Ideas

Respon PDIP terkait OTT 3 kadernya oleh KPK

REPORTED BY: Siti Dzakiyyah

Respon PDIP terkait  OTT 3 kadernya oleh KPK "Siapa pun yang terjerat OTT KPK otomatis langsung dipecat" - Ahmad Basarah

Dalam waktu sepekan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap tiga kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) diantaranya Bupati Purbalingga Tasdi, Wali Kota Blitar Muhammad Samanhudi Anwar dan Bupati Tulungagung Syahri Mulyono.

Tertangkapnya pemimpin daerah kader PDIP ini dalam kasus yang berbeda-beda, namun masih terkait dengan kasus korupsi.

Dalam Aksi Operasi Tangkap Tangan (OTT) ini, KPK menangkap Bupati Purbalingga Tasdi terkait kasus suap proyek Islamic Center, Senin (04/06/2018).

KPK sudah menetapkan Tasdi menjadi  tersangka dalam proyek pembangunan Islamic Center tahap 2 tahun 2018.

Menurut KPK, Tasdi menerima uang suap sebanyak Rp. 100 juta dari proyek dengan nilai Rp. 2 Miliar.

Tak hanya menangkap Tasdi, KPK juga menangkap pihak-pihak swasta sebagai tersangka pemberi suap. KPK menduga Bupati Purbalingga tersebut telah melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi.

Setelah tertangkapnya Bupati Purbalingga Tasdi, KPK juga menetapkan dua kader PDIP daerah lainnya yaitu Wali Kota Blitar Muhammad Samanhudi Anwar dan Bupati Tulungaagung.

Samanhudi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penerimaan suap ijon proyek pembangunan sekolah lanjutan pertama di Blitar.

Dalam operasi tangkap tangan (OTT) di Blitar, Rabu (06/06/2018), KPK menyita sejumlah barang bukti diantaranya uang sekitar 1,5 miliar dan catatan proyek.

Samanhudi diduga menerima suap dari pihak swasta yang bernama Susilo Prabowo sebesar 8 persen yaitu Rp. 1,5 Miliar dari proyek dengan nilai Rp 23 miliar.

KPK juga menangkap dua pihak swasta yakni Bambang Purnomo selaku pihak swasta dan kontraktor Susilo Prabowo.

Keduanya diduga sebagai penerima suap melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf batau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sedangkan Mantan Bupati Tulungagung Syahri Mulyono periode 2013-2018 ditetapkan sebagai tersangka dugaan menerima suap sekitar Rp 2,5 miliar terkait proyek-proyek pembangunan infrastruktur peningkatan jalan pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Tulung Agung.

Dalam OTT tersebut KPK juga menangkap 3 tersangka lainnya yakni Agus Prayitno dari pihak swasta, Sutrisno selaku Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Tulungagung  dan Susilo Prabowo selaku kontraktor.

“Diduga pemberian suap itu dilakukan oleh Susilo Prabowo kepada Bupati Tulungagung sebesar Rp 1 Miliar dan itu bukan kali pertama Syahri menerima uang tersebut,” papar Wakil Ketua KPK Saut Situmorang.

KPK menetapkan Syahri Mulyo, Agung Prayitno dan Sutrisno telah melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidanan Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

 

Rompi kuning KPK untuk Inneke Koesherawati
Racun kemesraan dalam pernikahan
Demokrat upayakan Jokowi tak lawan kotak kosong
PKS minta kader belajar dari kemenangan Erdogan
Usir jerawat dengan kulit semangka
Gerindra daftarkan mantan koruptor di Pileg 2019
Ngabalin jadi komisaris Angkasa Pura, Fadli: BUMN amburadul
Bumi Manusia bukan sekadar cinta Minke dan Annelies
Politisi berbondong-bondong ke NasDem, ada apa?
Politisi terima uang transfer untuk pindah partai harus lapor KPK
Riza Chalid penampakan di acara NasDem, sudah aman?
Golkar ngotot daftarkan caleg mantan napi korupsi
Nikmati empat hari Festival Bunaken
Film ’22 Menit’ hadir di Anugrah Jurnalistik Polri 2018
Etika politik dan pindah partai
Fetching news ...