Agama untuk mengayomi umat manusia, terlepas apa yang dipeluk

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Agama untuk mengayomi umat manusia, terlepas apa yang dipeluk

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bertemu dengan warga Negara Indonesia yang berada di Jepang. Pertemuan bertajuk silaturahim ini difasilitasi oleh Kedubes RI di Tokyo, Jepang.

Di hadapan diaspora Indonesia di Jepang, Menag bicara soal moderasi Islam. Menurutnya, Kementerian Agama saat ini tengah mengkampanyekan Islam moderat yang rahmatan lil alamin (kasih bagi semesta). 

“Kami terus menyiarkan moderasi Islam, tentang bagaimana Islam didekati dari sisi terdalam, tidak semata sisi luar,” ujarnya, Senin (13/11) dikutip dari laman Kemenag.

Menurutnya, agama bisa dilihat dari dua sisi: luar dan dalam. Pada sisi luar agama, terdapat banyak keragaman, baik mazhab, paham, maupun aliran. Sementara sisi dalam agama berupa substansi yang bersifat universal dan menjadi titik temu agama-agama. Substansi itu misalnya berupa nilai kejujuran, keadilan, kesamaan hak, larangan mencuri, larangan membunuh, dan lain-lain.

“Dalam kemajuan teknologi informasi di mana hubungan antar negara, budaya, dan peradaban semakin tidak terbatas, seharusnya agama lebih dilihat pada sisi dalamnya agar ditemukan banyak kesamaan dalam keragaman,” tuturnya.

Menag menegaskan bahwa dirinya adalah menteri semua agama yang bertugas mengurus semua agama. Jadi bukan hanya Islam, meskipun mayoritas dipeluk penduduk Indonesia.

“Agama hadir untuk mengayomi semua umat manusia, terlepas apa yang dipeluk. Tugas pemeluk agama adalah menebarkan kedamaian. Soal hidayah itu urusan Tuhan. Semua orang dituntut menebarkan kebajikan,” terang Menag.

Kesempatan bertemu Menag dimanfaatkan WNI di Jepang untuk berdialog.  Muhammad Huda misalnya, mengungkapkan bahwa jumlah masyarakat muslim di Jepang mencapai 40ribu. 

"Lantas, apakah ada program dari Kemenag membina masyarakat Muslim di luar negeri?" tanya Huda yang juga aktifis Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang.

Menag mengaku belum mempunyai program khusus untuk layanan pembinaan keagamaan bagi masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri. Namun demikian, Menag membuka peluang untuk menjalin kerjasama di masa mendatang.

Dalam bebera kesempatan sebelumnya, Lukman mengajak sarjana Muslim Indonesia untuk lebih lantang menyuarakan moderasi Islam. Bagi Menag, moderasi menjadi kunci yang paling relevan dengan konteks keIndonesiaan yang majemuk.

Menag menyoroti mayoritas kaum moderat yang masih lebih banyak diam. Menurutnya, suara yang lebih lantang dari para sarjana Muslim sangat diperlukan dalam mewujudkan Indonesia yang moderat dalam realitas keragaman.

Menag mengakui bahwa orang-orang yang arif dan berwawasan luas memang cenderung tidak mudah kaget dalam menghadapi perbedaan, bahkan se-ekstrem apa pun. Mereka umumnya memiliki kemampuan untuk memahami dan memaklumi perbedaan yang ada, meski sikap itupun bukan berarti menerimanya.

Kalau saat ini tidak mulai lantang menyuarakan moderasi Islam, kata Menag, tidak ada yang bisa menjamin pada tahun-tahun yang akan datang, bagaimana warna keberagamaan dan keberislaman di Indonesia.

Menag dijadwalkan akan berada di Jepang hingga Rabu (15/11). Selain ke Keoi University Jepang, Menag juga dijadwalkan berkunjung ke Chuo University untuk berdiskusi dengan Prof  Hisanori Kato tentang Kehidupan Beragama di Jepang. 

Ikut mendampingi Menag, Kepala Balitbang-Diklat Abd Rahman Mas’ud dan Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Muharram Marzuki.

Upaya meminimalisir korban dampak bencana
Kasus Novanto sengaja diramaikan untuk kepentingan Pilpres 2019?
Nikmati ubi jalar dalam bentuk es krim
Pesan Jokowi kepada Setya Novanto
Ribuan Tagana disiagakan hadapi cuaca ekstrem
Fetching news ...