Kebahagiaan dalam pernikahan dan keluarga

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Kebahagiaan dalam pernikahan dan keluarga "Kita tidak bisa mengharapkan kebahagiaan, tetapi di saat yang sama kita tidak melakukan apa pun untuk menyiapkan kedatangannya."

Kebahagiaan adalah esensi yang secara alami dicari oleh setiap insan pada sepanjang lalu lintas hidupnya. Sebagian besar pemikir klasik mengatakan bahwa kebahagiaan adalah tujuan segala sesuatu, seperti halnya Epicurus (341–270 SM) yang mengatakan bahwa tujuan akhir dari hidup adalah kebahagiaan.

Filsuf dari kalangan Islam, Al-Farabi (870-950), berpendapat bahwa tujuan utama dari etika adalah memperoleh kebahagiaan. Baginya, keparipurnaan seseorang yang paling utama adalah kebaikan, dan kebaikan tertinggi adalah kebahagiaan. Maka, semakin banyak manusia mencoba untuk mencapai kebaikan, semakin seseorang berlimpah kebahagiaan.

Ketika sepasang anak manusia memutuskan menikah, yang mereka inginkan pun adalah kebahagiaan. Capaian kebahagiaan ini lebih memungkinkan karena dua insan yang berikrar menikah menggabungkan dua kebaikan, yaitu kebaikan yang bersumber dari diri dan pasangannya sekaligus.

Kebaikan gabungan yang menghasilkan kebahagiaan paripurna adalah dua kebaikan independen, bukan satu orang menggantungkan kebaikan dari yang lain. Artinya, kedua individu yang membingkai diri dalam rumah tangga adalah dua insan yang paham tentang kebajikan dan berperilaku baik kepada dirinya sendiri dan orang lain.

Hanya orang yang secara individu baik dan bahagia yang pernikahannya akan bahagia. Apabila ada salah satu saja dari pasangan (atau malah keduanya) yang sebelumnya tidak baik dan bahagia lalu menikah, tidak perlu berandai-andai pernikahan mereka bakal membahagiakan.

Kebahagiaan pernikahan bukan sesuatu yang terberi percuma, tetapi tercipta dari kebahagiaan tiap-tiap pasangan, yakni suami dan istri. Jika kita ingin menarik garis tegas, dari keduanya, siapa yang paling menentukan kebahagiaan rumah tangga, jawaban tiap-tiap orang mungkin berbeda tetapi sebuah riset dari University of Michigan mengungkapkan bahwa kebahagiaan istri lebih menentukan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengenai kualitas pernikahan dan kebahagiaan pasangan manula. Kebahagiaan istri dianggap memiliki efek jangka panjang terhadap keberlangsungan sebuah hubungan pernikahan.

Data dari penelitian diperoleh dari 394 pasangan suami istri pada tahun 2009. Pasangan suami istri ini rata-rata sudah memiliki usia di atas 60 tahun dan telah menikah selama 39 tahun.

Untuk mengukur kualitas pernikahan, partisipan diberi pertanyaan tentang hal-hal yang terjadi selama pernikahan mereka. Selain itu, mereka juga diminta menulis sebuah catatan yang berisi tentang kebahagiaan yang mereka alami dalam 24 jam ke belakang. Partisipan pria dan wanita rata-rata menilai hidup mereka cukup bahagia.

Akan tetapi, kebahagiaan pria menurun drastis ketika pasangan mereka mengalami sakit atau masalah lainnya. Kesehatan istri berpengaruh besar terhadap tingkat kebahagiaan suami, meskipun ketika sedang sakit, istri lebih bergantung kepada anak daripada kepada suami.

Dalam banyak budaya, istri sering lebih sabar ketika harus merawat suaminya yang sakit. Sebaliknya, atas alasan kesehatan istri, beberapa suami malah melirik perempuan lain, bukannya lebih memperhatikannya.

Penelitian ini bukan menganjurkan supaya istri bermanja-manja karena kebahagiaannya berpengaruh besar terhadap pernikahan, tetapi dia musti menjaga potensi fisiknya supaya kesehatannya prima dan memelihara kualitas hidupnya supaya taat azas dalam kebaikan.

Demikian pula untuk suami, menjaga perasaan istri itu sama pentingnya dengan menjaga perasaan sendiri. Sebab, apabila perasaan istri terguncang, rumah tangga pun akan mengalami kegelisahan. Istri yang tidak bahagia akan mencemari perasaan seluruh anggota keluarga, terutama anak-anak, dan pada akhirnya suami sendiri.

