Kelambanan Indonesia tangani stunting

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Kelambanan Indonesia tangani stunting

Indonesia saat ini masuk dalam negara ke-5 dengan jumlah angka stunting tertinggi di dunia, padahal masuk dalam negara G20. Sekitar 26 persen dari angka tersebut berada pada anak kelahiran antara 2007 hingga 2013.

Stunting adalah kondisi kekurangan gizi kronis yang menyebabkan gagal tumbuh dan gagal kognitif atau pemerolehan pengetahuan. Kemudian, stunting juga menyebabkan ganguan metabolism. Penanganan stunting ini dinilai lambat karena sejumlah faktor.

“Banyak kebijakan dan program yang dilaksanakan, tapi hasilnya belum terlihat karena masalah multidimensional yang tidak bisa dilihat dari aspek gizi saja. Aspek lingkungan dan pendidikan juga memiliki pengaruh penting,” terang Plt. Kepala LIPI, Bambang Subiyanto dalam Soft Launching Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) XI di LIPI Pusat Jakarta, Senin (29/1/2018).

Pemerintah harus menyelesaikan persoalan stunting untuk meningkatkan kualitas SDM, untuk berdaya saing di era kemajuan komunikasi dan teknologi. Kondisi daya saing Indonesia akan semakin berat karena selain stunting, sebanyak 60 persen SDM tenaga kerja masih berpendidikan SD dan SMP dan hanya 20 persen yang berlatar belakang pendidikan tinggi.

Menurut Bambang, persoalan stunting tidak hanya terjadi pada keluarga dengan pendapatan minim saja, namun juga keluarga menengah ke atas. Hal ini karena pola perilaku asuh dan makanan anak yang diserahkan kepada asisten rumah tangga, sehingga kurang terkontrol dengan baik.

Sementara itu, Tri Nuke Pudjiastuti, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) LIPI yang juga Ketua Tim Pakar WNPG XI menuturkan hal serupa, permasalahan stunting sangat multidimensional sehingga tidak bisa dilihat pada satu sisi semata. “1.000 hari pertama di awal kehidupan sangat penting untuk menjadi perhatian pemerintah agar persoalan stunting bisa teratasi,” katanya.

Strategi meningkatkan standar pangan

Nuke menyatakan pemerintah perlu menyusun berbagai macam strategi untuk meningkatkan standar pangan dan gizi masyarakat, yakni strategi pelayanan gizi yang efektif, aksesibilitas pangan yang beragam, peningkatan kualitas hidup bersih dan sehat. “Selain itu, sangat diperlukan koordinasi yang tepat antara pemangku kepentingan pusat dan lokal terkait kebijakan pangan dan gizi,” terangnya.

Di sisi lain, Nuke harapkan, rekomendasi strategis WNPG XI dapat dimanfaatkan untuk mengukur indikator keberhasilan penurunan tingkat stunting. “Kita dalam posisi yang terkait satu sama lain dan yang terpenting adalah bagaimana kita mampu saling mengisi dengan keahlian dan kebijakan yang dimiliki untuk menurunkan angka kekurangan gizi yang menyebabkan stunting,” tutur Nuke.

Melalui WNPG XI, Mego Pinandito, Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI juga Ketua Panitia WNPG XI menuturkan, LIPI berupaya mendorong diseminasi hasil-hasil penelitian LIPI terkait pangan dan gizi supaya mampu tersambung ke industri dengan baik dan dapat dimanfaatkan oleh pemerintah. Kemudian, WNPG XI juga mengajak masyarakat untuk memahami pangan dan gizi secara baik, serta seluruh pihak terkait untuk berkoordinasi secara sinergis dalam upaya mengurangi angka stunting di Indonesia.

Secara khusus, LIPI ingin mengimplementasikan peran iptek untuk meningkatkan pelayanan gizi masyarakat, aksesibilitas pangan yang beragam, penjaminan keamanan dan mutu pangan, perilaku hidup bersih dan sehat, dan pembangunan pangan dan gizi.

Nuke menjelaskan, setidaknya ada enam rumusan strategis yang diharapkan menjadi luaran dari WNPG XI, yaitu:

1. Penyempurnaan standar kebutuhan gizi dan acuan label gizi.

2. Penyusunan strategi pelayanan gizi yang lebih efektif.

3. Penyusunan strategi peningkatan aksesibilitas pangan yang beragam.

4. Penyusunan strategi peningkatan penjaminan keamanan dan mutu pangan.

5. Penyusunan strategi peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat.

6. Penyusunan strategi koordinasi antar pemangku kepentingan dari tingkat pusat hingga lokal.

Untuk diketahui, WNPG merupakan kegiatan yang rutin digelar setiap empat tahun sekali dengan luaran rekomendasi ilmiah bagi pemerintah dan stakeholders terkait lainnya. Penyelenggaraan WNPG 2018 merupakan hasil kerja sama antara LIPI dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas), Kementerian Kesehatan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertanian, Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), Badan Standardisasi Nasional (BSN), dan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Racun kemesraan dalam pernikahan
Demokrat upayakan Jokowi tak lawan kotak kosong
PKS minta kader belajar dari kemenangan Erdogan
Usir jerawat dengan kulit semangka
Gerindra daftarkan mantan koruptor di Pileg 2019
Ngabalin jadi komisaris Angkasa Pura, Fadli: BUMN amburadul
Bumi Manusia bukan sekadar cinta Minke dan Annelies
Politisi berbondong-bondong ke NasDem, ada apa?
Politisi terima uang transfer untuk pindah partai harus lapor KPK
Riza Chalid penampakan di acara NasDem, sudah aman?
Golkar ngotot daftarkan caleg mantan napi korupsi
Nikmati empat hari Festival Bunaken
Film ’22 Menit’ hadir di Anugrah Jurnalistik Polri 2018
Etika politik dan pindah partai
Dukung pilkada damai, Polri gelar Anugrah Jurnalistik 2018
Fetching news ...