Cinta dan kehilangan

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Cinta dan kehilangan "Ketika seseorang ketakutan menghadapi kehilangan, sejatinya dia belum kuat memanggul cinta." - Dhuha Hadiyansyah

Karena merupakan gabungan antara keputusan dan usaha, cinta pastinya memiliki risiko. Ketika tidak siap berhadapan dengan risikonya, tindakan yang orang sebut sebagai “cinta” akan sulit dibuktikan.

Cinta yang akan kita bahas di sini adalah cinta secara umum, terutama cinta kepada pasangan atau anak, yang tujuannya adalah tumbuh kembangnya spiritualitas baik sang pecinta maupun tercinta. Di antara risiko yang bakal dihadapi para pecinta adalah kehilangan.

Ketika memperluas kedirian dengan mencintai, kita akan berubah karena kita memasuki teritorial baru dan berbeda. Kita akan melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak biasa. Sayangnya, semua orang merasa takut melakukan hal-hal baru; yang membedakan dari tiap-tiap orang adalah cara menyikapi rasa takut tersebut. Jangan dikira para pemberani tidak merasakan ketakutan. Mereka lebih memilih berbuat sesuatu daripada dikuasai rasa takut. Orang yang menolak berubah adalah mereka yang takut meninggalkan sesuatu yang sudah menjadi biasa baginya.

Mencintai sangat membutuhkan keberanian karena risiko kehilangan selalu di depan mata. Sadi (43) adalah seorang suami dengan satu anak yang sudah remaja. Dia mengaku ingin memiliki anak lagi karena anak perempuannya itu sudah mulai remaja dan tidak mau diajak main dan dicium-cium laiknya anak kecil. Dengan alasan itu, dia ingin menikah lagi karena sang istri sudah tidak dapat lagi memberikan keturunan.

Di situ kita mencermati bahwa Sadi tidak berani menghadapi kehilangan masa kanak-kanak dari anak perempuannya tersebut. Karena tidak siap menghadapi kehilangan seperti itu, apa yang dirasakan Sadi sulit disebut sebagai cinta, hanya sekadar kateksis. Sang anak hanya diproyeksikan sebagai objek, tidak dilihat sebagai individu yang butuh tumbuh dan berkembang baik secara fisik maupun kejiwaan.

Pemuda yang cemas kehilangan kebiasaan di masa lajang akan takut menikah. Atau, dia melawan ketakutannya dengan menikah, tetapi masih bertindak laiknya bujang: masih gemar nongkrong di saat istri kelimpungan mengurus bayi, malas-malasan bekerja hingga keuangan keluarga morat-marit, begadang nonton TV hingga tidak bisa bangun pagi, dan sederet kebiasaan buruk lainnya. Tipe kedua ini banyak berkeliaran di desa dan di kota. Orang seperti ini tidak ada gelagat untuk mencintai keluarganya.

Mencintai berarti harus siap dengan kehilangan, baik yang ada pada kita atau pada yang dicinta. Terkadang, risiko yang harus dihadapi adalah lenyapnya nyawa sang kekasih.

Kita perlu mengingat betul bahwa intisari dari kehidupan adalah perubahan, pertumbuhan, dan penyelesaian. Apa yang berubah, tumbuh dan selesai berarti ada yang hilang dan berganti.

Pada 23 November 2018, saya menyaksikan dramatari yang disutradari Cok Sawitri berjudul "Sakyawuni Saja (Perlu) Mati". Saya merasa pesan yang disampaikan Cok sangat baik bagi mereka yang tengah atau bakal kehilangan orang yang dicintai. Saya berusaha merekam pesan-pesan yang disampaikan melalui narator dalam bait berikut:

Semua yang di muka bumi akan berubah:
telur menjadi sayap;
dari telur bisa merayap.

Apa yang menginjak bumi pasti selesai:
orang mungkin tengah bangga karena jelita,
tapi waktu akan merampasnya.

Apa yang menginjak bumi pasti mati:
yang kita lihat di atas kuburan tak seharusnya selalu batu nisan, 
tapi bekas-bekas kehidupan.

Berubah berarti menyelesaikan, dan selesai berarti mati:
entah mati karena perjalanan, sakit, atau racun,
dan racun paling mematikan adalah hati manusia.

Yang tampak pada manusia adalah pemakan segala,
termasuk hidup dan lara.
Dunia adalah perayaan duka.

Tanpa kesiapan menghadapai perubahan dan kehilangan, orang yang sudah memutuskan mencintai rawan terluka. Ketika seseorang ketakutan menghadapi kehilangan, sejatinya dia belum kuat memanggul cinta.

TKN sebut Ma'ruf Amin akan pakai ayat Alquran di debat ketiga
 Jelang debat ketiga, Ma'ruf Amin dapat masukan dari asosiasi profesi
Kubu Prabowo tepis tudingan politisasi munajat 212
Demokrat minta Jokowi buka dokumen dengan bos Freeport
Ma'ruf Amin bakal ikut dampingi Jokowi
PWJ desak polisi tangkap anggota FPI penganiaya wartawan
Bela Enembe, pendukung aksi tari adat di KPK
AJI kecam tindakan brutal FPI terhadap wartawan
TKN: Pidato Jokowi bukan untuk tandingi Prabowo
Bansos PKH upaya Jokowi kembangkan ekonomi digital
Anak sarapan bernutrisi  memiliki nilai akademis empat kali lebih tinggi
Jokowi akan gelar pidato di Konvensi Rakyat
Kubu Jokowi: Munajat 212 bagian dari politisasi agama
Fadli Zon: Jokowi berdebat seperti manajer
Kubu Jokowi: Tim debat Ma'ruf Amin sudah disiapkan
Fetching news ...