Ideas

Panjang umur pecinta alam

REPORTED BY: Siti Dzakiyyah

Panjang umur pecinta alam

"Dan ke hutanlah aku pergi, untuk kehilangan pikiranku, dan menemukan jalanku,”  

 

Mungkin ini kata-kata yang selalu melekat dalam ingatan saya. Hingga saat ini meskipun saya tak mengetahui siapa pemilik kata-kata tersebut, seolah sihir, dan hati mengiyakan. 

 

Hutan, embun, kayu bakar, awan kapas, ya! semua sebagai tempat pulang, kembali ke rumah (bagi saya).

 

Hai pecinta alam, salam lestari! 

 

Pecinta alam secara umum kita kenal sebagai istilah yang dipergunakan untuk kelompok-kelompok yang bergerak di bidang lingkungan hidup dan konservasi alam. Di Indonesia istilah ini merujuk pada kelompok yang bergerak di bidang petualangan alam bebas, seperti mendaki gunung, ekspedisi ke belantara, panjat tebing, arung jeram, susur gua, penyelaman bawah laut dan bertualang dengan perahu layar.

 

Istilah Pecinta Alam pertama kali dipopulerkan oleh para mahasiswa di Universitas Indonesia. Mapala UI pada tahun 1964. Para tokohnya seperti Soe Hok Gie, Herman Lantang, Aristides Katopo, dll. Setelah itu perkembangan kelompok-kelompok pecinta alam berkembang sangat pesat.

 

Dalam pandangan saya, pecinta alam adalah seorang yang benar-benar mendedikasikan dirinya untuk alam. Orang yang benar-benar peduli terhadap alam.

 

Pecinta alam adalah yang tahu bertindak harus berdasarkan ilmu. Tapi, mengapa saat ini orang sangat sulit membedakan mana penikmat alam dan pecinta alam?

 

Menurut salah satu penggiat alam Anthoni Putra, pecinta dan penikmat itu memiliki makna yang tak jauh berbeda. Hanya saja, pencinta lebih memiliki makna yang mendalam jika dibandingkan dengan penikmat.

 

Pecinta biasanya disertai dengan niat tulus untuk menjaga, bukan hanya sekedar menikmati saja. Sementara penikmat lebih cenderung hanya menikmati saja, tanpa ada rasa memiliki yang dapat menumbuhkan niat untuk menjaga.

 

Begitu juga dengan penikmat dan pencinta alam. Keduanya hampir memiliki makna yang serupa, hanya saja pecinta alam jauh lebih beretika jika dibandingkan dengan penikmat alam.

 

Dulu, kegiatan kealaman seperti mendaki gunung hanya dilakukan oleh pecinta alam. Mendaki gunung juga bukan sesuatu yang mudah dilakukan seperti belakangan ini. 

 

Seingat saya, kegiatan kealaman khususnya mendaki gunung kian populer sejak munculnya film '5 Cm'. Dalam film tersebut ditunjukkan bahwa naik gunung adalah sesuatu yang keren, sehingga anak-anak muda saat itu mulai menggandrungi kegiatan tersebut. 

 

Tak lama kemudian, muncul film-film serupa, yang ditambahi bumbu cinta (saya sebut 'mecin') sehingga terkesan mendaki gunung bersama pasangan adalah hal paling romantis. 

 

Tak menutup kemungkinan lahirnya si 'penikmat' alam juga berangkat dari peran sosial media. Di mana-mana terpampang jelas bahwa gunung adalah tempat 'bermain'. Mereka lupa bahwa tempat bermain dapat pula menjadi berbahaya. 

 

Dampaknya, kini kita susah membedakan mana pecinta alam dan mana penikmat alam. Karena dari segi penampilan, mereka mirip. Sama-sama menggendong carierl, memakai sepatu gunung, celana pdl, tak lupa bandana atau kupluk 'erger' agar tampil maksimal. 

 

Tapi, saya ingin tekankan disini. Pecinta alam mungkin bisa terlihat sama dengan penikmat alam. Tapi perlakuan mereka terhadap alam dapat dipastikan berbeda. 

 

Pecinta alam lebih fokus bagaimana mana agar alam tetap terjaga kelestariannya. Bagaimana anak cucunya kelak dapat menikmati hal yang serupa dengan dirinya, dan tak lupa hal ini semata-mata karena tunduk dan rasa syukur kepada Tuhan-Nya.

 

Berbeda dengan penikmat alam yang hanya ingin menikmati alam saja. Saya tidak katakan mereka tidak peduli terhadap kelestarian alam, mereka hanya kurang peka. 

 

Lantas, dilarangkah seseorang seperti penikmat alam ini? Tidak, asal jangan merusak. Karena bisa saja seorang penikmat alam menjadi pecinta alam. Pada mulanya proses terjun menjadi pecinta alam pun pasti karena ada keinginan menikmati alam. 

 

Menyadari bahwa alam kini sedang sakit, sudah selayaknya kita sebagai manusia berterima kasih dengan cara menyembuhkan kembali alam kita. Karena kalau bukan dari diri sendiri, siapa lagi? 

 

Teruntukmu pecinta alam di Indonesia, terima kasih. Walau tak banyak yang tahu kebaikan apa yang telah dirimu lakukan, teruskanlah. Karena mencintai alam bukan sesuatu pekerjaan, tapi sebuah ketulusan. Semoga panjang umur! 

 

 

Mengingat 3 horor perkosaan di Indonesia
Fahri Hamzah: Pilpres lebih banyak perang gimmick, rakyat lapar bos
Agung Laksono nilai dukungan Soetrisno Bachir dongkrak suara Jokowi
Popularitas Habieb Rizieq turun, Golkar: masyarakat ingin kelembutan
TKN: Ustad Abdul Somad tak berpihak pada Prabowo
Demokrat ke Prabowo-Sandi: Apa yang menjadi janji harus ditepati
Demokrat tuding Sekjen Gerindra beri informasi tak utuh ke publik
Isi pembicaraan Jokowi dengan Putin
Sederet dampak buruk jika Anda miskin
PAN nilai Sandiaga Uno lebih tingkatkan elektabilitas dibanding Prabowo
Kubu Jokowi nilai kampanye negatif tak haram
Kubu Prabowo ingin lakukan taubat nasional
DPR RI kutuk serangan Israel atas warga Palestina
Sete Gibernau kembali balap Gran Prix setelah 10 tahun pensiun
JAPRI ajak masyarakat cerdas hindari hoaks
Fetching news ...