Kepulauan Anambas potensial untuk budidaya mutiara

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Kepulauan Anambas potensial untuk budidaya mutiara “Life is like a precious pearl.” ― Lailah Gifty Akita

Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau, memiliki potensi besar di bidang budidaya mutiara. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan tim peneliti Sekolah Tinggi Perikanan (STP), salah satu lembaga pendidikan tinggi pada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Hasil penelitian tersebut disampaikan pada seminar Black Lip Pearl Oyster Potential and Golden/Silver Lip Pearl Oyster Culture in Anambas Islands, Kamis (30/11/17), di Kampus STP Jakarta.

Ketua STP Mochammad Heri Edy mengatakan, penelitian di bidang marikultur, termasuk budidaya mutiara, saat ini masih sangat sedikit di Indonesia, dan belum ada di perairan Anambas, padahal potensinya yang sangat besar. Oleh karena itu, STP bekerja sama dengan Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (ASBUMI) mencoba untuk mengembangkan budiaya mutiara atas permintaan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas. Dalam hal ini STP menggandeng mitra penelitiannya, yakni United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) dan University of Tasmania (UTAS), dalam meneliti spesies lokal yang dapat dijadikan kandidat untuk pengembangan budidaya mutiara.

“Mari kita bersama-sama dalam memanfaatkan potensi ini. Kita rekatkan para peneliti di bidang ini. Kita kerja sama dengan berbagai pihak. Dengan Anambas sudah bekerja sama sejak tahun 2012. Juga dengan ASBUMI, UNIDO, dan UTAS. Pada seminar ini, kita undang juga dari DJPB (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP) dan peneliti dari BRSDM (Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan KKP). Dengan riset, kita sudah satu atap di bawah BRSDM,” ujarnya.

Heri juga menyampaikan, “Produksi mutiara di dunia, pemainnya tidak banyak. Indonesia masih menjadi yang nomor satu. Tapi sayangnya pasar masih dikuasai oleh Jepang. Kami melihat masih banyak peluang Indonesia untuk mengembangkannya, sehingga penelitian di bidang budidaya mutiara sangat penting dilakukan. Anambas kita jadikan sebagai pilot project-nya.”

Melalui seminar ini, ia berharap dapat berbagi hasil penelitian, permasalahan di bidang budidaya mutiara beserta solusinya, kerja sama, rencana pengembangan ke depan, dan sebagainya.

Terkait hasil penelitian, dosen STP Dr. Mochammad Nurhudah menyampaikan, perairan Anambas sangat potensial untuk dikembangkan budidaya mutiara, khususnya spesies pinctada margaritifera atau black lip pearl oyster (tiram mutiara bibir hitam) dan golden/silver lip pearl oyster (tiram mutiara bibir emas/perak). Dalam penelitian ini, STP melahirkan inovasi di bidang budidaya mutiara dengan metode yang menggunakan manggar kelapa.

Ia menambahkan, penelitian dilakukan di kedalaman yang berbeda, yaitu 2 meter, 3, meter, 4 meter, dan 5 meter. Hasil yang terbaik adalah pada kedalaman 3 meter, dan yang paling tidak baik pada kedalaman 5 meter.

Rencana penelitian ke depan, lanjut Nurhudah, adalah mengidentifikasi lokasi lain di perairan Anambas untuk ekspansi budidaya mutiara serta mengidentifikasi potensi mutiara spesies pinctada lainnya selain pinctada margaritifera.

Senada dengannya, Direktur Utama Morotai Marine Culture Sutrisno Sukendi yang juga tergabung dalam ASBUMI mengatakan, perairan Anambas sangat potensial untuk dikembangkan budidaya mutiara karena rendah polusi, banyaknya area laut yang cocok, dan kondisi laut yang relatif terlindung oleh ombak besar. Terlebih lagi pada saat ini, teknik dan hasil hatchery telah berkembang jauh serta bibit tiram mutiara relatif mudah didapat.

Penghasil mutiara terbesar

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Asbumi Nelia Suhaimi mengatakan, Indonesia merupakan penghasil mutiara terbesar dengan kualitas terbaik. Sebesar 70% hasil produksinya digunakan oleh Jepang.

“Tapi sayangnya mutiara-mutiara tersebut tertulis made in Japan. Karena itu Indonesia harus mandiri, bukan hanya bisa memproduksi tapi juga harus bisa mengolahnya lebih lanjut,” ujar Nelia menggugah semangat para peserta seminar.

Hadir narasumber lainnya pada seminar ini antara lain Peneliti BRSDM Prof. Ketut Sugama, Kepala Bagian (Kabag) Program DJPB Andy Artha Donny Oktopura, Kabag Budidaya Dinas Perikanan, Pertanian dan Pangan Kab. Kep. Anambas Defrian, serta dosen STP Mulyanto dan Ilham Alimin.

Ketua Panitia Mugi Mulyono berharap, kegiatan ini diharapkan dapat menciptakan inovasi serta memenuhi tuntutan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan pengamalan tridarma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

“Semoga seminar ini menghasilkan manfaat yang besar, sehingga mampu mewujudkan atmosfer riset yang baik dan budaya riset yang kokoh, berkelanjutan dan berkualitas sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi kelautan dan perikanan secara umum, dan khusus tentang marikultur dan budidaya mutiara di Indonesia,” tambahnya.

Pemerintah kenakan pajak barang tak berwujud tahun depan
Harapan Sri Sultan HB X ke advokat
Pinisi yang jadi warisan Unesco
Dana parpol di DKI rawan timbulkan kecemburuan
Kerjasama industri tingkatkan daya saing SMK
Fetching news ...