Menjanda dua kali pertanda naik derajat?

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Menjanda dua kali pertanda naik derajat?

Saya akan memulai dengan mengetengahkan kisah Violet (29), yang dalam kurun lima tahun menyandang dua kali status janda. Biduk pernikahan Violet dengan suaminya karam gegara sang suami tak dapat menjalankan fungsinya di tempat tidur.

Pernikahan Violet dengan suami pertamanya ini, yang juga teman semasa kuliah, berjalan kurang lebih 3 tahun, dengan hanya membuahkan sekali orgasme baginya—itu pun dengan bantuan video porno. Selain gairah yang rendah, suami Violet juga ejakulasi dini. Setiap berhubungan, harus Violet yang memulai. Itu pun rata-rata hanya sebulan sekali.

Pernikahan tak sesuai bayangan, Violet meminta cerai. Suaminya mengabulkan permintaan tersebut dengan mendatangi pengadilan agama, mengajukan talak dengan alasan tak ada keharmonisan.

Pascaputus hubungan pernikahan selama beberapa bulan, Violet berkenalan dengan Surya (39) yang tengah dalam proses cerai di pengadilan. Surya sendiri sudah memiliki 3 anak dari pernikahan pertamanya. Tak membutuhkan waktu panjang-panjang bagi Violet untuk memutuskan menikah lagi, sambil berharap bahwa ini adalah pernikahan yang terakhir sekaligus berjalan dan berakhir bahagia seperti kisah putri dan pangeran di negeri dongeng.

Empat bulan menikah, Surya secara mengejutkan menghadap ke orang tua Violet untuk menyerahkan putri sulungnya itu. Sang suami ingin pulang kampung ke seberang pulau dan tak berniat kembali. Keberangkatan Surya dari Bandara Seokarno-Hatta menandai keputusan talak untuk mengakhiri jalinan kasih seumur jagung tersebut.

Kali ini Surya tak perlu repot-repot ke pengadilan karena status perkawinannya dengan Violet adalah nikah siri. Pernikahan siri ini dilatari oleh rumitnya birokrasi yang harus dilalui Surya karena statusnya dengan istri pertama yang belum diputuskan tersebut. 

Violet menjanda untuk yang kedua kali. Kalut diterpa badai perasaan, Violet yang cukup relijius mendatangi orang yang dia percaya sebagai ahli agama untuk menyejukkan hatinya.

“Itu cara Allah untuk menaikkan derajatmu, neng.” Seperti itu nasihat sang guru yang diingat Violet dengan baik dan menjadi pegangan.

Bagi orang yang dilanda depresi seperti itu, nasihat tersebut cukup membantu karena memberikan harapan terhadap hari esok. Seandainya kasusnya di lempar ke warga media sosial, orang yang berlagak lebih relijius mungkin malah bilang seperti ini, “Itu tandanya kurang iman. Ibadah dirajinin; minta jodoh yang soleh sama Allah.” Anda tak perlu tersinggung jika Anda pernah mengucapkan hal tersebut sebagai apa yang Anda anggap solusi.

Baik nasihat guru maupun prakiraan respons yang kedua adalah tipikal, malah cenderung konvensional. Masalah apa pun, solusi yang muncul biasanya dua jenis nasihat tersebut. Jangan salah, saya tidak sedang dan hendak mempersalahkan agama apa pun.

Saya ingin fokus pada nasihat sang guru. Jadi, tanyaan sederhananya adalah “Benarkah menjanda dua kali adalah tanda naik status (secara spiritual)?”

Jika seperti itu, supaya statusnya lebih tinggi, apa perlu Violet menjanda tujuh kali? Saya pastinya tidak tahu jawabnya karena saya bukan penguji status keimanan seseorang. Saya yakin hanya Tuhan yang mengetahui dan sedikit orang yang diizinkanNya untuk tahu. Bahkan, dalam cerita yang populer di pesantren, Nabi Musa AS pun tak tahu siapa di antara umatnya yang paling dekat dengannya di surga nanti, sehingga dia harus bertanya kepada Yahweh siapa orang tersebut.

