Waspada jatuhnya stasiun luar angkasa Cina

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Waspada jatuhnya stasiun luar angkasa Cina Tiangong-1

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengatakan jatuhnya stasiun luar angkasa milik Cina bernama Tiangong-1 tidak dapat dicegah, hanya perlu diwaspadai potensi bahayanya.

"Tidak bisa dicegah. Yang bisa dilakukan hanya memantau dan mengantisipasi potensi bahayanya," kata Thomas di Jakarta, seperti diwartakan kemarin.

Ia menegaskan kemungkinan untuk jatuh ke pemukiman sangat kecil. "Jadi jangan berandai-andai yang berpotensi meresahkan," kata Thomas.

Terkait sisa bahan bakar Tiangong-1 yang masih tersisa, ia mengatakan bahan bakar roket kendali dari stasiun atau pesawat luar angkasa memang berisi Hydrazine dan biasanya tersimpan pada tabung yang sangat kuat.

Thomas menyebutkan kemungkinan tabung tersebut tidak habis terbakar saat jatuh memasuki atmosfer bumi.

"Hydrazine memang sangat beracun, jadi itu salah satu objek yang harus diwaspadai kalau masih tersisa di tabungnya saat jatuh," lanjut Thomas.

Ia mengatakan pihaknya terus memantau jatuhnya stasiun luar angkasa Cina Tiangong-1 yang diprediksi badan keantariksaan berbagai negara akan mencapai bumi dalam hitungan beberapa minggu ke depan.

Meski demikian, Thomas mengatakan ketidakpastian waktu dan lokasi serpihan stasiun luar angkasa berbobot 8,5 ton tersebut menghantam bumi masih besar. Karenanya hingga kini LAPAN belum memberikan penjelasan kepada publik.

Ia menambahkan kejatuhan objek antariksa sudah beberapa kali terjadi sehingga tidak perlu dikhawatirkan.

Akan tetapi, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika itu mengatakan probabilitas jatuhnya wahana antariksa milik Cina yang sudah lepas kendali sejak 2016 ke pemukiman sangat kecil. Namun demikian, masyarakat tetap perlu memiliki kewaspadaan.

Menurut dia, semua negara antara lintang 43 derajat utara sampai lintang 43 selatan berpotensi terkena serpihan Tiangong-1, termasuk Indonesia. Namun karena wilayah yang tidak berpenghuni seperti lautan, hutan dan gurun jauh lebih luas dari wilayah pemukiman maka dirinya menegaskan probabilitas jatuh di wilayah pemukiman sangat kecil.

Thomas memastikan LAPAN terus memantau Tiangong-1 yang diprediksi badan keantariksaan berbagai negara akan mencapai bumi dalam hitungan beberapa minggu ke depan.

Ia mengatakan ketidakpastian waktu dan lokasi serpihan stasiun luar angkasa berbobot 8,5 ton tersebut menghantam bumi masih besar. Karenanya hingga saat ini LAPAN belum memberikan penjelasan kepada publik.

Tiangong-1

Wahana luar angkasa Tiangong-1 yang juga dikenal dengan sebutan Heavenly Palace 1 merupakan prototipe stasiun luar angkasa pertama yang dimiliki Cina dan diluncurkan pada 29 September 2011 bersamaan dengan roket Long March 2F/G.

Stasiun luar angkasa ini berfungsi baik sebagai laboratorium berawak dan "testbed" eksperimental untuk menunjukkan kemampuan pertemuan dan dasi orbital.

Pada November 2011, Tiangong-1 dikunjungi oleh serangkaian pesawat luar angkasa Shenzhou selama masa operasinya dua tahun. Yang pertama, Shenzhou 8 yang tidak berawak, berhasil berlabuh dengan modul ini pada bulan November 2011.

Sementara itu, misi Shenzhou 9 yang berawak berlabuh pada Juni 2012. Misi ketiga dan terakhir ke Tiangong-1 yakni pesawat dengan awak Shenzhou 10, berlabuh pada Juni 2013 dan berhasil mendaratkan astronot wanita Cina pertama, Liu Yang dan Wang Yaping di Tiangong-1.

Pada 21 Maret 2016, setelah masa pakainya diperpanjang dua tahun, Space Engineering Office mengumumkan bahwa Tiangong-1 telah secara resmi mengakhiri pengabdiannya. Mereka menyatakan bahwa hubungan telemetri dengan Tiangong-1 telah hilang.

Beberapa bulan kemudian, pelacak satelit amatir mengetahui bahwa badan antariksa Cina telah kehilangan kendali atas Tiangong-1. Pada September 2016, setelah mengakui bahwa mereka telah kehilangan kendali atas stasiun tersebut, para pejabat berspekulasi bahwa stasiun luar angkasa tersebut akan masuk kembali dan terbakar di atmosfer bumi pada akhir tahun 2017.

Sampai akhir November 2017, Tiangong-1 terpantau di ketinggian sekitar 290 kilometer dan mengarah ke Bumi dengan kecepatan sekitar 10 kilometer perbulan.

Para ilmuwan keantariksaan dari berbagai negara memperkirakan stasiun luar angkasa ini akan deorbit beberapa waktu di bulan April 2018.

Namun pada Januari 2018, NBC melaporkan bahwa Tiangong-1 akan menempuh jarak 16.000 mil perjam (26.000 kilometer perjam) dan berada 180 mil (290 kilometer) di atas Bumi.

Divonis mati, Aman pikir-pikir
Argentina di ujung tanduk dan permainan buruk Messi
Utang tembus Rp5.028 triliun, BI klaim masih sehat
Putin girang Rusia melaju ke babak knock out
Ahli nilai persepsi masyarakat terhadap rokok elektrik keliru
Risma ingatkan halalbihalal agar tak dijadikan alasan tunda pelayanan
Megawati: Bung Karno ditempatkan dalam sudut gelap sejarah
10 hal dalam RKUHP yang berpotensi lemahkan KPK
Menang di laga kedua, peluang Spanyol dan Portugal masih  bisa digagalkan Iran
Ketika negara hadir bantu korban kebakaran di suasana idul fitri
Kukuhkan dominasi di luar angkasa, Trump perintahkan bentuk pasukan antariksa
Tahun berganti dan masih punya hutang puasa Ramadhan, apa yang harus dilakukan?
Terus bertambah, korban KM Sinar Bangun hampir 200 orang
Dukun bayi Yamini baru terhenti setelah 25 tahun praktik aborsi
Berebut titipan SBY antara Gerindra dan Demokrat
Fetching news ...