Desakan sertifikasi dai usai penceramah di TV gagap tulis dan baca Alquran

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Desakan sertifikasi dai usai penceramah di TV gagap tulis dan baca Alquran

Jagat maya digegerkan dengan dua tangkapan layar (screenshot) tulisan Arab seorang ustazah yang mengisi suatu acara pengajian di salah satu televisi swasta.

Bukan isinya yang menyimpang atau materi yang disampaikannya provokatif, tapi kesalahan fatal yang dilakukan oleh ustazah pengisi acara itu.

Sampai berita ini diturunkan, cukup banyak ulasan dari para ulama, ustaz, santri, dosen, juga kaum terpelajar Islam, yang masih mengupas kesalahan si ustazah itu.

Meskipun pihak televisi dan ustazah tersebut telah menyampaikan permintaan maaf, namun tetap saja banjir komentar di media sosial.

Dari begitu banyak komentar yang beredar di media sosial, rata-rata menyayangkan kesalahan fatal yang dilakukan oleh si ustazah, apalagi itu dilakukan di suatu acara keislaman yang disiarkan oleh televisi swasta nasional yang baru saja mendapat penghargaan dari Kementerian Agama.

Hal inilah yang disayangkan oleh Ketua Umum Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia (ADDAI) Dr. Moch. Syarif Hidayatullah. Ditemui di ruang kerjanya, dosen UIN Syarif Hidayatullah ini menyampaikan pendapatnya seputar topik yang sedang ramai di media sosial ini.

"Bila melihat tangkapan layar yang beredar di media sosial, memang cukup banyak kesalahannya. Apalagi yang ditulis adalah teks Alquran. Dari kutipan pada surah al-Ankabut 45 dan surah al-Ahzab 21, kesalahannya hampir 70%. Bahkan, menuliskan kata salat dalam bahasa Arab saja juga masih salah," jelas Syarif, Rabu (06/12/2017).

Syarif menuturkan bahwa ia kebetulan juga sempat menyaksikan video ceramah ustazah tersebut di situs milik televisi terkait. Sayangnya, video itu kini sepertinya sudah dihapus. Menurut Syarif, dari cara ustazah tersebut membaca ayat, tampak sekali kelemahan dalam tajwid dan pelafalan ayat.

"Di situ saya menjadi ragu bila pihak televisi di siaran pers yang beredar mengklaim bahwa ustazah dalam tayangan tersebut adalah seorang yang berkompeten dalam bidangnya. Saya jadi ingin bertanya, bagaimana kriteria penentuan kelayakan seorang dai tampil di stasiun televisi tersebut? Ukuran kompetensinya apa dan cara mengukurnya seperti apa?" jelasnya.

Menurut Syarif, harusnya pihak televisi sudah saatnya mengubah orientasinya. "Mungkin kalau dulu, dai-dai yang lucu-lucu itu disukai masyarakat. Tapi, masyarakat sudah berubah. Kemunculan ustaz-ustaz muda di Youtube dan media sosial belakangan ini yang lebih 'berisi materi dakwahnya' menjadi bukti pergeseran kecenderungan masyarakat dalam mendengarkan materi dakwahnya," terang pria kelahiran Pasuruan ini.

Lebih lanjut, Syarif menyampaikan bahwa masyarakat juga semakin kritis, apalagi kemampuan mengakses literatur keislaman juga semakin mudah. Banyaknya para penghafal Alquran dan pengkaji ilmu-ilmu keislaman, membuat masyarakat jadi lebih memilih dan memilah siapa ustaz atau ustazah yang mau didengar ceramahnya.

"Pihak televisi tak bisa lagi asal comot dai atau ustaz. Tidak bisa lagi asal lucu, asal ganteng, asal cantik, asal artis. Bila wawasan agamanya tidak memadai, pasti akan ditinggalkan oleh masyarakat. Alternatif belajar agama sudah banyak," tegas penulis produktif ini.

Menurut Syarif, televisi sekarang tidak bisa main-main lagi. Televisi sudah dalam posisi terancam oleh media sosial dalam berbagai jenis siarannya, termasuk siaran keislaman. Saat ini sudah banyak dai dan ustaz berkualitas yang memanfaatkan YouTube, Facebook, Instagram dalam menyampaikan materi dakwahnya. Harusnya pihak televisi bisa mulai melirik ini dan melakukan seleksi.

"Pihak televisi juga harusnya punya tanggung jawab dalam mengajari masyarakat tentang Islam. Caranya ya melalui seleksi yang ketat terhadap ustaz atau dai yang ditampilkan di acara-acaranya," pungkasnya.

Uji kompetensi dai

Syarif Hidayatullah menyebut bahwa kejadian memalukan ini menambah daftar panjang masalah-masalah yang ditimbulkan oleh para dai yang berdakwah di televisi.

Sebelumnya ada ustaz muda yang menyebut ada "pesta seks" di surga, juga ustaz-ustaz televisi yang lebih mirip pelawak daripada sebagai ustaz, dan soal dai yang mematok tarif.

"Masyarakat sudah mulai resah. Karena dai yang ditampilkan di televisi tidak sesuai harapan. Lalu, ada kesan, menjadi dai itu gampang. Asal bisa ngomong, asal bisa melucu, asal terkenal, atau asal cakep," jelas Syarif.

Hal itu menjadi keprihatinan dan konsen ADDAI. Ia tidak ingin profesi dakwah kehilangan fungsi kesakralannya sebagai corong kalam Ilahi dan sabda Nabi.

"Seharusnya seorang dai, apalagi yang tampil di televisi, harus memenuhi persyaratan dasar sebagai dai. Seperti bacaan Alqurannya bagus, mengerti ilmu-ilmu keislaman, dan paham bahasa Arab. Selebihnya, memiliki akhlak dan paham fiqhud-da'wah," katanya. 

Lantaran prihatin dengan kondisi dunia dakwah, terutama di televisi, syarif mengatakan, "ADDAI dalam waktu dekat akan bekerja sama dengan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah, akan mengadakan uji kompetensi dai."

Menurut Syarif, uji kompetensi dai ini sudah mendesak dilakukan. Syarif mengaku banyak mendapat keluhan dari masyarakat soal kualitas dai-dai di televisi. Tidak hanya masyarakat, para dai, ulama, dan akademisi, juga mengeluhkan hal yang sama.

"Karenanya, uji kompetensi dai perlu segera dilakukan. Dari hasil uji kompetensi dai itu, seseorang akan diketahui kelayakannya sebagai dai. Mungkin nanti akan diberikan sertifikat yang harapannya nanti bisa diakui semacam SIM dalam berdakwah," pungkas ustaz yang juga Direktur Pusat Penerjemahan Alquran dan Hadis ini.

Pemerintah kenakan pajak barang tak berwujud tahun depan
Harapan Sri Sultan HB X ke advokat
Pinisi yang jadi warisan Unesco
Dana parpol di DKI rawan timbulkan kecemburuan
Kerjasama industri tingkatkan daya saing SMK
Fetching news ...