Oleh karena itu, apabila saya harus mencermati keadaan yang dialami Violet, saya tidak akan mengambil sudut pandang status keimanan atau tingkat kerajinan ibadah seseorang. Jika diminta menilai kualitas Bahasa Inggris seseorang, kemungkinan saya bisa, bahkan bisa memberikan komentar-komentar berbisa seperti komentator audisi menyanyi di TV. Jadi, saya menyerahkan kualitas iman itu kepada Allah, dan sebagai manusia, saya akan menganalisisnya berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya sebagai manusia.

Mari kita mulai analisisnya, mungkin istilah "analisis" ini terlalu ilmiah jadi kita sebut saja "obrolannya."

Pertama, saya tegaskan dulu bahwa saya membahas ini dengan harapan apa yang dialami Violet tak terulang dan tak terjadi pada kita semua.

Apabila ada orang yang terjebak pada situasi batin mencekam, saya selalu curiga itu sejatinya bukan benar-benar masalah tetapi pola (pattern) belaka. Jadi, saya akan melacak riwayat keluarganya. Keluarga yang disfungsi akan mencetak anaknya ke dalam pola-pola tertentu yang diulang dari generasi ke generasi. Sebelumnya, Anda harus dapat membedakan antara kepribadian dan pola.

Jadi, tanyaan saya ke Violet, “Siapa di antara keluarga yang mengalami kejadian seperti dirimu?”

“Ibu.”

“Nah!”

Ibu Violet menikah sangat belia (zaman old). Suaminya tidak tahu harus berbuat apa setelah ijab-kabul. Selama menikah, ibu Violet tak pernah disentuh (seks) sampai keduanya bercerai. Kata orang, ini namanya janda perawan. Ibu Violet kemudian menikah lagi. Hubungan seks baru dialaminya di pernikahan yang kedua ini. Akan tetapi, tak berapa lama menikah, suaminya kabur begitu saja, meninggalkan status janda tanpa anak. Baru setelah itu, dia menikah dengan pria ketiga dan menghasilkan anak Violet.

“Kok bisa begitu?”

Selama seseorang menikah dan kemudian berkeluarga (memiliki anak) yang tidak menyadari atau mengelak disfungsi yang dialaminya, dia akan mewariskan siklus. Pola dari anak-anak yang lahir dari keluarga disfungsi dapat dipetakan dengan cukup akurat oleh para ahli.

Pola yang dijalankan Violet nyaris sama dengan ibunya karena dia diasuh dengan cara yang persis seperti sang nenek mendidik ibunya. Oleh karena itu, cara pandangnya akan mirip, sehingga pilihan-pilihannya (dalam kasus ini memilih suami yang tak seharusnya dipilih) pun mirip. Siklus seperti ini hanya dapat diputus jika kita telah melakukan penyadaran (penyembuhan).

Jadi, Violet akan ajeg dan memiliki anak dengan suami ketiganya nanti (seperti ibunya)?

Tentu saja kita berdoa untuk kebaikan dan kebahagiannya. Akan tetapi, jika dia terlalu mempercayai (termistifikasi) bahwa cerai akan menaikkan derajatnya, mungkin dengan suami yang ketiga juga akan bercerai. Bukankah tak sedikit orang kawin-cerai sampai lima kali sebagaimana penggalan lirik sebuah lagu Jawa, “anak limo bedo bapake”? 

Racun kemesraan dalam pernikahan
Demokrat upayakan Jokowi tak lawan kotak kosong
PKS minta kader belajar dari kemenangan Erdogan
Usir jerawat dengan kulit semangka
Gerindra daftarkan mantan koruptor di Pileg 2019
Ngabalin jadi komisaris Angkasa Pura, Fadli: BUMN amburadul
Bumi Manusia bukan sekadar cinta Minke dan Annelies
Politisi berbondong-bondong ke NasDem, ada apa?
Politisi terima uang transfer untuk pindah partai harus lapor KPK
Riza Chalid penampakan di acara NasDem, sudah aman?
Golkar ngotot daftarkan caleg mantan napi korupsi
Nikmati empat hari Festival Bunaken
Film ’22 Menit’ hadir di Anugrah Jurnalistik Polri 2018
Etika politik dan pindah partai
Dukung pilkada damai, Polri gelar Anugrah Jurnalistik 2018
Fetching news ...