Membajak cinta dengan pengorbanan

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Membajak cinta dengan pengorbanan

Sangat menyedihkan mendengar kisah seorang remaja yang diminta oleh pacarnya untuk memberikan keperawanannya sebagai pembuktian cinta. Di tempat lain, seorang ayah merasa telah memberikan segalanya untuk sang anak, tetapi sang anak yang kini telah dewasa dirasa tak tahu diri: mengapa cinta tak berbuah cinta.

Ada lagi seorang pemuda yang kalut tingkat akut kala sang calon mertua minta pembuktian cinta dan keseriusannya menikah dengan kesanggupan untuk membiayai resepsi pernikahan di gedung yang secara finansial nyaris mustahil. Sementara itu, ada seorang gadis yang mengorbankan waktu dan tenaganya untuk dapat membaca teks Arab klasik demi perasaan diterima karena pria yang dicintai anak seorang pemuka agama.

Pertanyaannya, apakah kalau sudah memberikan sesuatu itu berarti kita cinta? Tentu saja tidak! Pemberian memang secara samar-samar mirip ekspresi cinta. Akan tetapi, kenyataannya, ada ragam motif di balik pemberian yang tak bijak. Selama motif memberi itu tidak untuk memberikan kesempatan tumbuh secara spiritual, sebuah pemberian bukanlah sebuah ekspresi cinta yang tulus. Seseorang bisa memberikan banyak fasilitas kepada orang lain, akan tetapi jika tujuannya adalah supaya mudah dikuasai, ini tentu saja bukan cinta tapi akal-akalan seorang diktator.

Orang tua yang memberikan segala kebutuhan anak sampai anak tersebut bergantung dan tak pernah bisa mandiri adalah bentuk hubungan sadomasokisme sosial—sadomasokisme tak harus melulu berupa relasi seksual. Tak jarang, semakin sengsara memenuhi kebutuhan anak, orang tua merasa tambah baik dalam melaksanakan parenting. Dalam hal ini, orang tua memposisikan diri sebagai seorang masokis. Di lain pihak, orang-orang yang menuntut pengorbanan dari orang lain atas nama cinta adalah rombongan sadis. Pemberian atas nama cinta yang tak tulus ini kemudian menjadi semakin jelas ketika diungkit-ungkit di kemudian hari.

Ketika kita berpikir untuk memberikan sesuatu bagi orang lain, kita memiliki peluang untuk mengabaikan tanggung jawab terhadap diri sendiri. Oleh sebab itu, dalam pemberian sangat rawan ada niat untuk menanam sesuatu yang bakal bisa dipanen kelak. “Kamu harus berterimakasih atas semua yang papa-mama sudah berikan” adalah contoh ungkapan dari orang tua yang diragukan ketulusan cintanya. Siapa pun, termasuk orang tua atau pasangan, yang secara tulus mencintai pasti sangat paham kenikmatan mencintai. Kita memiliki anak karena kita menginginkan kahadirannya, dan jika kita mencintai mereka, itu karena kita memutuskan untuk mencintai.

Jika kita ingin mempunyai anak supaya ada tempat bergantung di hari tua, atau ingin menikah supaya bisa menumpang hidup, setiap pemberian akan dinilai sebagai hutang secara terselubung—terlalu sulit disebut sebagai tindakan cinta.

Di sisi lain, pemberian atas nama cinta juga tidak boleh sampai mengorbankan kedirian. Cinta memang mensyaratkan perubahan diri, tapi perubahan di sini harus bersifat meluas; bukan sebaliknya, yaitu menyempit atau bahkan menghilangkan jati diri. Jika atas nama cinta dituntut menyerahkan harga diri atau menjadi orang lain sesuai yang dikehendaki yang tercinta, kita harus paham bahwa itu adalah penguasaan. Dalam hubungan percintaan yang sehat, baik orang tua-anak maupun suami-istri, masing-masing pihak harus terbuka untuk menerima pengaruh, bukan pada salah satu pihak semata.

Terkadang, sebagai pecinta, kita perlu melakukan tindakan seperti seseorang yang asing sama sekali, misalnya menolak untuk memberi; kadangkala kita pun butuh berjalan nafsi-nafsi. Hal ini barangkali tampak paradoks. Akan tetapi, sekali lagi, ukuran cinta bukan pada kita memberi atau tidak, selalu sejalan atau tidak, tetapi apa niat dan tujuannya.

Kendalikan hama dan penyakit secara alami dengan Tumpang Sari
Kendalikan hama dan penyakit secara alami dengan Tumpang Sari
TKN sebut Ma'ruf Amin akan pakai ayat Alquran di debat ketiga
 Jelang debat ketiga, Ma'ruf Amin dapat masukan dari asosiasi profesi
Kubu Prabowo tepis tudingan politisasi munajat 212
Demokrat minta Jokowi buka dokumen dengan bos Freeport
Ma'ruf Amin bakal ikut dampingi Jokowi
PWJ desak polisi tangkap anggota FPI penganiaya wartawan
Bela Enembe, pendukung aksi tari adat di KPK
AJI kecam tindakan brutal FPI terhadap wartawan
TKN: Pidato Jokowi bukan untuk tandingi Prabowo
Bansos PKH upaya Jokowi kembangkan ekonomi digital
Anak sarapan bernutrisi  memiliki nilai akademis empat kali lebih tinggi
Jokowi akan gelar pidato di Konvensi Rakyat
Kubu Jokowi: Munajat 212 bagian dari politisasi agama
Fetching news ...