Dari mana harus memulai rekonsiliasi?

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Dari mana harus memulai rekonsiliasi?

Sebagian kita mungkin ada yang berpikir atau menemukan fakta bahwa banyak sekali bagian-bagian dari hidup yang butuh diperbaiki, tapi ini sangat kompleks. Lantas, kita bergumam, "Saya tidak tahu harus mulai dari mana?”

Pertanyaan di atas hanya akan dicari jawabannya oleh seseorang yang mempercayai ada sesuatu yang butuh diperbaiki dalam hidupnya; apakah dia sudah benar-benar paham tentang dirinya, orang tua, pasangan atau anak sendiri?

Jika Anda merasa dan memahami semuanya baik-baik saja dalam hidup, pertanyaan itu tidak butuh Anda cari jawabannya. Tapi, tidak rugi juga mengikuti bahasan kita kali ini.

Baiklah, lantas dari mana saya harus memulai rekonsiliasi atau perbaikan ini?

Rekonsiliasi dengan diri

Kunci sebuah rekonsiliasi adalah ketersambungan (memiliki koneksi yang baik). Rekonsiliasi tidak hanya dengan orang lain, tapi juga diri sendiri. Atau, jangan-jangan justru lebih banyak orang yang tidak menerima dirinya sendiri, ketimbang tidak menerima orang lain.

Rekonsiliasi dengan siapa pun (pasangan, orang tua, anak atau teman) akan sulit terjadi jika tidak berekonsiliasi dulu dengan diri sendiri.

Satu hal yang butuh disiapkan untuk memulai koneksi adalah “Waktu”.

Untuk memiliki hubungan yang tersambung atau memiliki koneksi yang baik, baik dengan diri sendiri atau orang lain adalah dengan meluangkan waktu untuk mendengarkan dan mehahami dia dengan baik. Tahu belum tentu tersambung; faham juga belum tentu tersambung; Kalau tersambung, sudah pasti tahu, faham serta memiliki hubungan yang baik. Jadi, ketersambungan adalah tahap akhir dari proses.

Sekarang, mari kita mulai koneksi dengan diri kita. Mari kita eksplorasi diri kita dengan beberapa input ini:

1. Pernahkah kita benar-benar bertanya kabar ke diri kita? Apa kabar “Hayati”?
2. Apakah semuanya berjalan dengan baik? Apakah saya cukup mendengarkanmu?
3. Apakah saya sudah jujur dengan semua keputusan sendiri? Sudah cukupkah kita meluangkan waktu untuk berefleksi dan mendengarkan apa saja yang sudah terjadi?
4. Bagaimana sikap saya dalam merespons sesuatu yang terjadi? Apakah sudah oke!?
5. Apa saja yang saya lakukan akhir-akhir ini? Apakah ini semua membuat hidup saya efektif?
6. Apa motif saya dengan semua ini? Apakah sekadar ingin menunjukkan/membuktikan ke orang lain atau sudah tulus?

Anda dapat melanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif lainnya. Membuat koneksi yang baik dengan diri kita adalah dengan cara berefleksi atau merenung/muhasabah dan mecoba mendengarkan suara Tuhan (inner voice) yang keluar atau didapatkan selama muhasabah.

Selama berefleksi, kita harus sangat jujur dengan semua yang keluar/pikirkan dan rasakan. Mari ijinkan otak kita memikirkan apa pun. Izinkan pula semua emosi yang sekarang kira rasakan: kecewa, sedih, duka, senang, bahagia, dst.

Proses ini adalah proses merangkul dan menerima diri kita sepenuhnya. Tulis semua yang keluar saat melakukan refleksi, sebagai penguatan kalau semua pikiran dan perasaan itu boleh kita miliki sekarang.

Terkait aksi atau sikap setelah melihat atau tahu ternyata ini yang sedang kita pikirkan dan rasakan, ada beberapa input juga:

1. Apakah ini boleh saya lakukan atau tidak?
2. Apakah ini baik saya lakukan atau tidak?
3. Apakah ini memberikan manfaat kalau saya lakukan atau tidak?
4. Apakah saya punya hak melakukan ini atau tidak?
5. Apakah saya mengganggu hak orang lain dengan melakukan ini atau tidak?
6. Begitulah kita menyaring dan memilih respons/sikap yang paling tepat terkait situasi tertentu. 

