Ma, mau sorga, gak?

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Ma, mau sorga, gak? "para suami supaya tidak merasa, apalagi mengaku, tengah kedodoran hidayah; jangan pula ditambah cingkrang perenungan. Sehingga, dengan cara itu, istri dijadikan sasaran mistifikasi atas nama agama."

Ada beragam indikasi dalam keluarga disfungsi, yang salah satunya adalah penuh dengan mitos. Dalam keluarga disfungsi, mitos biasanya disemai oleh pemilik otoritas kepada anggota di bawahnya (orang tua ke anak atau suami ke istri).

Dalam jangka pendek, mitologisasi tampak berhasil mengendalikan objek, akan tetapi sesungguhnya ini adalah tabungan racun di brankas mental para penerimanya. Salah satu mitos yang sering diuar-uarkan dalam hubungan suami-istri adalah tentang sorga. Saya tidak mengatakan sorga adalah mitos, tetapi ada pihak yang sengaja jualan sorga, seolah-olah dialah si pemegang gembok sorga tersebut.

“Ma, mau sorga, gak, ma?” Kata Bendi (55) kepada istrinya saat di meja makan.

Bendi mengatakan hal tersebut sebagai tindak tutur imperatif supaya istrinya mengambilkan nasi dan lauk untuknya. Tak hanya saat itu, Bendi cukup sering mengujarkan pernyataan tersebut sebagai strategi mengendalikan istrinya.

Di sini, Bendi tampak memanfaatkan penafsiran dalam agamanya bahwa istri yang melayani suami akan mendapatkan sorga. Bendi paham betul bahwa istrinya tak banyak mengetahui hukum-hukum dalam agama.

Padahal, Bendi sendiri adalah suami yang kurang fungsional. Dia tidak memiliki pekerjan tetap setelah pensiun sebagai sopir. Sumber ekonomi utama keluarganya saat ini berasal dari penghasilan sang istri yang merupakan PNS guru. Yang sekarang banyak dilakukan Bendi untuk menghabiskan waktu adalah memancing. Bendi pasti mengetahui bahwa yang dia pancing adalah ikan, bukan kunci sorga.

Meskipun tidak berpenghasilan, Bendi tetap memelihara imajinasi bahwa suami harus dilayani di segala bidang. Jadi, semua pekerjaan rumah tetap menjadi tanggung jawab sang istri meskipun dia juga berperan sebagai penopang gizi keluarga.

Bendi dan istrinya sudah menjalani pernikahan selama lebih dari 30 tahun, bahkan sudah memiliki beberapa cucu.

Mengapa harus menebar mitos?

Meskipun Anda juga tahu, saya perlu menegaskan bahwa Bendi (dan pria lain) statusnya sama dengan istrinya (dan juga perempuan lain) di mata Sang Khalik. Semua hamba berjuang mendapatkan keridaan Tuhannya dengan kesempatan yang sama. Bendi sendiri juga pastinya sadar bahwa dia tidak sedang mengantongi kunci sorga.

Saya mengingatkan para suami supaya tidak merasa, apalagi mengaku, tengah kedodoran hidayah; jangan pula ditambah cingkrang perenungan. Sehingga, dengan cara itu, istri dijadikan sasaran mistifikasi atas nama agama.

Siapa pun yang gemar memelihara mitos memiliki satu tujuan yang jelas, yakni untuk mengalihkan objek dari kondisi yang sesungguhnya. Keadaan yang dicoba untuk dikamuflase adalah ketidakmampuan Bendi dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Bendi kemudian mencari kompensasi dengan mengetengahkan sesuatu yang dipercaya sang istri. Mitologisasi dengan sorga mudah dilakukan karena dia tak terindera, tapi diimani.

Semakin disfungsi sebuah keluarga, akan semakin banyak mitos yang diciptakan. Hal sama juga terjadi pada seseorang dengan kepribadian disfungsi, misalnya orang dewasa yang kekanak-kanakan (adult-child). Dalam semua relasi, dia bakal pandai membuat mitos.

Jika istri Bendi betah berkeluarga dengan mitos hingga beberapa puluh tahun, lain halnya dengan Ungu (28). Di pernikahannya yang baru menginjak bulan keempat, Ungu sangat berhasrat untuk bercerai. Yang menjadi keluhan utama adalah sikap sang suami yang iras-iras Bendi.

Suami Ungu selalu ingin dilayani sembari terus-terusan mengatakan bahwa itu adalah tugas istri yang sudah digariskan. Memasak, mencuci, membersihkan rumah, termasuk harus siap sedia untuk urusan 4X4 adalah contoh pekerjaan yang dimaksud oleh suami Ungu.

Saya tegas mengatakan bahwa pernyataan “tugas istri yang sudah digariskan” dengan contoh-contoh di atas adalah mitos belaka.

Suami Ungu memanfaatkan mitos “tugas tergariskan” tersebut sebagai bentuk pengalihan bahwa dirinya adalah anak manja, yang selalu ingin dilayani.

Baik Bendi maupun suami Ungu adalah adult-child. Yang pertama persis seperti anak-anak yang tidak dapat mencari nafkah dan bergantung hidup pada yang lain, dan yang kedua tidak dapat melakukan pekerjaan sehari-hari (seperti anak balita) sehingga butuh pengasuh.

Anda yang mencermati berita politik pasti berkarib dengan istilah “pengalihan isu”. Nah, di keluarga juga ada yang seperti itu, terutama apabila otoritas dipegang oleh mereka yang tidak utuh sebagai manusia (tubuhnya dewasa tapi mentalnya kanak-kanak).

Darurat keselamatan kerja pada proyek infrastruktur
Debu vulkanik Sinabung capai Aceh
DPR tegaskan UU MD3 tidak ada delik pidana
Menuntaskan problem warga Kedung Badak
Jangan berharap jenis kelamin anak
Fetching news ...