemerkosa yang membuat justifikasi atau normalisasi atas perbuatannya. Hanya segelintir yang benar-benar menyesal. Lebih buruk lagi, mereka menyalahkan korban atas tindak kejahatan yang dilakukannya—tidak sedikit pula masyarakat yang juga menyalahkan korban ‘victimize the victim’.

Simpulan penelitian Pandey ini adalah laki-laki pemerkosa menjadi pelaku sekaligus korban dari budaya patriarki dan maskulinitas beracun yang merajalela. Maskulinitas sering dianggap sebagai penaklukan atas ketubuhan perempuan.

Hasil studi Pandey ini sebetulnya sudah banyak dikemukakan oleh para aktivis perempuan, bahwa perkosaan dilatari oleh ideologi kekerasan terhadap perempuan. Yang membuat penelitian Pandey menarik adalah jumlah informan yang dia wawancarai.

Maskulinitas beracun sebagai akar dari ideologi kekerasan terhadap perempuan ini beroperasi pada penyalahgunaan kekuasaan dan orkestrasi hak-hak laki-laki atas perempuan.

Ideologi maskulinitas itu sendiri merupakan bentuk ekstremisme, karena mengandaikan supremasi pria atas wanita, yang sering menghasilkan tindakan-tindakan misogini atau kebencian terhadap perempuan (yang di dalamnya termasuk objektivikasi terhadap seksualitas perempuan).

Jadi, pria memperkosa wanita bukan semata-mata karena nafsu seksnya sedang membuncah, atau dia sedang tergoda. Pasalnya, setiap laki-laki (juga perempuan) pasti merasakan horni, dan mereka mafhum harus melakukan apa untuk mengatasinya. Ada masalah pada cara pandang para pemerkosa terhadap perempuan, yang semata-mata dipandang sebagai makhluk seksual yang sah untuk dieksploitasi.

Seseorang yang memiliki kehendak dan cara pandang lurus tentu saja tidak akan tega menyaksikan rasa sakit di pihak lain, apalagi merasakan penikmatan di atas nestapa orang lain.

TKD Jabar: Suara Jokowi-Ma'ruf di Priangan Barat dan Priangan Timur masih lemah
DPR desak Kemenag efisienkan pembuatan kartu nikah
Ma'ruf Amin: Masyarakat salah paham soal orang buta dan budek
Demokrat sepakat dengan Sandiaga soal genderuwo ekonomi di pemerintahan Jokowi
Kubu Prabowo sebut penurunan kemiskinan Jokowi kalah dengan Megawati dan Gusdur
DPR nilai sudah seharusnya standar nilai CPNS tinggi
Dispotdirga sosialisasi jurnalistik dan penggunaan internet TNI AU
Bamsoet: hentikan kenaikan harga beras medium
PT Petamburan minta putusan pengadilan dihormati
Kunjungan DPR ke Selandia Baru bahas isu strategis
Bro Sandi: Di masa depan, air akan lebih berharga dari emas
Sandiaga Uno akan beri cabai mulut politisi yang kasar
DPR sebut kartu nikah lebih efisien dari buku nikah
Fadli Zon nilai Sandiaga langkahi makam tokoh NU tak berdampak bagi bangsa
Rocky Gerung: istilah politik genderuwo Jokowi dangkal dan konyol
Fetching news ...