Siklon Cempaka dan Dahlia yang menyerang Pulau Jawa adalah fenomena baru

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Siklon Cempaka dan Dahlia yang menyerang Pulau Jawa adalah fenomena baru

Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, mengatakan, siklon tropis Cempaka dan Dahlia yang melanda sebagian wilayah Jawa belum lama ini merupakan fenomena alam baru di Tanah Air.

"Memang yang namanya Siklon Cempaka dan Dahlia itu sesuatu yang baru yang terkonfirmasi kepada kita semua," kata dia, usai mengunjungi lokasi pengungsi banjir dan tanah longsor di Balai Desa Kebonagung Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu.

Ini harus menjadi bagian dari pembelajaran dan pengalaman bahwa wilayah Indonesia memungkinkan hal baru terkait alam sehingga harus menyiapkan berbagai langkah-langkah antisipasif dan mitigasi yang detail.

Dia menjelaskan, seperti yang diinformasikan kepada semua pihak, hujan intensitas tinggi dengan kekuatan angin pada saat bersamaan sehingga timbul banjir bandang dan longsor terutama di wilayah Yogyakarta dan Pacitan itu teridentifiasi karena siklon tropis Cempaka.

"Nah itu bagian dari kemajuan teknologi informasi kita yang sudah bisa mendeteksi ada siklon tropis Cempaka dan siklon Dahlia, kemudian juga melakukan mitigasi bagaimana meningkatkan kewaspadaan dan pemahaman kepada masyarakat," katanya.

Dia mengatakan, perlu pemahaman kepada masyarakat bahwa Siklon Cempaka dan Siklon Dahlia sebetulnya bisa menimbulkan intensitas hujan sangat tinggi yang diikuti angin kencang.

"Nah sosialisasi terhadap kewaspadaan dan kesiapsiagaan ini harus dilakukan oleh seluruh lini, terutama adalah sampainya informasi ini kepada masyarakat dan aparat desa," katanya.

Mensos juga mengatakan, dari seluruh kabupaten/kota di Indonesia terdapat 323 kabupaten/kota yang berisiko tinggi terhadap kemungkinan terjadi bencana alam, apa pun itu yang menjadi penyebabnya.

"Katakan tanggul jebol, kenapa intensitas hujan tinggi, kemudian luapan air yang kemudian daya tampungnya melebihi kapasitas," kata dia.

Pada kesempatan itu, dia menyalurkan bantuan kepada korban banjir dan tanah longsor akibat Siklon Tropis Cempaka di wilayah DIY yang dipusatkan di Balai Desa Kebonagung dengan total sebesar Rp1,8 miliar.

"Jadi ada santunan kematian bagi korban meninggal yang tadi disampaikan sebesar Rp15 juta per ahli waris. Kemudian bantuan bagi korban luka ringan sampai berat maksimal sebesar Rp5 juta," kata dia.

Nama Cempaka dan Dahlia

Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa penyebutan nama “Cempaka” dan “Dahlia” untuk siklon atau wilayah atmosfer bertekanan rendah yang bercirikan pusaran angin, mempunyai alasan tersendiri. Ia mengatakan bahwa siklon di Indonesia memang memilih nama-nama bunga untuk penyebutannya supaya tidak menimbulkan kepanikan dalam penyebutannya.

“Dalam komunikasi publik, pemberian nama itu juga harus tidak menimbulkan kepanikan,” ujar Dwikorita saat dihubungi Tempo pada Jumat, 1 Desember 2017.

Selain itu, kata Dwikorita, nama-nama bunga diambil untuk mewakili keunikan dari Indonesia. Dia mengatakan dulunya Indonesia pernah memakai nama “Durga”, namun mendapat protes dari Pemerintahan India. “Ternyata diprotes, karena nama Durga bukan hanya Indonesia yang memakai, makanya kami putuskan nama bunga,” kata dia.

Dwikorita mengatakan, daftar nama siklon untuk Indonesia telah didaftarkan ke World Meteorological Organization (WMO). BMKG Indonesia memberi daftar nama berurut sesuai abjad mulai dari A sampai Z yang kemudian diterima dan disetujui oleh WMO.

Nama-nama itu kemudian akan dikeluarkan jika suatu siklon sudah terbentuk di teritorial Indonesia. “Kalau satu siklon tropis telah terbentuk, barulah kita beri nama sesuai dengan yang kita daftarkan,” kata Dwikorita.

BMKG baru dipercaya oleh WMO untuk memantau dan memberikan peringatan dini terjadinya siklon untuk region pasifik pada tahun 2008. Sebelumnya, kata Dwikorita, peringatan tersebut didapat dari Jepang atau Australia. “Setelah dianggap mampu, baru kita sendiri yang memantau dan mengeluarkan peringatan dini,” ujarnya.

Siklon tropis Cempaka baru-baru ini telah berdampak terhadap kondisi cuaca di Indonesia. Siklon tersebut juga yang diduga menjadi penyebab banjir di wilayah Yogyakarta dan Pacitan.

Berdasarkan hasil analisis BMKG, curah hujan di Yogyakarta pada 28 November 2017 mencapai 286 mm/hari dan di wilayah Pacitan pada 27 November mencapai 383 mm/hari. Curah hujan yang terjadi tersebut merupakan curah hujan kategori ekstrem yakni diatas 150 mm/hari.

Pada 29 November 2017, siklon tropis Dahlia kemudian lahir pada posisi 8.2 Lintang Selatan dan 100.8 Bujur Timur atau sekitar 470 kilometer sebelah selatan Bengkulu dengan pergerakkan ke arah tenggara menjauhi wilayah Indonesia.

Lahirnya siklon tropis Dahlia akan berdampak pada peningkatan hujan lebat, tinggi gelombang, angin kencang, maupun potensi kilat atau petir di beberapa wilayah di Indonesia. Di perkirakan akan terjadi hujan sedang hingga lebat di pesisir Barat Bengkulu hingga Lampung, Banten, dan Jawa Barat bagian Selatan. Selain itu, angin kencang di atas 20 knots atau 36 kilometer perjam akan melanda pesisir barat Sumatera Barat hingga Lampung, Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Pemerintah kenakan pajak barang tak berwujud tahun depan
Harapan Sri Sultan HB X ke advokat
Pinisi yang jadi warisan Unesco
Dana parpol di DKI rawan timbulkan kecemburuan
Kerjasama industri tingkatkan daya saing SMK
Fetching news ...