Mendisiplinkan cinta

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Mendisiplinkan cinta "Cinta yang murni pastinya berasal dari kehendak, ketimbang sekadar luapan emosional. "

Sebagian orang menganggap bahwa cinta adalah perasaan. Akan tetapi, saya lebih sepakat dengan pandangan bahwa cinta adalah usaha, sebuah tindakan yang lahir dari keputusan sadar.

Tidak sedikit orang yang mengaku telah merasakan mekarnya bunga-bunga cinta, namun tindakannya justru merusak. Oleh karena itu, cinta yang murni pastinya berasal dari kehendak, ketimbang sekadar luapan emosional. Saya mencintai seseorang karena saya telah memutuskan untuk mencintainya, bukan karena perasaan saya yang cengeng dan butuh perhatian.

Dalam psikologi Islam, perasaan yang tidak baik harus dilenyapkan, berikut efek sampingnya. Misalnya, marah adalah perasaan yang efek sampingnya adalah dendam, iri dan dengki. Orang mungkin tampak tidak marah, tetapi jika memendam dengki, artinya dia belum selesai dengan perasaan yang pertama tadi. Dalam agama Islam, perasaan negatif seperti marah hanya boleh diluapkan jika ada Hak Allah yang dilanggar.

Sementara itu, dalam psikologi Barat, perasaan apa pun justru mesti diungkapkan, dan yang perlu diatur adalah cara mengekspresikanya atau tindakan dari perasaan tersebut. Hal ini karena mereka meyakini bahwa cara satu-satunya cara untuk menghilangkan perasaan negatif adalah dengan membuangnya melalui pengungkapan. Jadi, baik dalam pandangan Islam atau Barat, perasaan yang buruk harus dilenyapkan—hanya mereka berbeda dalam cara menghilangkan perasaan negatif tersebut.

Saya suka dengan metafora yang dibuat Morgan Scott Peck (1978;156), bahwa perasaan itu seperti budak. Maksudnya, perasaan adalah sumber energi yang akan membantu kita menyelesaikan tugas-tugas kehidupan. Karena sudah membantu, kita mesti memperlakukan "budak" tersebut dengan baik. Jika sang tuan tidak mendisiplinkan budaknya, dia akan bekerja sembarangan, tanpa koordinasi dan arahan; jika tidak ada aturan, bakal tidak jelas siapa budak dan mana majikan. Akibatnya, budak ini akan mengacaukan struktur: bisa jadi sang majikan justru diperbudak oleh budaknya sendiri. Mari kita cermati di sekitar kita, adakah orang yang dikendalikan perasaan, yang kemudian berakhir dengan kekacauan dalam hidup?

Apabila cinta sekadar perasaan, tentu itu bukanlah cinta yang murni—sebagaimana saya pernah bahas tentang jatuh cinta. Pepatah lama kita hapal, "Tong kosong nyaring bunyinya; air beriak tanda tak dalam". Cinta romantis nan mendayu-dayu bak di film India biasanya justru cinta yang dangkal sama sekali. Perasaan yang tanpa kendali tak pernah terbukti lebih dalam daripada perasaan yang didisiplinkan.

Orang yang gagap dalam mengelola perasaan akan merusak kepribadiannya, yang paling sering adalah menimbulkan psikosis dan neurosis. Psikosis adalah kondisi abnormal yang penderitanya sulit membedakan antara yang nyata dan tidak. Sementara itu, neurosis adalah gangguan mental yang melibatkan pikiran-pikiran obsesif atau kecemasan. Jika cinta sebatas perasaan, justru lebih perlu pendisiplinan karena sudah banyak terbukti bahwa gara-gara perasaan ini orang dapat mengalami gangguan jiwa berat, sedangkan yang mengalami gangguan mental sedang atau ringan tidak terhitung.

Disiplin, yang merupakan piranti dasar dalam memecahkan setiap masalah, memiliki sejumlah komponen dasar: menunda kesenangan, tanggungjawab, sadar realitas, dan keseimbangan. Jika ada yang mengaku mencintai tetapi tanpa empat komponen dasar tersebut, itu bukan cinta hasil dari keputusan yang dewasa, tetapi sekadar dorongan libido. Cinta tanpa disiplin akan berakhir persis sama seperti pekerjaan tanpa kedisiplinan.

Disiplin menjadi tanda paling tegas bahwa seseorang mencintai dan menghargai dirinya sendiri. Jika eksistensi dirinya saja tidak dicintai dan dihargai, bagaimana orang seperti ini mampu berbagi cinta untuk diri yang lain. Orang yang sulit atau bahkan tidak bisa disiplin adalah karena dia tidak merasa dirinya bernilai; karena tidak bernilai, dia tidak mungkin mencintai dirinya, oleh karena itu dia tak merasa perlu mendisiplinkan diri. Disiplin dan cinta adalah satu paket, tak bisa dilepaskan.

Jangan pernah menjatuhkan pilihan pada orang-orang yang tidak bisa disiplin, untuk posisi apa pun, terutama untuk pasangan yang Anda andaikan bakal sehidup-semati. Perjalanan cinta Anda tidak akan ke mana-mana kecuali berujung kelamkabut: ekonomi Anda semrawut, perasaan Anda kalut, komunikasi Anda mampat, karir terhambat, hidup redup, yang mengakibatkan satu-satunya harapan hidup Anda adalah mitos.

Kelangkaan gas Elpiji karena praktek pengoplosan
Fadli Zon nilai menteri ikut kampanye munculkan konflik kepentingan
IHSG anjlok mengikuti pelemahan saham global
Fadli Zon: Jokowi halusinasi
Kemunculan bendera Golkar di kampanye Prabowo adalah masalah pidana
Rizal Ramli sebut Prabowo-Sandi mampu tingkatkan daya beli masyarakat
TKN klaim hubungan luar negeri sebagai keunggulan pemerintahan Jokowi
Jangan lakukan ini sebelum bercinta dengan pasangan
Fahri Hamzah curiga tarif MRT akan mahal
Jerman nilai Rusia dibutuhkan dalam penyelesaian konflik Suriah
Fahri: Curhatan Jokowi persempit dukungan masyarakat
Mahathir Mohamad: Israel seperti perampok
IHSG akan terkoreksi wajar hari ini
Krakatau Steel siap kooperatif dengan KPK
Pemburuan liar semakin marak, Walhi desak pemerintah segera selamatkan Orang Utan
Fetching news ...