Cinta dan kemandirian

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Cinta dan kemandirian "Orang yang tidak mandiri akan sulit untuk berkomitmen, padahal tidak ada cinta tanpa komitmen." - Dhuha Hadiyansyah

Bagi banyak orang menjadi mandiri adalah risiko yang tak perlu diambil, termasuk mereka yang mengaku mencintai. Mereka merasa nyaman dengan relasi kebergantungan, yang hakikatnya justru menghambat pertumbuhan seseorang untuk menjadi mandiri, dewasa, kokoh secara psikologis, dan unik secara individual.

Atas nama cinta, misalnya, seorang perempuan menikahi lelaki karena keinginan terdalamnya adalah supaya ada tempat bergantung. Sementara itu, seorang lelaki menikahi banyak perempuan, yang dari luar melakukan pencitraan sebagai seorang pecinta, padahal dia sekadar unjuk diri sebagai pejantan tangguh—ini merupakan bentuk ketergantungan juga, yaitu menggantungkan kejantanan pada objek di luar diri.

Hal yang sama juga dapat terjadi pada orang tua yang mengaku teramat mencintai anaknya. Mereka memperlakukan anak bak pangeran dan putri yang harus dilayani setiap rinci kebutuhannya: usia 10 tahun masih disuapi, usia 12 masih dimandikan, sudah janda dua kali masih saja dijodohkan.

Tidak dapat dikatakan sedikit, orang tua yang merasa mencintai sang anak, tetapi pola asuhnya sama sekali tidak mengarah kepada persiapan untuk kemandirian sang anak. Orang tua seperti ini merasa nyaman anaknya bergantung dan selamanya menjadi kanak-kanak yang keinginan, pikiran dan keputasan-keputusannya dalam hidup mereka kendalikan.

Proses menjadi mandiri biasanya terjadi setapak demi setapak dan setiap orang tidak sama tetapi juga tidak bisa berbeda terlalu jauh. Terkadang orang mengalami lompatan-lompatan yang mengejutkan menjelang di usia dewasa, atau bahkan di sebarang usia. Di tempat berbeda, ada orang yang tidak mengalami lompatan hidup sama sekali, atau bahkan tidak tumbuh kecuali usianya. Sejumlah orang bahkan tidak pernah berani mengambil keputusan dalam hidup bagi dirinya sendiri, menunjukkan bahwa kemandiriannya begitu dangkal.

Kemandirian adalah salah satu manifestasi terjelas dari cinta. Sebaliknya, seseorang yang tidak mandiri menjadi tanda keras dia akan kesulitan mencintai. Oleh sebab itu, jika ingin menikah, pastikan diri sudah mandiri karena bakal ada dua cinta yang bakal menyertainya, yaitu cinta kepada pasangan dan anak, selain cinta kepada diri sendiri. Di sisi lain, jangan pernah menikahi orang yang tak mandiri.

Orang yang tidak mandiri akan sulit untuk berkomitmen, padahal tidak ada cinta tanpa komitmen. Pertama adalah komitmen terhadap diri sendiri, yaitu menghargai diri sendiri lewat komitmen untuk tumbuh melalui proses disiplin. Orang yang kehendak dan pikirannya dikendalikan atau diarahkan untuk kepentingan orang lain akan kesulitan melakukan hal tersebut. “Mengapa saya harus melakukan ini-itu yang rumit untuk kepentingan orang lain?” Setiap kita memiliki insting alamiah untuk memenuhi kebutuhan sendiri terlebih dulu.  

Kedua adalah komitmen terhadap orang lain. Namun, komitmen terhadap orang lain sangat terkait dengan komitmen terhadap diri sendiri. Untuk melihat sejauh mana komitmen seseorang terhadap orang lain dapat dilihat dari bagaimana dia diperlakukan oleh orang tuanya. Satu sumber cinta terbesar adalah dari orang tua kita. Anak-anak yang kering dengan cinta orang tua akan merasa diri kurang berharga. Siapa pun itu tidak akan mau berkomitmen dengan sesuatu yang di matanya murahan. Dengan kata lain, anak ini akan sulit mencintai dirinya; jika mencintai diri sendiri tak bisa, dari mana dia akan berbagi cinta?

TKN sebut Ma'ruf Amin akan pakai ayat Alquran di debat ketiga
 Jelang debat ketiga, Ma'ruf Amin dapat masukan dari asosiasi profesi
Kubu Prabowo tepis tudingan politisasi munajat 212
Demokrat minta Jokowi buka dokumen dengan bos Freeport
Ma'ruf Amin bakal ikut dampingi Jokowi
PWJ desak polisi tangkap anggota FPI penganiaya wartawan
Bela Enembe, pendukung aksi tari adat di KPK
AJI kecam tindakan brutal FPI terhadap wartawan
TKN: Pidato Jokowi bukan untuk tandingi Prabowo
Bansos PKH upaya Jokowi kembangkan ekonomi digital
Anak sarapan bernutrisi  memiliki nilai akademis empat kali lebih tinggi
Jokowi akan gelar pidato di Konvensi Rakyat
Kubu Jokowi: Munajat 212 bagian dari politisasi agama
Fadli Zon: Jokowi berdebat seperti manajer
Kubu Jokowi: Tim debat Ma'ruf Amin sudah disiapkan
Fetching news ...