Dalam refleksi, jika menemukan/mendengarkan sebuah pengakuan tentang sebuah kesalahan dan meminta diri kita untuk meminta maaf, lakukanlah. Mintalah maaf meskipun itu pada diri sendiri dan cobalah maafkan diri kita sendiri. Dengan ini, kita berdamai dengan diri kita. 

Di tahap ini, banyak orang yang tidak ingin mengakui atau mengelak, atau banyak orang tidak gampang memaafkan masa lalu atau dirinya sendiri. Tanyaannya, kalau bukan kita yang paling menerima diri kita, lalu kita akan minta siapa? Yang paling tahu siapa diri kita ini adalah diri kita, bukan orang lain.  

 Menyendirinya Nabi Muhammad SAW ke Gua Hira ketika beliau sangat bingung menyikapi kondisi umat waktu itu adalah sebuah teladan. Saat itu, Nabi sedang ingin terkoneksi dengan Dzat yang Mahaluhur; dia melakukan refleksi dan ingin mendengarkan suara Tuhan. Filsuf Yunani, Plato mengatakan, “An unexamined life is not worth living (Hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak bernilai).”

Rekonsiliasi dengan yang lain

Melakukan proses rekonsiliasi dengan orang lain juga membutuhkan waktu. Kita pun perlu membuka hati seluas-luasnya untuk mendengarkan orang lain. Mendengarkan apa saja yang dia alami dalam hidup, mendengarkan cerita-cerita orisinal mereka.

Bukan hanya ketika ada masalah baru kita melakukan kontak dan ingin mendengarkannya. Membangun koneksi bukan hanya formalitas begitu saja tapi harus dibuktikan dengan “karena kamu orang penting dalam hidup saya, semua cerita atau pengalaman sehari-hari kamu adalah penting untuk saya ketahui”.

Mendengarkan dengan hati bukan mendengarkan untuk menjawab atau melawan dan menyimak untuk tahu celahnya di mana, tapi mendengarkan sampai kita benar-benar paham apa yang sebenarnya dia rasakan dan alami.  

Dengan orang tua, misalnya, bagaimana kita bakal punya koneksi yang bagus kalau kita tidak pernah benar-benar rela untuk mendengarkan mereka?

Dengan anak kita, bagaimana mereka mau mendengarkan kita, sedangkan kita tidak pernah mendengarkan atau mencontohkan kepada mereka? 

Memiliki koneksi yang baik ditandai dengan dia dan kita sangat bebas saling mengekpresikan pikiran dan perasaan satu sama lain, tidak ada ketakutan apakah ini akan diterima atau diintimidasi.

Kapan harus melakukannya? Mari kita mulai mendengarkan sekarang, untuk koneksi kita yang lebih baik.

Penulis: Nur Hayati Syafii, konselor pada Sekolah Rekonsiliasi

Nasdem klaim TGB bergabung
PKB siap sumbang kubu Jokowi 25 juta suara
Ini kritik PDIP terhadap Kubu Jokowi
PKB akui Ma'ruf Amin benteng Jokowi dari tuduhan anti-Islam
Suku Yei Papua sambut “kado Natal” dari prajurit TNI
Penyair Singapura baca puisi di Ruang Baca Rimba Bulan
PDIP dituding rusak atribut Demokrat, Hanura: Jangan tuduh tanpa bukti
PAN sebut yang dukung Jokowi di Sumsel bukan kadernya
Sandi sebut Jateng ingin ganti presiden, Djarot: Upaya menghibur diri
TKN: Iklan kerja kerja kerja Gerindra garing dan tak inovatif
Manajer Repsol Honda: Rossi tak bisa terima masa kejayaannya habis
Rossi bingung mengapa dirinya masih populer
PKH efektif atasi kemiskinan
Rayakan HUT, BRI beri beasiswa puluhan milyar untuk ribuan orang
IHSG diprediksi menguat tunggu putusan The Fed
Fetching news ...