Sebetulnya, tidak hanya keresahan istri yang akan mencemari anggota yang lain, tetapi siapa pun yang disfungsi, akan mempengaruhi struktur keluarga. Keluarga adalah sistem, sehingga apabila ada satu gangguan pada sub-sistem tertentu, yang lain pasti ikut terganggu.

Oleh sebab itu, keluarga yang menginginginkan kebahagiaan yang langgeng, bagian-bagian dalam sistem harus dipastikan berfungsi sebagaimana mustinya: ayah untuk produktivitas, ibu menjaga emosi keluarga, dan anak untuk merekatkan hubungan dan kesatuan keluarga.

Kebahagiaan akan menjadi maya apabila fungsi-fungsi tersebut tak berjalan baik, misalnya: ayah pengangguran atau berpenghasilan minim, ibu tak pernah selesai dengan perasaannya sendiri, anak berubah menjadi beban karena cacat dsb. Perlu dijelaskan bahwa kecacatan di sini adalah cacat moral, kejiwaan dan fisik. Bukan bermaksud merendahkan anak cacat, tetapi kita ingin melihat situasi ini dengan mata terbuka bahwa ketika satu keluarga memiliki anak cacat, kebahagiaan di keluarga berpotensi menurun. Sehingga, ketika ada salah satu anak yang memiliki kekurangan, sepasang suami-istri harus mengantisipasinya—betapa banyak pasangan yang tidak menyiapkan skenario ketika memiliki anak cacat? Sejumlah pasangan malah bercerai usai memiliki anak difabel.

Memenuhi kebutuhan dasar

Kebahagiaan pernikahan mensyaratkan terpenuhinya kebutuhan paling mendasar, sebab tanpa terpenuhinya kebutuhan ini, hal-hal lain lain, termasuk kebaikan, dapat terlupakan. Psikolog AS kenamaan Abraham Harold Maslow (1908–1970) mendokumentasikan 5 tingkatan kebutuhan dasar setiap orang. Pertama adalah kebutuhan fisiologis, seperti makan, minum, tidur, rumah, bernafas, dsb. Kebutuhan selanjutnya adalah rasa nyaman/aman. Kebutuhan ini muncul ketika kebutuhan dasar (fisiologis) telah terpenuhi. Manusia membutuhkan rasa aman dalam pekerjaan, jaminan kesehatan diri/keluarga, jaminan pensiun, keamanan jiwanya dsb.

Ketiga adalah kebutuhan sosial. Apabila kedua kebutuhan dasar tadi telah terpenuhi secara cukup, manusia cenderung menginginkan untuk menjalin hubungan atau afiliasi dan berinteraksi dengan sesama. Manusia membutuhkan persahabatan dan pergaulan.

Kebutuhan keempat adalah penghargaan. Ketika manusia sudah berinteraksi secara intens dengan lingkungan sosialnya, akan muncul keinginan untuk dihormati, diapresiasi, serta diakui. Intinya, manusia membutuhkan penghargaan diri atas segala sesuatu yang telah dicapainya.

Terakhir adalah kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. Menurut Maslow, aktualisasi diri merupakan tingkatan paling ujung pada diri manusia. Manusia disebut Maslow membutuhkan tempat dan fasilitas untuk menunjukan potensi, kelebihan, keahlian, maupun ilmu yang dimilikinya.

Untuk bertabur kebahagiaan, setiap keluarga harus mengakomodasi kebutuhan tersebut bagi tiap-tiap anggota secara adil. Petaka keluarga akan terbuka lebar apabila kebutuhan dasar tidak terpenuhi dan ada tiang rumah tangga (ayah atau ibu) yang tidak berfungsi (bercerai, tidak produktif atau meninggal).

Kebahagiaan rumah tangga, sebagaimana duka, tidak pernah pilih kasih. Kebahagiaan akan mendatangi siapa pun, tanpa terkecuali, yang membuka diri untuk menyambutnya. Kita tidak bisa mengharapkan kebahagiaan, tetapi di saat yang sama kita tidak melakukan apa pun untuk menyiapkan kedatangannya.

Utang hampir Rp4.000 triliun, how high can you go?
Raih berbagai diskon dalam perayaan Hari Belanja Online Nasional
Berharap kinerja DPR naik setelah blue print reformasi rampung
Iming-iming Jokowi bagi pejabat yang tutup peluang korupsi
Memperkuat pendidikan Islam di perbatasan
Fetching news ...